Memahami Makna Hujan Turun Kala Imlek Datang

NewMalangPos – Seperti sebuah urban legend atau mitos umum, kala hujan dikaitkan dengan hari raya Tahun Baru China atau Imlek. Sederhananya, hal tersebut dikaitkan dengan keberuntungan.

Seorang pakar Feng Shui Yulius Fang mengisahkan, hujan memang dianggap sebagai sesuatu yang harus disyukuri jika turun di awal musim semi, Tahun Baru dalam kalender Lunar, atau hari raya Imlek.

Ribuan tahun yang lalu, di dinasti pertama China, mayoritas masyarakat merupakan petani. Momen Tahun Baru kerap dijadikan momen syukur telah melewati musim dingin dengan baik.

Jika hujan turun di hari Imlek, kaum petani mempercayai bahwa hal tersebut adalah tanda kemakmuran panen setahun ke depan. Hujan di hari Imlek dimaknai start yang bagus dalam musim semi.

“Setiap hujan di awal tahun (Tahun Baru), diartikan sebagai sinyal ekonomi bagus di tahun tersebut,” ujar Yulius melansir dari CNNIndonesia, Jumat (12/2).

Namun, hal tersebut tak lagi begitu relevan dengan keadaan hari ini. Jika bicara pertanian, Yulius mengatakan sudah banyak teknologi yang bisa memanipulasi kebutuhan air di sektor pertanian.

Hujan sebagai simbol keberuntungan sifatnya adalah kepercayaan, dan tidak berlaku untuk semua kalangan. Kala itu (dinasti awal China), hal tersebut dipercaya petani.

“Hujan bawa hoki atau tidak, itu sifatnya belief kaum petani. Kalau pedagang? Kan kalau hujan justru jadi kasihan, susah dapat pembeli” tambah Yulius.

Nyatanya, hujan tak pasti turun di setiap wilayah saat imlek. Tepat di hari Imlek tahun ini, 12 Februari 2021, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan tidak turun di sejumlah wilayah di Indonesia, seperti Ternate, Kendari, dan Padang.

Namun, menjadi masuk akal jika hari Imlek selalu berpotensi hujan. Dalam kalender masehi, Imlek selalu jatuh pada bulan Januari dan Februari. Begitupun dengan prakiraan cuaca tahunan BMKG, yang selalu menyebut Januari dan Februari bagian dari musim hujan tahunan.

Hujan dari Kacamata Feng Shui

Jika dilihat dari kacamata Feng Shui, hujan memang dipercaya sebagai berkah penyeimbang alam. Hujan adalah penyeimbang sinar matahari dalam konsep kepercayaan Yin Yang.

“Hujan itu membantu sungai terisi, kemudian mengalirkan keberkahan untuk masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai” ujar Yulius.

Berdasarkan ilmu Feng Shui, hujan adalah energi air. Secara pemaknaan harfiah, “Feng” diartikan angin, dan “Shui” berarti air. Salah satu air yang dimaksud di dalamnya adalah air hujan yang mengisi sungai.

Dalam porsi yang berlebih, justru hujan bisa jadi energi negatif dan malapetaka. Hujan memicu banjir, dan juga kemurungan bagi sebagian orang.

“Kalau hujan terus-terusan juga kan jadi banjir, sawah rusak, orang jadi pesimistik dan gloomy, jadinya tidak lagi seimbang,” tuturnya.

Yulius juga mengamini bahwa di zaman sekarang hubungan hujan di hari Imlek tidak terlalu jadi soal. Untuk kadar yang pas layak disyukuri, karena kembali lagi bahwa pada dasarnya itu adalah kepercayaan kaum tani di masa lalu.(fjr)