Dikontrak Galeri Seni di Shanghai, Selalu Ada Pesan Lingkungan

new malang pos
Gatot Pujiarto menunjukkan lukisannya bergaya mix media yang dipamerkan di Pear Lam Galleries Hongkong, tahun 2015 lalu.

Gatot Pujiarto, Pelukis Berbahan Kain Bekas yang Mendunia

IA seniman luar biasa. Menggunakan media kain bekas, karyanya dikoleksi di sejumlah negara. Begitulah jejak Gatot Pujiarto di dunia seni. Selain berkreativitas, jalur seni yang dipilihnya jadi sarana edukasi lingkungan.

NewMalangPos – Seniman kontemporer asal Malang ini bermodalkan kain bekas, kain perca, benang dan bahan tekstil lainnya. Dari kain tak terpakai,  ia membuat karya seni yang mendunia.

Sejak tahun 2015 lalu, Gatot menjadi seniman langganan Pear Lam Galleries. Sebuah galeri seni berbasis di Shanghai Cina. Setiap galeri ini membutuhkan, Gatot harus bekerja menghasilkan karya seni lukis berbahan kain perca dan kain bekas.

Ia dikontrak sejak tahun 2015 hingga sekarang  untuk mengisi koleksi Pear Lam Galleries. Puluhan karyanya dikoleksi Pear Lam Galleries kurang lebih enam tahun terakhir ini.

“Pear Lam Galleries punya tiga studio. Ada di Singapura, Hongkong dan Sanghai. Jadi saya memberikan karya untuk dipajang di tiga studio itu. Karena sudah dikontrak jadinya memang rutin,” jelas pria kelahiran tahun 1970 ini.

Dalam setahun, Gatot bisa mengirim tiga  sampai lima karya. Pernah juga dalam satu bulan diminta mengirim tiga karya sekaligus. Saat itu Pear Lam Galleries memiliki event di Istanbul, Turki dan Australia. Mereka meminta karya Gatot diikutkan dalam event tersebut.

Baca Juga :  Periksa Kontrak Calon TKW, Usut Dugaan Perbudakan dan Perdagangan Orang

Alumnus Jurusan Seni Rupa dan Desain IKIP Malang (Universitas Negeri Malang) ini juga sempat diundang ke Shanghai. Di sana ia hadir dalam pameran tunggalnya.

“Waktu itu sekitar tahun 2015-an saya dibikinkan pameran tunggal di Pear Lam Galleries. Jadi saya diminta ke sana,” ucap warga Landungsari ini.

Gatot menceritakan awal mula dikontrak Pear Lam Galleries. Bermula dirinya mengikuti sebuah event seni di Roma, Italia sekitar tahun 2014. Saat itu, sebuah galeri seni dari Australia mengadakan event ‘Indonesian Contemporary Art’.

Dalam event itu terdapat 12 seniman yang diajak terlibat. Terdiri dari seniman tari, musik, perupa hingga pelukis kontemprorer seperti dirinya. Karya-karya seniman asal Indonesia ini dipamerkan di salah satu museum terpopuler yakni Museo d’Arte Contemporanea di Roma, Italia.

“Nah ternyata salah satu kurator yang datang ke event itu merupakan salah satu direktur Pear Lam Galleries. Dia direktur yang di Singapura. Kemudian dia merekomendasikan saya karena melihat karya saya waktu itu di Roma. Nah dari situ akhirnya dikontrak,” cerita Gatot.

Apa sih yang membuat karya Gatot unik? Gatot memproduksi karya seni yang memang tidak biasa. Ia menggunakan bahan tekstil yang biasa dipakai dalam keseharian. Seperti kain, benang, baju hingga celana dan jenis pakain lainnya.

Baca Juga :  27 Warga Terpapar Korona, Tlekung PSBL 10 Hari

Bahan ini dipakai sepenuhnya sebagai media utama melukis. Jadi, Gatot tidak menggunakan bahan konvensional seperti cat minyak, cat air, kanvas, dan lainnya.

“Memang sampai sekarang banyak yang masih mendebatkan karya saya ini masuk jenis apa. Ada yang bilang ini mix-media dan ada juga yang bilang fiber art. Ada pula yang bilang ya ini lukisan karena ada spirit di dalamnya. Kalau saya dibilang apa saja ndak apa-apa saya yang penting berkarya,” urai pria yang pada tahun 2011 lalu ikut terlibat sebagai salah satu penampil dalam Indonesian Contemporary Fiber Art, Art One New Museum, Jakarta ini.

Idenya datang dari keluhan salah seorang kawan seniman lainnya. Saat itu kawannya nyeletuk  tidak bisa menghasilkan karya lukis karena bahannya habis atau kurang. Gatot sontak mengingatkan pada temannya tersebut. Ia mengatakan bahwa sebagai seniman, kekurangan bahan bukanlah halangan.

“Saya bilang, kamu itu kan seniman. Apa saja bisa kamu jadikan karya seni. Nah dari situ saya juga jadi mikir. Apa sih bahan yang selalu ada, yang unik dan bisa digunakan lagi. Ya saya pikir kenapa tidak baju sendiri? ya bahan-bahan tekstil. Akhirnya saya coba,” paparnya.

Mempelajari seni dari bahan tekstil ini membutuhkan tiga bulan belajar keras. Saat itu ia mempelajari teknik fiber art ini di Selasar Sunaryo Artspace di Bandung. Di sana ia mendapat pula banyak pendampingan dari senior-senior seniman.

Baca Juga :  Ini Alasan Manusia Tidak Bisa Berhenti Kepo ke Orang Lain

Sampai akhirnya karyanya dapat melambungkan namanya hingga ke kancah internasional sampai sekarang. Gatot mengakui ia ingin memberikan pesan khusus melalui karyanya. Utamanya isu lingkungan.

“Membuat karya saya seperti ini kan butuh banyak kain bekas, kain perca dan sebagainya. Saya ingin apa yang tidak digunakan bisa jadi bermanfaat. Ini pesannya. Terkadang saya juduli karya saya dengan judul mengangkat isu sosial,” kata Gatot.

Judul karyanya di antaranya  ‘Perdamaian Tercabik’, ‘Di balik Kegelapan Ada Titik Terang’ dan berbagai karya lainnya.

Pemilihan warna kain yang tepat membuat karyanya bak lukisan asli. Padahal jika dilihat dari dekat semuanya berbahan kain bekas. Gatot memang tidak bisa berdiam pada satu teknik saja. Setelah menggunakan bahan tekstil ia pun kini mencoba hal lain.

“Sekarang ini, di masa pandemi saya mencoba pakai media bahan lain. Ini lagi coba buat karya rupa pakai batu bara. Mau saya buat untuk mewakili isu pandemi Covid-19. Tapi memang belum jadi sih. Hanya saja kali ini saya mau buat yang beda lagi,” pungkasnya. (Sisca Angelina/van)