Cerdas Berkarakter Menuju Generasi Emas

new malang pos
Indah Dwi Wahyuni, S.S. Guru SMKN 1 Batu

NewMalangPos “Peran guru tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi, akan tetapi guru yang tidak menguasai teknologi jelas akan tertinggal oleh guru yang menguasai teknologi.”

Ungkapan tersebut disampaikan oleh Ketua IGI (Ikatan Guru Indonesia) Muhammad Ramli Rahim dalam sambutannya membuka sebuah webinar beberapa waktu yang lalu. Sebuah kalimat yang singkat namun cukup untuk membangunkan kesadaran guru bahwa di era industri 4.0 ini, guru harus adaptif mengikuti perkembangan zaman.

Di zaman yang semakin kompetitif ini guru wajib memiliki keterampilan tidak hanya literasi lama yaitu membaca, menulis, dan matematika; akan tetapi juga literasi baru meliputi literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia. Literasi digital berhubungan dengan penggunaan alat komunikasi atau jaringan. Literasi teknologi berhubungan dengan aplikasi teknologi. Literasi manusia berhubungan dengan kemampuan komunikasi dan inovasi.

Sebagaimana teori Darwin yang mengatakan, “Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespon perubahan.” Dengan kemampuan literasi tersebut, seorang guru diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan di era industri 4.0.

TANTANGAN GURU DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Tantangan utama revolusi industri 4.0 adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam mengelaborasi ilmu pengetahuan, keterampilan hidup, dan penguasaan terhadap teknologi informasi. Kemampuan mengelaborasi tersebut bisa dilakukan melalui perbaikan pendidikan di negara ini.

Kualitas seorang guru akan menentukan kualitas peserta didik. Saat ini, seorang guru dituntut untuk menjadi pribadi yang tangguh. Guru harus melakukan banyak perubahan menuju pola pengajaran yang sesuai dengan generasi milenial. Guru harus mampu mengatasi setiap persoalan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugasnya.

Seberat dan sesulit apapun tantangan yang dihadapi, seorang guru tetap dituntut untuk profesional. Guru harus  mampu menyesuaikan kurikulum berbasis revolusi industri 4.0 untuk menyiapkan generasi yang akan berkecimpung di kehidupan berbasis teknologi.

Ada 4 jenis kompetensi yang wajib dimiliki guru di era  Industri 4.0 yang biasa disebut dengan 4 C. Yaitu Critical thinking (berpikir kritis), Collaboration (kolaborasi), Communication (komunikasi), dan  Creativity (kreativitas). Di samping itu kemampuan menyelesaikan masalah, membuat network dan wirausaha, akan menjadi poin plus bagi seorang guru.

URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER

Di era industri 4.0, membekali peserta didik dengan ilmu teknologi sangatlah penting. Akan tetapi menjadikan manusia berkarakter yang bijak menggunakan teknologi untuk kehidupan di masa mendatang jelas jauh lebih penting.

Menghasilkan peserta didik dengan nilai akademis yang tinggi memang tidak mudah, akan tetapi menghasilkan peserta didik dengan karakter yang bagus dan nilai akademis yang tinggi itu jauh lebih sulit. Diperlukan tauladan, kesadaran, ketegasan, dan kebiasaan yang baik untuk mewujudkannya.

Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didefinisikan sebagai gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Tujuan penguatan pendidikan karakter adalah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan; mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia; dan merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK.

Dengan uraian tersebut, kurikulum berbasis karakter diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya di bidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik, melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif dan efisien. Melalui pengembangan Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, diharapkan bangsa ini menjadi lebih bermartabat dan memiliki nilai lebih dibandingkan dengan bangsa lain sehingga kita bisa bersaing dan bersanding dengan negara-negara lain di dunia.

Beberapa karakter beserta contoh kegiatan di sekolah yang bisa diterapkan untuk menumbuhkan karakter peserta didik. Pertama, Integritas yang merupakan konsistensi tindakan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Integritas merupakan pondasi utama bagi seorang pemimpin. Kegiatan pramuka adalah contohnya.

Kedua, Mandiri. Dalam karakter ini peserta didik disiapkan mampu menyelesaikan masalah dan menghadapi tantangan kehidupan tanpa bergantung sepenuhnya kepada orang lain. Contoh kegiatan yang bisa dilakukan adalah perkemahan. Ketiga, Gotong royong. Ini adalah karakter yang menitik beratkan pada kerjasama. Bentuk kegiatan yang bisa dilakukan adalah Jum’at bersih.

Selanjutnya adalah Nasionalisme. Nasionalisme adalah sebuah sikap memiliki kesamaan kebudayaan, wilayah, dan tujuan untuk setia kepada bangsa sendiri. Contoh kegiatan untuk menumbuhkan nasionalisme di tingkat sekolah adalah upacara bendera. Yang terakhir adalah Religius. Ini merupakan perilaku seseorang dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.

Pembentukan karakter religius terhadap siswa ini tentu dapat dilakukan jika seluruh pihak tidak hanya sekolah tetapi juga peserta didik dan orang tua bersedia berpartisipasi aktif. Kegiatan yang bisa dilaksanakan untuk karakter tersebut adalah pembacaan tadarus wajib setiap pagi sebelum jam pelajaran sekolah dan pembiasaan salat berjamaah.

          Akhirnya, dengan segala tantangan yang ada, seorang guru harus mampu menjadi tauladan dan inspirator bagi peserta didik. Melalui penerapan pendidikan karakter dan penguasaan teknologi yang mumpuni, kita semua berharap para peserta didik di Indonesia mampu menjadi generasi cerdas berkarakter yang mampu bersaing di era industri 4.0.(*)