Hari Santri Nasional 2021 Universitas Islam Malang Gali Mutiara Kitab Bidayatul Hidayah

PEMBUKAAN: Rektor Unisma Prof. Dr. H. Maskuri memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Mbalah Kitab Bidayatul Hidayah dalam rangka Hari Santri Nasional.

NEW MALANG POS, MALANG – Civitas akademika Universitas Islam Malang (Unisma) memperdalam mutiara hikmah di dalam Kitab Bidayatul Hidayah. Jalan menuju Hidayah.

Dibimbing langsung oleh tiga kiai dengan tiga perspektif yang berbeda. Yaitu Pengasuh Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang Dr. KH. Musta’in Syafi’i, MA, dengan tema Memperkokoh Keimanan Untuk Menjadi Generasi Emas. Pengasuh Ponpes Al-Amin Sarang Rembang Drs. KH. Fathurrohman,M.Ag, dengan tema Menjadi Generasi Yang Berkarakter Ulil Albab, dan Pengasuh Ponpes Al-Ghozali Tulungagung KH. Muhsin Ghozali, dengan tema Amalan Harian Untuk Menjadi Generasi Berkarakter.

Dari para ulama tersebut, civitas Unisma Mbalah Kitab Bidayatul Hidayah, dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Unisma, Selasa (19/10). Dilaksanakan secara daring dan luring. Acara pengajian dipandu dari Masjid Ainul Yaqin Unisma, dihadiri oleh Rektor dan Para Wakil Rektor Unisma.

Baca Juga :  SMAN 3 Malang Kembali Raih Predikat Sekolah Ramah Anak

Prof. Dr. H. Maskuri, Rektor Unisma mengatakan pengajian virtual tersebut dalam rangka untuk tholabul ilmi dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Khususnya nilai-nilai yang ada di Kitab Bidayatul Hidayah. “Nilai ajaran dalam kitab Bidayatul Hidayah merupakan mutiara yang luar biasa,” katanya.

Menurut Ketua Forum Rektor PTNU tersebut, tiga kajian Kitab Bidayatul Hidayah disampaikan dengan tiga perspektif yang saling melengkapi satu sama lain. Masing-masing disampaikan oleh tiga tokoh yang sangat familiar dengan Kutubut Turats atau Kitab Kuning. “Harapan kami kajian ini memberikan banyak pencerahan, khususnya untuk civitas akademika Unisma,” kata dia.

Ia menuturkan tiga materi yang disampaikan memiliki tema yang menarik. Tema pertama, memperkokoh keimanan untuk menjadi generasi emas, akan menjadi satu paparan bagus dari perspektif ilmu akhlak dan iman. Generasi emas merupakan satu impian Indonesia di tahun 2045. Salah satu yang menjadi perhatian adalah masalah keimanan.

Baca Juga :  LPI Sabilillah Gelar 1 Muharram 1443 H, Momentum Introspeksi Diri, Makin Optimis Hadapi Masa Depan

Karena di era disrupsi, era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, urusan duniawi seakan akan menjadi target utama. “Sehingga keimanan perlu menjadi prinsip-prinsip utama dalam kehidupan manusia,” ujarnya.

Melalui Kitab Bidayatul Hidayah, banyak pelajaran yang bisa digali tentang keimanan. Prof Maskuri menerangkan, separuh dari keimanan adalah kesabaran. Dan separuhnya lagi adalah syukur.

Sabar diwajibkan saat menerima ujian, dan syukur tidak hanya diungkapkan secara lisan. “Sabar yang terbaik adalah menjauhi larangan Allah. Syukur terbaik diamalkan dengan perbuatan dan bermuara dari hati tulus,” tegasnya.

Kitab Bidayatul Hidayah, merupakan karya Imam Ghozali. Cukup familiar di lingkungan Pesantren Ahlussunnah Wal Jamaah. Kitab ini memberikan satu landasan strategis yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia terkait dengan hubungan dengan Allah maupun hubungan sesama manusia.

Baca Juga :  Tingkatkan Mutu SDM Bumdes Tegalweru

Isinya sangat relevan dipelajari sepanjang masa, dan sangat tepat diajarkan pada generasi masa kini, sebagai satu landasan spiritual yang kokoh. “Generasi yang sabar dan senantiasa bersyukur, insyaallah akan mencapai generasi emas yang merupakan hasil integrasi antara nilai spiritualitas dan intelektualitas yang kokoh,” tuturnya.

Pria yang juga Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia ini menegaskan, generasi emas jangan sampai kehilangan kekuatan spiritual. Daya rasionalitas dan intelektualitas jangan sampai menguasai kehidupan. Rasionalitas tanpa didukung dengan spiritualitas yang kokoh akan menyebabkan generasi akan tercerabut dari akar kemanusiaan. “Perlu diketahui spiritualitas merupakan satu kekuatan yang dahsyat,” tandasnya. (adv/imm/udi)

artikel Pilihan