Mengenal Terapi Stem Cell, Ampuh Obati Pasien Covid-19 Lansia

Ilustrasi pasien Covid-19 lansia. (AP/Emilio Morenatti/CNN Indonesia)

NewMalangPos – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan sel punca (stem cell) yang sedang dikembangkan Universitas Indonesia (UI) berguna untuk terapi pasien COVID-19 kategori berat, termasuk orang tua atau lanjut usia (lansia).

“Saat ini statusnya sudah melakukan uji klinis dan diajukan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendapatkan izin pemanfaatan,” kata Bambang mengutip Antara.

Lantas bagaimana kerja sel punca untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 itu?

Dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (10/2), Ketua Konsorsium Sel Punca Prioritas Riset Nasional (PRN) Ismail Hadisoebroto Dilogo yang merupakan dokter spesialis ortopedi asal Universitas Indonesia (UI) mengatakan sel punca memiliki fungsi untuk melakukan reparasi atau perbaikan jaringan.

Baca Juga: Masjid Apung di Pacitan Hanyut Terbawa Arus Sungai Hingga ke Laut

“Sel punca diimplantasikan ke daerah sel yang rusak sehingga dapat melakukan proses untuk menggantikan sel yang rusak,” kata dokter Ismail.

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi Bambang Darwono menuturkan bukti klinis menunjukkan antara lain seorang perempuan berumur 60 tahun diberikan terapi sel punca, dan sembuh dari COVID-19 setelah 12 hari perawatan.

Kemudian, seorang anak laki-laki berusia dua tahun sembuh dari COVID-19 setelah diberikan terapi sel punca dan menjalani perawatan selama lima hari.

Setelah diberikan terapi sel punca, seorang pria berusia 65 tahun sembuh dari COVID-19 setelah 23 hari menjalani perawatan, dan seorang pria berusia 39 tahun sembuh dari COVID-19 setelah 17 hari perawatan.

Menurut Bambang, penggunaan sel punca dan eksosom dilakukan dengan cara penyuntikan melalui pembuluh darah vena. Sel punca dan eksosom masuk ke sirkulasi darah kecil menuju jantung kanan dan dipompa menuju paru sampai di alveolus.

“Eksosom berfungsi sebagai mediator komunikasi antar sel yang sangat penting untuk mengatur pertukaran protein dan material genetik antara donor dengan sel di sekitarnya sehingga mendorong perbaikan sel. Eksosom harus berasal dari sel punca mesenkimal yang sehat,” kata Bambang.

Sebelumnya, Menristek menuturkan dalam uji klinis, bisa dibuktikan bahwa sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cell) bermanfaat untuk pasien yang masuk kategori berat.

Baca Juga: Tebing Setinggi 5 Meter Longsor Tutup Jalan Antar Kecamatan di Trenggalek

Menurut dia, terapi dengan sel punca bisa melengkapi terapi yang sudah ada selama ini untuk perawatan pasien COVID-19 yakni terapi plasma konvalesen. Dari uji klinis tahap pertama, plasma konvalesen dinyatakan efektif untuk penderita COVID-19 kategori ringan sampai sedang.

“Jadi untuk yang berat barangkali stem cell, sedangkan untuk yang ringan ke sedang itu adalah plasma konvalesen,” ujarnya.

Bambang menuturkan riset dan pemanfaatan sel punca harus terus diperkuat sehingga lama kelamaan selain sudah dijamin keamanannya, yang paling penting juga adalah terjamin efektivitasnya.

“Artinya bisa meningkatkan tingkat kesembuhan dan paling penting menurunkan tingkat kematian dan ini adalah hal penting di dalam ‘treatment’ (perawatan) bagaimana caranya kesembuhan meningkat dengan mengurangi kematian secara signifikan,” tutur Bambang.(antara/DAL/cnni/nmp)