HARGA JAGUNG MELAMBUNG, PETERNAK LIMBUNG

Sutawi - Dosen Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang

NEW MALANG POS – Suroto ditangkap polisi ketika membentangkan poster meminta bantuan kepada Presiden Jokowi (Selasa, 7/9/2021) terkait tingginya harga jagung. Gara-gara poster tersebut, Suroto dan perwakilan peternak ayam dari berbagai daerah diundang Presiden Jokowi ke Istana Negara (Rabu, 15/9/2021).

Pada kesempatan tersebut, Presiden Jokowi berjanji menurunkan harga jagung menjadi Rp 4.500 per kg. Peternak ayam Blitar memang sangat berkepentingan terhadap harga jagung karena Blitar merupakan sentra populasi dan produksi telur Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Populasi ayam petelur di Jawa Timur tahun 2020 sebanyak 96,543 juta ekor (34 persen) dari populasi ayam petelur nasional 281,108 juta ekor dengan produksi telur mencapai 1.732.437 ton (32 persen) dari 5.044.395 ton produksi telur nasional. Kabupaten Blitar memberikan kontribusi terbesar yaitu 33 persen terhadap populasi dan 34 persen terhadap produksi tlur di Jawa Timur.

Dalam mengelola bisnis ayam petelur, peternak berada pada posisi terjepit antara biaya dan harga (farm cost-price squeeze). Biaya sarana produksi peternakan cenderung meningkat, sementara harga jual telur sangat berfluktuasi. Dalam struktur biaya produksi ayam petelur, biaya pakan memiliki peran 70 persen dalam perhitungan harga pokok produksi (HPP).

Komponen utama (sekitar 50 persen) pakan ayam adalah jagung. Harga jagung mengalami kenaikan harga sejak awal tahun 2021. Harga jagung yang semula Rp 4000-an per kg melejit menjadi Rp 6.000-7.000an per kg saat ini. Akibatnya, harga pakan pun melambung melampaui Rp 8.000 per kg.

Tingginya harga jagung disebabkan masih belum optimalnya produksi jagung di dalam negeri dan adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diduga berdampak pada kenaikan biaya logistik jagung antar daerah.

Baca Juga :  Menjaga Amanah Demokrasi Pilkada

Sementara itu, harga jagung dunia selama satu tahun terakhir juga mengalami kenaikan sebesar 90-100 persen dari USD 135 per ton pada Juli 2020 menjadi USD 260 per ton pada Juli 2021, bahkan sempat USD 272 per ton pada Juni 2021. Meski harga jagung naik, Kemendag memastikan tidak akan melakukan importasi jagung untuk kebutuhan pakan ternak. Pemerintah memilih melakukan substitusi jagung dengan gandum impor sebesar 300.000 ton.

Kenaikan harga pakan ternyata diperparah dengan fluktuasi harga telur yang cenderung menurun. Perbandingan ideal harga pakan dan harga telur adalah 1:3. Kalau harga pakan Rp 8.000 per kilogram, maka harga telur di kandang idealnya Rp 24.000 per kilogram. Harga telur di pasaran sempat mencapai level tertinggi sebesar Rp 25.000 per kilogram pada pertengahan April 2021, sedangkan harga terendah beberapa hari ini mencapai Rp 14.000-15.000 per kilogram.

Dengan harga serendah itu, peternak mengalami kerugian sekitar Rp 3.000-4.000 per kg. Harga tersebut jauh di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp 19.000-Rp 21.000 per kilogram, berdasarkan ketentuan Permendag Nomor 7 Tahun 2020. Ketimpangan antara HPP dan harga telur sudah terjadi sejak pemberlakuan PPKM yang terus diperpanjang.

Masalah harga pakan yang mahal merupakan pandemi berkala pada industri ayam ras yang tidak jelas solusinya. Harga pakan mahal hampir selalu disebabkan ketersediaan jagung dalam negeri yang tidak mampu memenuhi kebutuhan industri pakan. Diperkirakan lebih dari 55 persen kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk pakan, sedangkan untuk konsumsi pangan hanya sekitar 30 persen, dan selebihnya untuk kebutuhan industri dan bibit.

