Cermat Memilih Kata Divaksin atau Divaksinasi

new malang pos
Mohamad Isnaini Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

NewMalangPos – Mulai maraknya penggunaan kata atau kalimat untuk “saya siap divaksin” atau “saya siap divaksinasi” menjadi perdebatan yang dianggap receh, namun ini patut untuk ditelaah lebih sistematis.

Mencermati dari KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) memberikan penjelasan tentang arti kata “divaksin atau divaksinasi.” Terkadang sebuah faktor kelaziman menjadikan kata tersebut dianggap sudah sangat benar walaupun sebenarnya ada kata yang lebih benar untuk digunakan yang sesuai ejaan dan KBBI. Terkadang disebut lazim karena sering didengarkan dan sering ditemukan. Akan tetapi, sebenarnya menjadi tidak lazim, jika dilihat dan dikaji berdasarkan ejaan bahasa Indonesia yang sesungguhnya.

Belakangan setelah penyuntikan vaksin pertama yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu, 13 Januari yang lalu, mulai banyak masyarakat yang membuat poster, selebaran, status media sosial, atau yang lainnya. Baik dari aplikasi tweebon yang tersedia di internet hingga mendesain khusus poster yang bertuliskan tentang kesiapan diri untuk divaksin atau divaksinasi.

Viral di media sosial sebagian besar masyarakat menuliskan “saya siap divaksin” dibandingkan kalimat “saya siap divaksinasi”. Jika merujuk KBBI, Vaksin memiliki arti produk biologis yang dapat menghasilkan imunitas spesifik untuk penyakit tertentu. Adapun Vaksinasi memiliki arti pemberian vaksin ke dalam tubuh untuk menghasilkan imunitas spesifik untuk penyakit tertentu. Sehingga idealnya yang digunakan adalah Saya Siap Divaksinasi.

Ketika sebagian besar masyarakat menggunakan kata divaksin menjadi hal ini lazim dan sah-sah saja, akan tetapi akan lebih sah kata divaksinasi karena isasi pada dasarnya memberikan penekanan. Masyarakat tinggal memilih dan memilah sesuai kebutuhan atau konteks kata tersebut. Tentunya menyesuaikan dengan yang seharusnya berdasarkan struktur yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, perlu lebih cermat lagi sebelum menentukan pilihan kata. Hanya dalam memilih kata terkadang akan menjadi kurang tepat jika salah penempatan dan tanpa mengambil landasan ejaan yang sesungguhnya. Menyesuaikannya kembali dengan konteks. Setiap bidang ilmu tentunya memiliki landasan, sebagaimana landasan dalam arti kata bahasa Indonesia yang seharusnya mengacu pada KBBI sesuai dengan ejaan yang telah disesuaikan.

Dalam KBBI, kata Vaksin dan Vaksinasi memiliki arti yang berbeda isasi di belakang. Bukan akhiran seperti analogi contoh, garam = produk yang menghasilkan rasa asin atau untuk mengawetkan bahan makanan. Adapun garamisasi = pemberian garam pada makanan atau bahan makanan agar terasa asin atau menjadi awet. Lalu jika kata digarami = diberi garam. Sedangkan satu kesatuan adaptasi bahasa menjadi satu kosa kata dasar.

Adapun pandangan lain yang perlu untuk diluruskan bahwa, memang betul kata vaksinasi berdiri sendiri (tanpa diawali di-). Contoh Aspal adalah kata benda. Kalau menjadi kata kerja, jalan diaspal bukan jalan diaspalisasi. Pada dasarnya kata aspalisasi kenyataannya memang ada, akan tetapi memiliki arti gerakan/proses pelapisan aspal pada jalan.

Jika kata vaksin dibandingkan dengan kata Aspal, maka aspal mempunyai hubungan beberapa makna sehingga bisa digunakan diaspal sesuai kata dasarnya. Kata vaksin selaras dengan kata Imun dan Imunisasi sehingga penggunaannyapun serupa seperti contoh diimunisasi bukan diimun.

Selain kata divaksin dan divaksinasi, pembahasan lain yang muncul di tweeter dan menyoalkan penempatan kata “di-” “di vaksin atau divaksin.” Penempatan untuk kata depan di yang seharusnya digabung atau yang harusnya dipisah. Pada sebuah berita online memberitakan tentang mantan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah yang mengoreksi Juru Bicara Presiden Joko Widodo (Jokowi) Fadjroel Rachman soal unggahan poster bertuliskan “Aku Siap di Vaksin” di akun Twitter @fadjroeL. Karena sebelumnya Fadjroel mengunggah poster dirinya bertuliskan “Aku Siap di Vaksin”

Dalam ejaan bahasa Indonsia bahwa kata depan -di yang dipisah adalah yang menunjukkan tempat dan waktu. Seperti di kampus atau di siang hari. Untuk sebaliknya yang tidak menunjukkan tempat dan waktu, maka harusnya digabung. Seperti dimakan atau disindir. Nampak sederhana tetapi terkadang hal sesederhana ini masih banyak yang tidak mengindahkannya.

Contoh lain dalam laporan, kesalahan mengenai penulisan di dan di- selalu terjadi. Frasa di samping, di dalam, di atas, ke dalam dan lain sebagainya. Sering kali ditulis sebagai kata karena penulisannya digandeng. Sebagai preposisi, di seharusnya ditulis terpisah. Sebaliknya, kata disusun, didukung, digabung, didata dan lain-lain.

Saatnya kembali ke hakikat cinta terhadap bahasa Indonesia artinya harus mengenal, memahami, mencintai, dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa yang baik artinya sesuai dengan kaidah EYD dan tata bahasa baku yang diberlakukan oleh bangsa Indonesia melalui Badan Bahasa RI (dulu disebut Pusat Bahasa) dan arti sebuah kata maupun kalimat tertuang dalam KBBI.

Kemudian penggunaan bahasa yang baik, artinya kita harus menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif sesuai dengan konteks sosial, agama, budaya, pendidikan, dan lingkungan di mana pun kita berada. Vaksin dan vaksinasi adalah kata yang memiliki arti tersendiri.(*)