Ide dari Kolam Kosong, Omzetnya Sudah Tembus Rp 660,9 Juta

Ketua Pokdakan Krajan Slilir Sumilir Agung Sugiantoro memperlihatkan kolam ikan buatannya dan Karang Taruna Kelurahan Bakalankrajan Sukun Kota Malang yang dibuat dari hasil teknik bioflok. (Sisca Angelina-NMP)

Karang Taruna Bakalankrajan Inovator Kampung Nila Slilir

Sekelompok anak muda di Kelurahan Bakalankrajan Sukun Kota Malang membudidaya Ikan Nila Merah dengan cara bioflok. Dilakukan mulai Februari 2020. Saat pandemi Covid-19 sedang merajalela, mereka terus berusaha. Warga pun diberdayakan.

MALANG, NewMalangPos – Kini kampung di Kelurahan Bakalankrajan itu dikenal sebagai Kampung Nila Slilir. Kurang lebih 85 petani Ikan Nila ikut bergabung. Sebagian besar dari kalangan milenial. Sekitar 121 pelaku usaha menjadi langganan kolam buatan warga ini.

Setiap tiga hingga empat bulan bisa memanen sekitar 100 gram Ikan Nila Merah. Dan dari situ, pendapatannya mencapai Rp 1,8 juta per siklus panen kolam. Belum lama ini inovasi muda-mudi ini pun diakui di kancah nasional.

Ide ini berawal dari kegiatan Karang Taruna. Hal ini disampaikan Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Krajan Slilir Sumilir, Agung Sugiantoro. “Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Karang Taruna kampung Slilir kami termasuk sangat aktif menggelar bebagai macam kegiatan. Tapi saat ada Covid-19 melanda, kegiatan yang biasa rutin tak berjalan,” jelasnya.

Muncul inisiatif mencari kegiatan lain yang bermanfaat. Kemudian mereka melihat ada lahan kolam di Jalan Pelabuhan Tanjung Priok Kelurahan Bakalankrajan. Kolammya kosong tak terpakai. Dari situlah muncul ide dan mewujudkannya.

Saat itu ada lima petak kolam yang dibersihkan untuk dimanfatkan. Kemudian kelompok pemuda ini berkoordinasi dengan pemangku wilayah mulai dari RW hingga kelurahan. Tujuannya merealisasikan ide budidaya ikan.

“Hasilnya kami mendapat bantuan benih Ikan Nila Merah sebanyak 500 ekor. Kemudian kami tebar di kolam,” kata Agung. 

500 benih ikan yang diberikan pihak Kelurahan Bakalankrajan berhasil dan sukses dikembangbiakan. Agus dan rekan-rekannya kembali mendapat bantuan 1.000 benih Ikan Nila Merah. Langsung disebar ke kolam lain.

Atas keberhasilan itu para pemuda tersebut kemudian mencoba mengajak warga sekitar untuk memulai budidaya. Namun ada kendala yang muncul. Yakni pembiayaan pembuatan kolam yang cukup mahal apabila menggunakan beton.

“Kemudian kami berpikir mengubah kolam permanennya menjadi kolam buatan menggunakan terpal khusus. Setelah kami mencari referensi, hasilnya untuk kolam terpal yang paling cocok menggunakan bioflok,” tambahnya.

Bioflok merupakan teknologi budidaya ikan melalui rekayasa lingkungan. Teknologi ini mengandalkan pasokan oksigen pemanfaatan mikroorganisme yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

Sederhananya prinsip bioflok mengubah senyawa organik dan anorganik menjadi massa sludge (lumpur/lumut organik) berbentuk bioflok. Menurut Agung, teknik ini sangat efektif budidaya di lahan sempit. Karena benih yang ditebar juga bisa lebih banyak dibanding kolam konvensional.

“Setiap satu kubik air kalau di kolam bioflok bisa ditebar benih ikan hingga 100 ekor. Tetapi kalau kolam konvensional hanya kisaran 18-20 ekor saja. Airnya juga lebih awet dan bisa bertahan mulai awal tebar sampai panen. Juga tidak berbau dan ramah lingkungan,” papar Agung.

Selama satu tahun berjalan, budidaya Ikan Nila Merah kampung Slilir semakin meluas. Agung menyebut saat ini ada 58 kolam dari 37 petani yang ikut membudidayakan Ikan Nila Merah.

Masing-masing kolam menampung jumlah yang berbeda bergantung diameter kolam. Kolam diameter 2 meter mampu menampung hingga 350 ekor. Kemudian kolam diameter 3 meter bisa menampung 700 hingga 900 ekor. Sementara kolam berdiameter 4 meter bisa menampung antara 1.200 hingga 2.000 ekor.

“Panennya macam-macam sesuai kebutuhan. Tetapi standarnya ukuran sangkal atau sekitar 100 gram itu perlu kisaran waktu empat hingga lima bulan panen dihitung dari awal tebar benih,” kata dia.   

Selama ini proses pemasaran panenan Nila Merah hasil budidaya itu lebih banyak dilakukan secara mandiri. Mereka memanfaatkan platform media sosial untuk bisa menjual langsung ke pembeli ketimbang menjual ke tengkulak. Tak hanya itu saja, sebagai bagian dari Pokdakan, pihaknya juga siap membeli panenan dari petani jika mereka kesulitan memasarkan hasil panen.

“Tetapi kalau misal para petani bisa memasarkan sendiri, kami juga tidak menghalangi mereka,” kata Agung. 

Kesuksesan pemuda-pemuda ini kemudian didengar Pemkot Malang. Inovasi kembang biak Nila Merah diikutkan dalam ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) Mei 2021 lalu. Hasilnya inovasi Ikan Nila Merah ini masuk dalam 99 Inovasi Nasional.

Kemudian pada 8 Juli lalu, inovasi tersebut kembali diumumkan masuk dalam jajaran Top 45 Inovasi Nasional. Hingga saat ini diketahui omzet dari inovasi budidaya Ikan Nila Merah menembus 26,4 ton selama 2020 lalu dengan omzet sekitar Rp 660,9 juta. (Sisca Angelina/van)