Guru GRIT untuk Siswa yang GRIT

NewMalangPos – Selama pandemi ini, dunia pendidikan telah memiliki ritual baru dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak lagi dilaksanakan secara langsung dalam ruangan melainkan di rumah masing-masing dengan daring (dalam jaringan).

Beberapa sekolah menerapkan tatap muka atau sinkronus melalui aplikasi seperti zoom. Akan tetapi tidak sedikit pula sekolah yang hanya memberikan penugasan tanpa kegiata tata muka. Pemerintah memang telah mencanangkan pertemuan tatap muka (PTM) terbatas, akan tetapi hal tersebut tetap menyesuaikan perkembangan kondisi masing-masing daerah serta izin dari masing-masing orang tua siswa.

            Wajah baru KBM dengan daring telah menuai pro dan kontra orang tua. Mereka yang setuju dengan daring memiliki pertimbangan berat pada kesehatan dan keselamatan anak mereka. Sedangkan, mereka yang kontra merasa tidak sanggup mendampingi hingga mengondisikan anaknya untuk mau belajar.

            Anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia maya dan asyik sendiri dengan game atau media sosial. Anak-anak lebih tertarik dengan game dari pada mengerjakan tugas belajarnya. Tidak jarang orang tua yang telah menyerah dan pasrah dengan kondisi tersebut. Mereka hanya bisa membiarkan dan menerima keadaan anaknya seperti itu.

            Guru juga menghadapi tantangan baru selama pandemi ini. Guru butuh usaha keras untuk memastikan kegiatan belajar siswanya di rumah. Beberapa siswa dapat mengikuti KBM daring dengan baik, namun tidak sedikit yang sama sekali tidak hadir dan tidak memenuhi tugas belajarnya sama sekali. Orang tua dan anak mengeluhkan tugas-tugas sekolah yang dirasa sangat membebani.

Baca Juga :  Belajar Menyenangkan dengan Koran

            Ada kesalahpahaman tentang penugasan atau pekerjaan rumah (PR) yang diberikan oleh guru. Dalam setiap KBM guru selalu melakukan evaluasi, baik proses belajar maupun pencapaiannya. Selama daring guru mengemas evaluasi proses dan capaian belajar ini dengan pertanyaan atau penugasan-penugasan yang dipahami sebagai PR oleh kebanyakan orang tua dan siswa. Bahkan, dalam celotehan di status WhatsApp-nya  ada seorang siswa yang mengatakan “stop membebani kami dengan tugas-tugas.” Pada kenyataannya penugasan yang diberikan cukup sederhana namun terlihat begitu banyak karena tidak pernah dikerjakan.

            Fenomena menyentuh hati lain selama pandemi ini adalah siswa yang bertahan dengan kondisi belajar seperti ini bukanlah selalu siswa yang dulunya menunjukkan performa baik di kelas. Beberapa dari mereka justru siswa yang dulunya pendiam dan biasa-biasa saja di kelas.

Belum bisa disimpulkan penyebab siswa pintar tidak selalu hadir dalam sinkronus dan pengumpulan tugas. Akan tetapi, beberapa hal yang mungkin mendukung keberhasilan pembelajaran jarak jauh ini adalah semangat siswa belajar, dukungan dan perhatian orang tua dan guru, serta sistem kerja sekolah.

            Banyaknya siswa yang mogok belajar ini menurut saya menunjukkan adanya sesuatu yang sangat lemah dalam dunia pendidikan kita, yaitu motivasi belajar. Motivasi belajar adalah keinginan untuk terus meningkatkan kualitas diri dan hal ini dipengaruhi oleh diri sendiri dan lingkungan. Motivasi belajar yang berasal dari diri sendiri lebih kuat dari pada motivasi belajar yang berasal dari luar.

Baca Juga :  Menguber Buzzer

            Seorang anak yang memiliki motivasi belajar tinggi akan tetap mau belajar dalam kondisi apapun. Sebagai orang tua dan guru, kita memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk membuat anak punya motivasi diri yang tinggi.  

            Menurut Prof. Angela Duckworth, seorang psikolog di Universitas Pennsylvania, dalam bukunya Grit: The Power of Passion and Perseverence, kesuksesan seseorang sangat diperngaruhi oleh grit, bukan intelligence quotient (IQ), kecerdasan sosial bahkan fisik atau tingkat kesejahteraan seseorang.

            Grit adalah kegigihan seseorang untuk menggapai cita-citanya. Di dalam grit ada ketekunan dan kecenderungan seseorang untuk mewujudkan prestasinya yang ditempuh dalam waktu yang lama, tidak hanya satu atau dua bulan saja. Sebagai seorang guru dan orang tua, kita harus terus gigih mengupayakan agar anak-anak kita menjadi seseorang yang tekun dan pantang menyerah.

            Pendidikan adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berhenti. Seseorang yang memiliki kegigihan tinggi tidak akan mudah menyerah jika gagal. Mereka menganggap kegagalan hari ini tidak akan berlangsung selamanya. Mereka mampu bangkit dan berusaha lebih baik dari kegagalan mereka.

            Dalam situasi pandemi seperti ini, motivasi untuk bangkit dan beradaptasi sangat diperlukan. Pemahaman bahwa belajar harus dilakukan di sekolah dengan dijelaskan oleh guru harus diubah. Siswa harus dibangkitkan rasa keingintahuannya dan kebutuhannya akan ilmu pengetahuan. Mereka harus menjadi pribadi yang aktif dalam meningkatkan kemampuan diri, tidak lagi menunggu “disuapi” pelajaran dan informasi oleh guru.

Baca Juga :  Guru Wajib Mesra, Writing Race Bikin Ceria

            Merubah cara pandang siswa bahwa belajar bisa dilakukan dimana saja tidaklah mudah. Butuh konsistensi dan waktu yang lama untuk terus menyuarakan pentingya seseorang untuk terus belajar. Selain itu, diperlukan sinergi semua pihak terutama guru dan orang tua dalam menanamkan motivasi belajar yang baik.

Siswa harus memahami bahwa belajar, baik secara daring atau luring, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tekun. Jika mereka menemukan kesulitan dalam belajar mereka tahu bagaimana cara mengomunikasikan kesulitan tersebut.

            Kesuksesan guru bukanlah ketika siswanya berhasil menerima pelajaran hari itu dengan baik. Akan tetapi keberhasilan guru adalah jika siswanya mau belajar terus menerus walau tanpa diperintah oleh guru. Guru memiliki peranan yang besar dalam menanamkan sikap gigih dan tekun dalam belajar di hati siswanya.

            Kesadaran, cara dan ketrampilan belajar seorang siswa memang tidak dipelajari secara langsung akan tetapi dibiasakan dan terintegrasi pada setiap kegiatan belajar mengajar. Hal ini hendaknya menjadi perhatian lebih bagi dunia pendidikan, khusunya guru. Selain itu, orang tua juga memiliki peran yang sangat penting dalam menguatkan sikap ketekunan yang telah disemaikan di sekolah terlebih saat pandemi ini.(*)