Google Digugat Rp 71 Triliun Oleh Pengguna di Chrome

Ilustrasi Google. (FirmBee/Pixabay/CNN Indonesia)

NewMalangPos – Tiga pengguna menggugat class action atas pelacakan aktivitas pengguna dalam mode Incognito atau Incognito Mode Chrome. Kendati demikian, Google telah mengajukan banding ke pengadilan untuk membatalkan kasus tersebut, yang kemudian ditolak oleh hakim.

Melansir dari CNN Indonesia, Selasa (16/3), dalam gugatan yang diajukan pada bulan Juni 2020 itu, Google dituntut memberi ganti rugi hingga US$5 miliar atau Rp71,9 triliun (kurs Rp14.397). Jumlah itu merupakan akumulasi dari kemungkinan setiap pengguna menerima ganti rugi sebesar US$5 ribu atau sekitar Rp71,9 juta.

Baca Juga :  7 Makanan untuk Menghindari Kecemasan Berlebih

Dalam tuntutan itu, mereka mengatakan bahwa alat Google lain yang digunakan oleh situs web meneruskan informasi pribadi pengguna itu ke perusahaan sesaat setelah pengguna mematikan pelacakan data di browser. Pembuat petisi juga menuduh bahwa perusahaan tersebut terlibat dalam ‘bisnis pelacakan data’.

Juru bicara Google mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa perusahaan telah menjelaskan bahwa situs web yang pengguna kunjungi dapat mengumpulkan beberapa informasi meskipun Chrome tidak akan menyimpan aktivitas pengguna saat menjelajah dalam Mode Incognito.

“Kami sangat membantah klaim ini dan kami akan membela diri dengan keras melawannya. Mode Incognito di Chrome memberi Anda pilihan untuk menjelajahi internet tanpa menyimpan aktivitas ke browser atau perangkat Anda,” kata juru bicara Google.

Baca Juga :  Salah Kaprah Istilah Diabetes Kering dan Basah

Materi pada gugatan yang diajukan ke pengadilan federal di San Jose, California, AS, itu menyebutkan  bahwa Google mengumpulkan data melalui Google Analytics, Google Ad Manager, dan aplikasi lain serta plug in situs web, termasuk aplikasi ponsel cerdas, terlepas dari apakah pengguna mengklik iklan yang didukung Google.

Berbagai sistem itu membantu Google mempelajari tentang teman pengguna, hobi, makanan favorit, kebiasaan berbelanja, dan bahkan ‘hal memalukan’ yang pengguna telusuri secara online.

Google dinilai tidak dapat terus terlibat dalam pengumpulan data rahasia dan tidak sah dari hampir setiap orang AS dengan komputer atau telepon, kata pengaduan tersebut. (jps/dal/cnni/mg3/ggs/nmp