Banyak Dokter Gugur, Refleksi Kita Semua

NEW MALANG POS – Hampir tujuh purnama pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan hingga kini masih belum ada titik terang menuju kondisi normal. Kebijakan New Normal yang diganti istilahnya dengan Adaptasi Kebiasaan Baru pun masih belum mampu mengerem laju pertambahan pasien dan korban meninggal karena Covid. Bahkan tenaga medis sebagai garda depan yang terinfeksi ini semakin bertambah.

Terakhir terdata seorang dokter terbaik dr. Aman Teguh Pribadi anggota Ikatan Dokter Indonesia Malang Raya juga meninggal dunia setelah berjuang melawan virus yang fenomenal ini pada Rabu, 16 September 2020 pada pukul 23.50 di RS. Wava Husada Kepanjen Kabupaten Malang. Tercatat sudah 4 dokter dari Malang raya yang gugur karena terpapar Covid-19 ini.

Bertambahnya dokter yang meninggal karena Covid-19 ini menambah sejarah kekelaman kota Malang menjadi zona merah bahkan terancam menjadi zona hitam. Duka Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Malang Raya semakin dalam. Sebelumnya bulan Agustus lalu salah satu dokter terbaik, sekaligus dosen purna di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang juga gugur karena terpapar Covid-19.(newmalangpos.id (17/9/2020) dan BBC (15/9/2020)

Berdasarkan update data kematian dari PB Ikatan Dokter Indonesia terkini, dokter yang gugur diakibatkan oleh covid sampai hari ini, tercatat 116 orang dokter yang meninggal dunia. Terbanyak adalah dari Jawa Timur sebesar 30 dokter dan 4 di antaranya dari Malang Raya. Ketua Tim Mitigasi PB IDI, dr. Adib Khumaidi, SpOt menyampaikan jumlah dokter di Indonesia ini menempati urutan terendah kedua  di Asia Tenggara, yaitu 0,4  persen jumlah dokter dari 1.000 penduduk.(kompas, 13/9/2020)

Dari data yang dipaparkan oleh dr. Adib ini dapat diartikan bahwa di Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduk. Dr. Adib menyesalkan jika kita kehilangan dokter yang gugur karena Covid-19 karena akan mengakibatkan menurunnya kualitas pelayanan bagi rakyat Indonesia. Dokter adalah aset bangsa, investasi untuk menghasilkan seorang dokter yang baik juga sangat mahal.

Dokter Lelah dan Stres

Melihat kenyataan ini dapat dibayangkan bahwa betapa kalang kabut dan rumitnya para tenaga medis dan kesehatan dalam menangani kasus Covid-19 yang semakin hari semakin meningkat. Firdza Radiani, seorang inisiator spektrum sains dan ekosos Pandemic Talk (satgas data pandemic resmi yangg dihimpun Amnesty International) dalam wawancara Kompas (31/8) lalu, mengungkapkan, bahwa sejumlah penyebab meninggalnya para dokter itu disebut karena system dan kapasitas rumah sakit mulai penuh. Occupancy rate nasional berupa ketersediaan tempat tidur dan fasilitas belum dapat memenuhi kuota pasien Covid-19.

Selain itu occupancy rate prosentase jumlah pasien Covid-19 semakin hari semakin meningkat, sehingga mengakibatkan penuhnya jam kerja tenaga kesehatan termasuk dokter. Kerja tenaga Kesehatan overload, fasilitas kesehatan juga juga masih perlu banyak pembenahan dan peningkatan sesuai dengan occupancy rate masing-masing daerah.

Hal serupa disampaikan pula oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD bahwa banyak dokter yang lelah dan stres menangani kasus Covid-19 hingga akhirnya terkena Covid-19. Sekretaris Tim Audit dan Advokasi Kematian Dokter PB IDI, dr. Mahlil Ruby, MKes juga menegaskan bahwa para dokter bekerja dalam lingkungan risiko tinggi tertular Covid-19 yang mengakibatkan mereka stres dalam melayani pasien Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah. Otomatis kondisi ini menyebabkan turunnya imunitas tubuh dokter.(kompas.com (9/8/2020).

Menurut catatan Ikatan Dokter Indonesia, risiko yang menyebabkan kasus kematian dokter antara lain juga minimnya APD dan kurangnya skrining pasien di fasilitas kesehatan. Sebuah kasus yang selalu berulang di sepanjang pandemi ini.

          Operasi Yustisi Masker

          Upaya pemerintah daerah dalam melakukan pelonggaran pembatasan atau Adaptasi Kebiasaan Baru demi memulihkan kondisi perekonomian warganya menuai hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Jumlah pasien Covid-19 grafiknya semakin meningkat, meskipun sudah dengan gencar mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan.

          Kota Malang telah menerapkan operasi yustisi masker. Tanpa menunggu surat dari Pemprov Jatim, kota Malang menerapkan sanksi denda sebesar Rp 100.000,- dan sidang di tempat bagi semua pelanggar protokol kesehatan sejak Rabu, 16 September 2020. Siang dan malam operasi masker secara massif dilakukan di beberapa kawasan di Malang raya.

          Sebelumnya para pelanggar dikenai sanksi menyapu jalan dan menyanyikan lagu nasional. Upaya ini dilakukan agar masyarakat memiliki kesadaran diri untuk berperilaku sehat sesuai protokol kesehatan dan jumlah pasien yang terpapar Covid-19 semakin berkurang bahkan tidak ada lagi.

          Dengan demikian secara tidak langsung menekan juga kerja berat para dokter. Akan sia-sia jika dokter sudah menaati protokol kesehatan dengan APD lengkap dan melelahkan jika masih ada yang masih melanggarnya.

           Upaya pencegahan juga dilakukan oleh PB IDI dengan menghimbau pihak rumah sakit untuk memperbaiki manajemen. Rumah sakit-rumah sakit diminta untuk siaga dan memahami betul kasus pasien yang sedang ditangani, sehingga penanganan pasien yang terpapar tidak tercampur dengan pasien dengan diagnosa penyakit lain.

           Maraknya opini-opini publik yang menyoroti kasus ini membuat pihak rumah sakit harus berbenah dan menghindari kesalahan dalam penanganan pasien. Penanganan pada pasien membutuhkan ketelitian sehingga tidak salah diagnosa.

           Rumah sakit membutuhkan fasilitas pemeriksaan secara utuh pada pasien, mulai pemeriksaan awal, hasil wawancara dengan dokter hingga pemeriksaan laboratorium. Selain itu lagi-lagi pengadaan APD yang sesuai standar dan ketersediaan fasilitas kesehatan juga diharapkan menjadi perhatian. Safe bagi dokter, safe pula bagi pasien.

           Refleksi bagi Setiap Orang

           Melalui realita peningkatan pasien Covid-19 yang meninggal, terlebih jumlah dokter yang terpapar dan meninggal kita diharapkan untuk dapat merefleksi diri; sudahkah selama ini kita mematuhi protokol kesehatan dengan mengubah pola hidup yang sehat? Bagaimana jika yang terpapar virus ini adalah diri kita atau anggota keluarga kita? Dan bagaimana kalau jumlah dokter yang gugur karena Covid-19 semakin meningkat dan pasien semakin bertambah?

           Sebuah refleksi bagi kita semua agar tetap selalu waspada dan membangun kesadaran yang tinggi untuk menerapkan pola hidup sehat dan sesuai dengan protokol kesehatan. Meminimalisir klaster Covid-19 mulai dari keluarga, lingkungan sekitar, tempat kerja dan komunitas-komunitas yang kita ikuti. Salam semangat sehat!(*)