Eksplore Gas Metan TPA ke 300 Rumah, Dicontohi 150 Daerah

INOVASI SAMPAH: Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Malang Renung Rubiyatadji memegang piagam penghargaan Top 25 Inovasi Pelayanan Publik dari Menteri PAN RB tahun 2015.((Foto: IRA RAVIKA/NMP)

Renung Rubiyatadji, Pejabat Spesial Pengolah Sampah Kabupaten Malang

Malang, NewMalangPosIni pejabat urusan sampah. Inovasi dan semangatnya bikin sampah bermanfaat. Yakni jadi gas metan. Itu pun dilakukan tanpa menggunakan anggaran miliaran rupiah. Itulah Renung Rubiyatadji. Modalnya hanya semangat dan kreativitas.

Renung Rubiyatadji merupakan PNS yang bekerja melampaui tugasnya. Ia bukan tipe birokrat belakang meja. Aktivitasnya berada di masyarakat. Apalagi sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Renung mengajak masyarakat mengelola sampah.

Salah satu karya kerja kerasnya yakni Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung di Kepanjen. TPA itu diubah jadi TPA Wisata Edukasi.  “Alhamdulillah, dulu sangat kumuh, tapi sekarang menjadi TPA Wisata Edukasi. Juga bermanfaat bagi masyarakat,” kata pria berkacamata ini.

Dari sampah yang terkumpul di TPA Talangagung, masyarakat mendapat manfaat. Sebab gas metan yang dihasilkan dari tumpukan sampah dimanfaatkan untuk bahan bakar. Warga yang tersebar di 300 rumah sekitar TPA itu mendapat pasokan aliran gas metan setiap hari selama  24 jam. 

Tak hanya bermanfaat bagi masyarakat. Inovasi pengelolaan sampah di TPA Talangagung direplikasi 150 daerah di Indonesia. “Karena pengelolaan sampahnya tak membutuhkan anggaran yang banyak. Kami tidak membutuhkan biaya miliaran rupiah, namun manfaatnya banyak dirasakan warga,’’ tambah Renung.

Kiprahnya membangun TPA Talangagung menjadi TPA Wisata Edukasi berawal ketika Renung menjabat Kepala Bidang Permukiman, Dinas Permukiman Kebersihan dan Pertamanan (DPKP) Kabupaten Malang tahun 2007 lalu. Renung mendapatkan tugas dari Bupati Malang yang saat itu dijabat Sujud Pribadi. Tugasnya membuat  tempat pengolahan sampah di pemukiman penduduk namun tanpa gesekan masyarakat.

Sebagai abdi negara Renung menerima tugas tersebut. Sekalipun usai mendapatkan perintah dia cukup bingung. Terlebih, mengelola sampah bukan sesuatu yang mudah. “Kalau mengelola sampahnya mungkin bukan hal sulit ya, tapi tidak menimbulkan gesekan dengan masyarakat, inilah yang sedikit susah,’’ katanya sambil tersenyum.

Baca Juga :  2021 Pembangunan KEK Singhasari Mulai Diseriusi

Tidak kurang akal, pria ramah inipun memanggil Kodri, Kasi Persampahan DPKP untuk diajak sharing terkait tugas yang diberikan. Dari Kodri inilah kemudian muncul nama Rudi Santoso. Rudi, warga Ngadirejo. Ketiganya kemudian sharing tentang pengelolaan sampah di TPA Talangagung.

“TPA Talangagung ini ada sejak tahun 1991. Menampung sampah hampir semua kecamatan yang ada di wilayah Malang Selatan. Saat itu (sampah) sudah menumpuk,’’ kenang dia. Setiap hari Renung mendatangi TPA Talangagung bersama dua rekannya yang lain. Mereka belajar secara otodidak, tanpa ada pendampingan sama sekali mengelola sampah. Bersama Kodri danRudi Santoso, dia mengatakan mengubah sistem pengolaan sampah yang awalnya open damping menjadi controlled landfill. Melalui system tersebut, sampah yang tadinya hanya benda kumuh dan menyebarkan bau, tapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

“Waktu itu kami bertiga mencoba menggunakan peralatan seadanya untuk mengambil gas metan dari tumpukan sampah menjadi bahan bakar,’’ kata Renung. Menggunakan pipa-pipa bekas, gas metan dari tumpukan sampah di  TPA Talangagung dialirkan ke kantor UPT Pengelolaan Sampah.

 “Setelah semua pipa dipasang, kemudian kami melakukan uji coba. Upaya itu berhasil, gas metan yang keluar bisa menjadi bahan bakar untuk memasak,’’ urai alumni ITS ini.

Namun demikian, Renung belum berani membeberkan karyanya itu. Sebaliknya dia mengundang para alumni dan mahasiswa ITS melakukan penilaian, sekaligus uji nyali. “Saya katakan uji nyali, karena pas makan siang  para tamu yang datang ini kami suguhi tempe metan. Disebut tempe methan karena dimasak dengan kompor berbahan bakar  gas metan dari tumpukan sampah TPA Talangagung,’’ tambahnya.

Dia mengatakan, tempe methan dan kopi metan menjadi branding Renung untuk mengenalkan TPA Talangagung kepada masyarakat. Dari kunjungan para alumni dan mahasiswa ITS inilah, Renung mendapatkan apresiasi.

