GML MILITAN PENGGERAK LITERASI

Indah Dwi Wahyuni, S.S. - Guru SMKN 1 Batu

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019.(tribunnews.com, 22/10/2021).

Dengan budaya baca yang rendah, tentu saja Indonesia pun dinilai rendah indeks literasinya. Hal tersebut menyebabkan Indonesia memliki daya saing yang rendah. Rendah SDM-nya, inovasinya, income per kapitanya, serta rendah pula rasio gizinya. Hal tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap indeks kesejahteraan warganya.

Menilik fakta di atas, sudah saatnya semua pihak, khususnya para pendidik untuk berkontribusi melakukan tindakan nyata. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi seorang Guru Motivator Literasi (GML). GML adalah sebuah gerakan yang dilakukan seorang pendidik untuk menggerakkan literasi di sekolah tempat dia mengajar. GML bisa menjadi jalan pintas untuk meratakan pengembangan literasi yang dimulai di tingkat sekolah.

GML adalah suatu usaha untuk mendukung peningkatan literasi yang berfokus pada warga sekolah untuk mendorong produktivitas karya. Fungsi dari GML sendiri sebagai penggerak terwujudnya karya warga sekolah yang dimulai dari guru, siswa, dan kepala sekolah.

Baca Juga :  Hagia Sophia dan Islamic Political Revival

GML menjadi salah satu upaya melahirkan guru-guru sebagai role model, menggerakkan, dan mengontrol proses kegiatan menghasilkan karya oleh seluruh warga sekolah guna mendorong tercapainya tujuan peningkatan literasi
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, Nadiem Makarim mengungkapkan, ‘’Bukan hanya dengan membaca materi lalu diuji, melainkan juga untuk menciptakan karya. Oleh karena itu saya mempunyai motto, kalau kita ingin melakukan transformasi pembelajaran di dalam suatu ruang kelas, maka harus banyak tanya, banyak coba, banyak karya.”

Hal tersebut semakin menguatkan bahwa produktivitas karya tulis di tingkat sekolah sangat didukung oleh pemerintah. Pertanyaannya kemudian, siapa yang terlibat dalam kegiatan ini? Tentu saja seluruh elemen warga sekolah mulai dari siswa, guru, kepala sekolah. Bahkan tidak menutup kemungkinan tenaga kependidikan di sekolah.

KARYA YANG DIHASILKAN
Pertama, untuk guru bisa dimulai dengan menulis buku antologi. Tema yang diambil bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada. Misalnya saja kumpulan artikel tentang model pembelajaran di masa pandemi. Bisa juga tentang tips dan trik mengatasi siswa bermasalah, atau tentang managemen kelas.

Kedua, untuk siswa bisa dimulai dengan menyusun buku antologi kumpulan puisi dengan tema tertentu. Misalnya tema tentang keluarga, teman, orang tua, atau guru. Topik sederhana ini bisa menjadi topik yang tidak memberatkan siswa. Ketiga, kepala sekolah. Pemimpin sekolah bisa menuliskan artikel tentang inovasi kepemimpinan yang inovatif dan kreatif.

Baca Juga :  Stunting Antara Kebijakan dan Local Knowledge

Jika karya buku antologi ber-ISBN berhasil diterbitkan, maka langkah selanjutnya adalah menyusun buku kolaborasi (2-4 penulis) atau bahkan buku solo. Contoh buku solo yang mudah dibuat adalah dengan mengkonversi karya Penelitian Tindakan kelas (PTK) yang lazim dimiliki oleh pendidik menjadi sebuah buku populer.

MENGAPA GML PENTING?
Dengan mengaktifkan kegiatan menulis di sebuah lembaga pendidikan maka akan ada banyak manfaat yang di dapat, khususnya untuk penulis sendiri. Pertama, lebih dikenal oleh orang lain. Dengan menerbitkan tulisan kita menjadi sebuah buku, karya kita akan dibaca oleh orang lain. Sehingga nama kita akan lebih mudah dikenal.

Kedua, Profit. Jika kita berhasil memasarkan buku-buku yang kita tulis, secara finansial akan menambah pundi-pundi rupiah. Ketiga, menjadi Inspirasi. Keberhasilan seorang penulis dalam menerbitkan buku yang beranfaat, secara tidak langsung akan menjadikan inspirasi bagi orang lain.

Keempat, meninggalkan Jejak Literasi. Menulis sejatinya adalah meninggalkan jejak literasi bagi penulisnya. Jika penulis telah tiada, seorang penulis akan mewariskan karyanya ke generasi-generasi berikutnya. Dan jika tulisan kita bermanfaat bagi pembacanya, hal tersebut merupakan ladang amal jariyah bagi penulisnya.

Kelima, menulis itu menyehatkan. Orang yang meluangkan waktu untuk menulis biasanya menuangkan pikiran dan perasaannya dalam bentuk tulisan. Hal tersebut bisa menadji sarana penurun stres. Keenam, untuk jenjang karier. Bagi pendidik khususnya ASN, kegiatan menulis bisa dimanfaatkan untuk kenaikan jenjang jabatan.

Baca Juga :  Pilkada Taruhan Nyawa

BAGAIMANA PENGIMPLEMENTASIANNYA?
Membiasakan hal yang baru biasanya akan menemui banyak kendala di lapangan. Untuk sekolah dengan tingkat literasi yang bagus, mensosialisasikan program menulis bukanlah sesuatu yang sulit. Akan tetapi bagi sekolah-sekolah kecil dimana warganya tidak terlalu peduli dengan literasi, hal tersebut jelas membutuhkn usaha yang tidak mudah.

Pembentukan klub literasi sekolah adalah salah satu usaha awal yang bisa dilakukan. Dengan target program kerja yang terarah, tujuan menggerakkan literasi sekolah akan lebih mudah dicapai.
Bila hal tersebut belum juga efektif, maka diperlukan tindakan kedua, yaitu gerilya. Berjuang menggerakkan lierasi sekolah secara sembunyi-sembunyi. Caranya dengan melakukan pendekatan personal kepada para peserta yang dibidik untuk menghasilkan karya.

Dengan adanya kegiatan GML yang diagendakan minimal satu tahun sekali, warga sekolah diharapkan lebih aktif berkarya dan produktif dalam menulis. Mengingat untuk bisa menulis harus rajin membaca, maka bisa dipastikan hal tersebut akan mendorong warga sekolah untuk aktif membaca. Harapan besar selanjutnya dengan GML-GML yang lahir dan muncul di setiap sekolah akan mendukung peningkatan literasi Indonesia di masa mendatang.

Akhirnya, dengan segala hambatan dan konsekuensi yang dihadapai oleh seorang GML, maka bisa dikatakan seorang penggerak literasi adalah seorang militan yang mengemban tugas memajukan literasi sekolah. Berjuang dari lingkup terkecil untuk menyukseskan program literasi nasional.(*)

artikel Pilihan