Evergrande China Terancam Bangkrut Akibat Terlilit Utang Rp4.277 T

aksasa real-estate, Evergrande terlilit utang US$300 miliar dan terancam bangkrut.(AFP/NOEL CELIS/CNN Indonesia).

Jakarta, NewMalangPos – Perusahaan Evergrande saat ini tengah terlilit utang US$300 miliar atau setara dengan Rp4.277 triliun (asumsi kurs Rp14.256 per dolar AS) dan terancam akan mengalami kebangkrutan.

Raksasa real-estate asal China tersebut secara tidak langsung merasa tidak mampu untuk membayar utang.
Dilansir dari AFP, perusahaan mengakui sedang menghadapi kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, mereka tidak mau dikatakan bangkrut dan membantah hal tersebut.

Pasalnya, konglomerat China pemilik Evergrande sedang meyakinkan investor sekaligus berupaya menurunkan tumpukan utang yang besar.

Baca Juga :  China Kini Bolehkan Warga Punya Tiga Anak, Ini Alasannya

Pengembang yang terdaftar di Hong Kong ini telah memiliki utang untuk mendanai pertumbuhan properti beberapa tahun lalu. Kondisi perusahaan membuat dua lembaga pemeringkat kredit menurunkan status mereka.

Sementara itu, harga saham Evergrande jatuh di bawah harga listing pada 2009 lalu. Selain itu, ada laporan protes dari pembeli rumah di seluruh negeri yang mengkhawatirkan keamanan investasi mereka.

Aksi protes ini mendorong Evergrande untuk mencoba meredakan ketegangan.

Analis IG Prancis Alexandre Baradez mengatakan pasar tidak terkejut seperti yang terjadi pada Lehman Brothers, raksasa perbankan Amerika yang jatuh bangkrut pada 2008 dan memicu krisis keuangan global.

Baca Juga :  Amerika Serikat Catat Rekor 290 Ribu Kasus Covid-19 Sehari

“Lehman mengejutkan, bank dengan peringkat bagus yang menghilang dalam semalam,” kata Baradez kepada AFP.

Dengan kehadiran di lebih dari 280 kota, Evergrande adalah salah satu perusahaan swasta terbesar di Cina dan salah satu pengembang real estat terkemuka. Lumpuh dengan utang, perusahaan melihat sahamnya yang terdaftar di Hong Kong runtuh tahun ini karena meningkatnya kekhawatiran akan kesehatan keuangannya.

Pemerintah China tampaknya bertekad untuk mengendalikan situasi Evergrande, bahkan jika itu berarti memaksa perusahaan tersebut gulung tikar.

Pertanyaannya adalah bagaimana kemungkinan default utang akan ditangani oleh Beijing.

Baca Juga :  AS, China, dan Rusia Cekcok Bahas Pandemi di DK PBB

“Peluang default yang tidak teratur untuk Evergrande mungkin tidak terlalu tinggi karena kekacauan sosial yang dapat terjadi dari konsumen dan kehilangan nyawa,” catat Omotunde Lawal, kepala utang perusahaan pasar negara berkembang di perusahaan manajemen investasi Barings, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (15/9).
(age/agt/cnni/mg7/mg9/jon/nmp)

artikel Pilihan