Baca Juga :  Sengketa Merk, NMP Mohon Hakim Tolak Gugatan MP

Bahkan inovasinya mengelola sampah menjadi gas metan mendapatkan apresiasi dari Gubernur Jatim yang saat itu dijabat Soekarwo. Bahkan Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo membuat program Kampung Mandiri Energi. Kegiatannya diadakan di TPA Talangagung dengan peserta 2.500 orang.

“Kenapa diapresiasi Pakde Karwo yang tahu jawabannya. Tapi yang jelas saat itu Pakde Karwo bangga, lantaran di TPA Talangagung sampah dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi tanpa biaya besar,’’ katanya.

Renung memaparkan dalam mengelola sampah pihaknya tidak mengandalkan anggaran pemda. Kalaupun ada anggaran, hanya cukup untuk operasional di TPA saja. Sedangkan pengelolaan gas metan  dikelola langsung masyarakat.

“Ya kalau ditempat lain anggaran pengelolaan sampahnya sangat besar. Tapi di sini kecil sekali. Kami hanya membutuhkan pipa ukuran 6 dim, untuk menampung gas metan, yang kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga dengan pipa-pipa yang berukuran kecil,’’ tambahnya.

Dia mengatakan, awalnya hanya lima rumah saja yang mendapatkan aliran gas metan. Tapi seiring waktu, jumlah rumah yang mendapatkan aliran gas metan bertambah. Saat ini mencapai 300 sambungan rumah.

“Inovasi yang kami kembangkan ini, jadi profil TPA Talangagung. Dan profil ini juga yang setiap tahun ditampilkan untuk penilaian Adipura. Alhamdulillah, berkat profil tersebut, Kabupaten Malang meraih Adipura 11 kali berturut-turut sejak tahun 2008 sampai 2019 lalu,’’ tuturnya.

Sejatinya Kabupaten Malang kembali meraih piala Adipura di tahun 2020 lalu. Namun karena pandemi Covid-19 melanda, penganugerahan penghargaan bidang kebersihan dan pengelolaan kota ini ditiadakan.

Renung juga mengatakan di tahun 2014 inovasi pengelolaan sampah di TPA Talangagung masuk Sistem Informasi Inovasi Publik (Sinovik) untuk mengikuti Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik. Hasilnya TPA Talangagung  terpilih sebagai Top 25 Layanan Publik Tingkat Nasional tahun 2015. Penghargaan itu diberikan Menteri PAN RB yang saat itu dijabat Prof Dr Yuddy Chrisnandi ME.

Baca Juga :  Banyak Peminat, Pendaftaran Diperpanjang

Satu tahun berikutnya, Bupati Malang saat dijabar Rendra Kresnakembali diundang ke Jakarta guna penandatanganan MoU. Sehingga inovasi tersebut dapat direplikasi  daerah-daerah di seluruh Indonesia. Namun demikian, dalam MoU juga dituliskan bahwa daerah yang melakukan replikasi harus lebih baik dari Kabupaten Malang. 

Bukan itu saja keberhasilan di TPA Talangagung pun  kemudian oleh Renung diaplikasikan ke TPA lainnya di Kabupaten Malang. Yakni TPA Paras di Kecamatan Poncokusumo dan TPA Randuagung di Kecamatan Singosari.

“Yang menarik ini justru di Paras.Gas metan yang dihasilkan dialirkan ke rumah warga tidak dengan pipa paralon. Melainkan menggunakan bambu.Karena saat itu memang  tidak ada anggaran sama sekali. Sementara untuk penyaluran ke rumah warga, mereka swadaya pengadaan jaringan,’’ ungkap Renung.

Sementara di TPA Talangagung sendiri, lanjut Renung gas metan kini dikembangkan sebagai bahan bakar kendaraan. “Uji coba sudah kami lakukan pada mesin mobil Land Cruiser, dan berhasil. Ini terus kami kembangkan,’’ bebernya.

Seiring berjalannya waktu, Renung mengatakan tahun 2017 lalu inovasi pengelolaan sampah ini masuk  United Nations Public Service Awards (UNPSA). Tapi sayang kalah. Bukan inovasi pengelolaan sampahnya yang kalah. Tapi bidang kesehatannya.

UNPSA ini sama seperti Adipura. Tapi tingkat internasional. Indikator penilaiannya, selain kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah juga ada bidang kesehatan.  

Kekalahan itu tidak membuat Renung kecewa. Tapi dia semakin semangat mengelola sampah. Terbukti tahun 2018 lalu, Kabupaten Malang menang dalam program Waste-to-energy yang diadakan Kementrian PUPR. “Hasilnya, kami mendapatkan bantuan hibah berupa dua eskavator, satu bulldozer, empat truk sampah, dan lainnya,’’ katanya.

Dia pun terus semangat u mengembangkan inovasi pengelolaan sampah. Sekarang ada tantangan baru. Yakni  membangun Pembangkit Listrik Bertenaga Sampah (PLTS) di TPA Randuagung, Singosari. “Itu merupakan progran dari pusat. Jika memang terealisasi, kami siap mendukung,” pungkasnya. (ira ravika/van)