Baca Juga :  Influencer Bukan yang Tahu Segalanya

Peran jagung sudah berubah sebagai bahan pakan dibanding sebagai bahan pangan. Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) mencatat serapan jagung untuk pakan ternak pada 2020 mencapai 6,5 juta ton dan menghasilkan pakan ternak dengan volume total 14,85 juta ton. Artinya, kandungan jagung dalam pakan ternak mencapai 43,7 persen.

Kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak dipenuhi dari produksi nasional dan jagung impor. Produksi jagung nasional sebenarnya sudah mencapai tingkat swasembada dengan nilai SSR (Self Suffinciency Ratio) sebesar 98 persen. Nilai SSR tersebut berarti bahwa produksi jagung domestik telah mampu memenuhi 98 persen kebutuhan dalam negeri, sedangkan ketergantungan terhadap jagung impor hanya 2 persen.

Impor jagung tahun 2015-2019 dibatasi oleh pemerintah dengan tujuan produksi jagung dalam negeri dapat terserap oleh industri pakan. Impor jagung diperlukan jika produksi nasional kurang mencukupi untuk kebutuhan pabrik pakan. Volume impor jagung tahun 2016 menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 61,96 persen atau sebesar 1,33 juta ton dari tahun sebelumnya 3,50 juta ton dan tahun 2017 relatif rendah 46,34 persen atau sebesar 714,50 ribu ton.

Pada tahun 2018 dan 2019, volume impor jagung kembali meningkat sebesar 60,98 persen atau sebesar 1,15 juta ton dan 25,49 persen atau sebesar 293,21 ribu ton. Hingga bulan Juli 2020 impor mencapai 724,21 ribu ton atau masih rendah dari perode tahun 2019.

Baca Juga :  Memaknai Kontekstualitas Hijrah

Pada sisi konsumsi, penurunan harga telur tidak serta merta diikuti kenaikan permintaan dan konsumsi telur karena pendapatan masyarakat juga menurun selama pandemi Covid-19. Konsumsi telur penduduk Indonesia saat ini sebanyak 6,78 kg/kapita/tahun, lebih rendah dibandingkan Malaysia 17,9 kg, Singapura 17,7 kg, dan Thailand 12,4 kg.

Harga yang lebih mahal dan pendapatan penduduk yang lebih rendah menyebabkan konsumsi produk peternakan penduduk Indonesia lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga. Pengeluaran penduduk untuk konsumsi telur (dan susu) hanya Rp 32.435 per kapita sebulan (5,67 persen) dari pengeluaran untuk pangan Rp 572.551 sebulan, jauh di bawah pengeluaran untuk rokok Rp 70.537. Penurunan pendapatan mendorong penduduk mengutamakan konsumsi makanan pokok beras dan sumber protein nabati dan ikan yang lebih murah dibanding telur dan daging ayam.

Pandemi Covid-19 berpotensi menurunkan konsumsi telur dan daging ayam. Pertama, pengangguran meningkat. Pemerintah memperkirakan sebanyak 1,8-3,78 juta orang Indonesia akan jatuh miskin selama pandemi Covid-19. Peningkatan pengangguran menyebabkan penurunan pendapatan dan daya beli, ditambah gangguan rantai pasokan, pada gilirannya akan memberi tekanan pada kualitas dan kuantitas konsumsi telur dan daging ayam.

Kedua, selama pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun, perekonomian nasional yang mengalami kontraksi minus 2,09 persen. Penurunan 1 persen pertumbuhan ekonomi menyebabkan peningkatkan kemiskikan dan rawan pangan sebesar 1,6 persen dan 3,0 persen. Penyusutan ekonomi Indonesia menyebabkan jumlah penduduk miskin dan rawan pangan diperkirakan meningkat 6,9-9,9 persen.(*)

artikel Pilihan