Disiplin On Camera dan Awarding Words

Oleh: Diah Budiarti, S.Pd.. M.Pd.

Guru Bahasa Indonesia, SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School

Pandemi berhasil merumahkan mayoritas pembelajar di Indonesia dengan memberi kisah fenomena sosial pembelajaran daring yang cukup memprihatinkan. Beberapa bulan setelah virus Covid-19 ini berhasil merebak, pembelajaran tatap muka pun beralih ke dunia virtual. Tak heran, rasa sedih yang dialami mayoritas guru salah satunya karena banyak siswa yang mendadak lambat laun menjadi gaib. Mereka istikamah untuk sering tidak on camera selama proses pembelajaran berlangsung.

Fenomena ini sebenarnya terjadi karena banyak faktor. Terlepas dari berbagai faktor siswa mengapa tidak bisa menyalakan kamera tersebut, leterbatasan guru untuk bisa mengondisikan siswa memunculkan sebuah prasangka. Ketika siswa tidak on camera, guru merasa kurang dihargai. Padahal, ketika seluruh siswa diminta untuk berusaha on camera, mereka akan terdorong untuk menampakkan tampilan terbaik serta melatih percaya dirinya.

Kasus yang sering terjadi, beberapa siswa sering izin tidak bisa menyalakan kamera dikarenakan dapat ter-logout dari meet. Di sisi lain, ada juga konfirmasi bahwa perangkat yang sedang digunakan adalah komputer yang tidak memiliki webcam, sehingga ketika join meet untuk melakukan sinkronus, mereka dengan alasan ini tidak bisa on camera.

Beberapa kegaiban lainnya diduga dari percaya diri yang kurang ketika diri seseorang terlihat berantakan, belum mandi, dan dipaksa join tetapi sebenarnya tidur atau melakukan kesibukan lain seperti main game dan sebagainya di balik off cam. Guru sulit membedakan mana yang jujur dan tidak.

Kondisi generasi masa depan ini semakin miris dengan lunturnya nilai-nilai ketidakdisiplinan, ketidakjujuran, dan sikap menghargai guru sebagai mitra tutur. Ketika pembelajaran daring dalam keadaan off camera, guru sangat sulit membedakan fokus siswa dan meminta mereka untuk memperhatikan apa yang tengah dijelaskan guru. Kadang, alasan mereka off camera juga bisa dari faktor kelelahan sehingga tidak siap jika disorot mata kamera.

Komunikasi yang dilakukan dengan cara off camera dalam jaringan juga menghilangkan bahasa tubuh. Dalam hal ini antara lain gestur dan mimik. Hal ini mengharuskan guru berimajinasi untuk membayangkan apa yang sedang mereka kerjakan di balik layar. Para generasi-Z dengan keahlian multitasking-nya mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu.

Bisa jadi di balik layar mereka tidak sekadar belajar tetapi juga mengerjakan pekerjaan yang lain entah itu positif atau negatif. Sementara itu, dalam komunikasi daring juga siswa pasti akan fokus pada bahasa verbal. Terlepas dari gangguan koneksi yang membuat suara tidak dapat diterima dengan jelas dan sebagainya.

Rasa Terancam dan Tidak Nyaman

Seorang peneliti bernama Tabitha Moses yang mempelajari perilaku dan otak manusia menemukan bahwa kelas daring menimbulkan berbagai tantangan untuk siswa. Terutama jika siswa diminta untuk tampil memperlihatkan dirinya dan membiarkan kamera mereka menyala selama pembelajaran berlangsung.

Dijelaskan oleh Moses pula bahwa hal tersebut dapat menimbulkan rasa terancam dan tidak nyaman pada siswa. Siswa akan merasa semua orang seolah-olah sedang menontonnya dan mengganggu fokus belajar. Siswa akan fokus pada bagaimana penampilannya di depan orang lain. Ketidaknyamanan diperkuat oleh fakta bahwa wajah yang muncul di layar sering kali terlihat begitu besar dan dekat. Hal ini memicu respon tubuh yang berusaha melawan dan membuat siswa merasa gelisah.

Meskipun demikian, sebenarnya, ada banyak hal yang bisa dilakukan para guru untuk lebih menjawab tantangan tersebut. Karakter sosial belajar era pandemi perlu diasah agar para siswa termotivasi disiplin on camera dalam pembelajaran dan memiliki sikap kejujuran tinggi. Selain itu, dapat memudahkan guru untuk melakukan controlling ketika seluruh siswa bisa on camera.

Respect dan Daftar Kendala

Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain memberi iming-iming berupa penambahan skor nilai pada mapel yang bersangkutan. Hal ini dapat menggerakkan mereka untuk terdorong mengaktifkan kamera. Bila mereka masih belum tergerak untuk on camera, guru bisa sengaja menunjuk beberapa siswa yang tidak menyalakan kamera untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Guru harus bisa membangun rasa percaya diri siswa untuk lebih memahami dirinya dan terampil dalam menujukkan tampilan yang terbaik dari layarnya saat join meet.

Cara untuk membangun percaya diri siswa adalah dengan memberikan berbagai sikap respect hingga mereka memiliki kesan dihormati. Dengan nada bicara guru yang santun, dapat menjadikan siswa merasa aman dan nyaman selama proses pembelajaran. Selain itu, bahasa-bahasa pujian dapat diberikan sebagai bentuk apresiasi pada siswa.         Hati mereka bisa semakin merekah dengan awarding words yang diberikan oleh guru. Guru juga harus memberikan penjelasan pada siswa bahwa wajah cantik dan tampan itu tidak penting. Namun, kita lebih memotivasi pada nilai-nilai kerapian, memakai kemeja rapi, berkopyah jika itu siswa laki-laki muslim, tidak berambut gondrong, dan sudah mandi.

Guru membuat daftar keterangan berisi seluruh kendala mengapa mereka tidak bisa on camera, berapa lama, dan upaya apa yang akan mereka lakukan untuk bisa segera on camera dalam pembelajaran. Setelah mengidentifikasi, guru dapat berkolaborasi dengan siswa untuk mengurangi atau menghilangkan kendala tersebut.

Game Tebak Wajah

Cara berikutnya dapat memberikan game di awal pembelajaran selama beberapa menit yang mewajibkan semua siswa menyalakan kamera. Misalnya tebak wajah dan ekspresi atau saling mengamati antarteman dalam meet. Game yang diterapkan juga bisa berupa game-game isyarat yang tidak menggunakan bahasa verbal sehingga mau tidak mau mereka dipaksa untuk mengaktifkan kamera.

Guru harus dengan bijak menyikapi masalah siswa yang tidak bisa mengaktifkan kamera karena urgensi tertentu. Guru juga bisa memberikan hukuman edukatif kepada siswa untuk bisa memaksa mereka mau tidak mau harus menyalakan kamera. Misalnya melempar siswa yang malas on camera untuk menjawab pertanyaan, ataupun meminta siswa menjelaskan terkait materi.(*)