Dua Tahun Dua Bulan

Catatan Buari

Pada suatu hari.
Tepatnya 10 Maret 2020 lalu.

Hadirlah seorang Dahlan Iskan di kantor Malang Post.

Post pakai huruf T. Media cetak berupa koran yang kini cetak seminggu tiga kali.

Dahlan Iskan datang dalam rangka ‘mampir’ di kantor dengan gedung lima ruko itu.

Bukan tujuan utama datang ke kantor yang kini jadi ‘kenangan’ hampir 100 persen karyawannya.

Hanya transit. Namun saat itu kami ‘acarakan’. Meski sebentar, ada dialog di ruang rapat kantor yang terbilang mewah.

Sebenarnya bukan sekali Dahlan ke Malang untuk ‘nyambangi’. Tapi ini adalah kali terakhir kami bertemu di ruang rapat yang dingin tersebut.

Menurut saya, pertemuan terasa istimewa. Ya setidaknya bagi saya, yang saat itu terlibat berdialog, dan juga sempat mendapat pertanyaan langsung dari pemilik Disway ini.

Ada dua pertanyaan penting yang sempat saya catat.

Pertama, umur koran berapa tahun lagi?
Kedua, mau bertahan berapa lama di media?

Pertanyaan yang tak kami duga sebelumnya. Dan tentu tak mudah menjawabnya.

Beragam jawaban. Terutama perihal bertahan di media yang ditanyakan pada sebagian besar orang di ruang rapat itu.

Saya sendiri menjawab bertahan di media, selamanya. Ya selama tidak dipecat.

Jawaban saya ini seperti menjadi janji jiwa. Sejenis merek kopi kekinian.

Saya yakin, pertanyaan itu gak ada hubungannya dengan kondisi koran yang kini lagi ‘pecah kongsi’.

Tapi mungkin founder harian Disway itu memang weruh sak durunge winarah. Ya bisa saja begitu.

Pilihan yang muncul, bertahan di media atau tidak.

Maka, mungkin karena itu juga, lahir New Malang Pos. Pos tanpa T. Media cetak juga. Koran dengan tagline ‘Asli Korane Arek Malang’. Terbit tiap hari.

Tetap bertahan di media. Cetak koran baru. Keluar dari Malang Post untuk New Malang Pos.

Koran baru dengan manajemen lama yang sudah jalan. Dengan formasi lengkap. Langsung tancap gas.

“Di Amerika koran bisa eksis, tambah bagus, buat koran bermutu, korannya bagus-bagus, jadi ingin baca semua,” ungkap Dahlan Iskan saat itu.

Seolah ingin membesarkan hati para pengelola koran.

Tetap ada koran. Tidak mati. Bahkan sekarang lahir koran baru.

Disebutkannya lagi, jurnalistik koran memiliki kasta tertinggi.

Dibandingkan online, maupun jurnalistik untuk media lainnya.

Maka wartawan koran harus lebih percaya diri.

Meski kata orang, koran bakal tergerus online, buktinya lahir koran baru.

New Malang Pos.

Termasuk kini ada juga harian Disway. Yang katanya bukan koran. Tapi masuk kategori media cetak.

Persoalan jumlah oplah, minat baca koran, readership dan angka iklan, itu urusan lain.

Penting eksis. Koran tetap hadir dengan segala dinamikanya.

Bagaimana online?

Media online idealnya sebagai pelengkap. Tapi bukan pelengkap penderita.

Online bisa mandiri, seperti perusahaan media online yang sudah terbukti sukses itu.

Hanya saja ‘tambang emas’ media online memang belum terlihat menjanjikan.

Rasanya perlu diselami lebih dalam, menemukan model bisnis yang pas untuk media online.

Tentu selain perlu modal besar juga. Layaknya bisnis yang lain.

Artinya dengan modal kecil, tidak bisa serta merta panen besar.

Belum lagi ujian berat di tahun-tahun pertama dalam berbinis.

Ini pernah saya tulis sebelumnya. Usai Malangpostonline.com memperingati HUT ke-2, pada 2 Mei 2020 lalu.

Bahwa 80 persen bisnis gagal di tahun ke-3.

Ini mengacu penelitian dari Universitas Tennessee pada tahun 2013, mengatakan bahwa 25% bisnis gagal setelah 1 tahun, kemudian berlanjut 35% setelah tahun kedua.

Kegagalan ini lebih besar lagi ditahun ketiga, yaitu 44%. Artinya jika ada 10 bisnis, hanya akan ada 2-3 bisnis saja yang akan bertahan setelah tahun ketiga.

Berdasar referensi yang saya baca, ada beberapa alasan utama penyebab banyaknya bisnis yang gagal.

Diantaranya ketidakcakapan, manajemen yang buruk, kurang pengalaman mengenai distribusi dan terakhir adanya kelalaian, penipuan dan bencana.

Dan ternyata, Malangpostonline.com dengan terpaksa tak mampu melewati tahun ketiganya.

Ya, harus dimatikan.

Pimpinan New Malang Pos sebagai pemilik Malangpostonline.com memutuskan demikian.

Mengindari gugatan karena ada unsur Post pakai T, maka pilihannya ditutup.

Sementara atau selamanya. Belum bisa dipastikan.

Untuk itu, saya mewakili manajemen Malangpostonline.com, dalam hal ini PT Malang Pos Siber mohon maaf.

Khususnya kepada pembaca setia Malangpostonline.com, serta relasi bisnis yang selama ini mensupport keberlangsungan web ini. Sekali lagi mohon maaf.

Ada rasa sedih dan kehilangan. Tapi inilah bisnis. Tak ada yang perlu disesali.

Dampak bencana ‘pecah kongsi’ harus diterima dengan lapang dada.

Saya ‘lulus’ lebih cepat dalam mengelola bisnis Malangpostonline.com.

Entah lulus dengan cum laude, atau tidak, bukan masalah.

Dalam waktu dua tahun dua bulan. Adalah pengalaman berharga dalam bermedia online. Alhamdulillah. (*)