Didemo Soal Hak Karyawan, KFC Babak Belur Terdampak Pandemi

9
Foto: KFC (dikhy sasra/Detik News)

Jakarta, NewMalangPos – Kantor pusat PT Fast Food Indonesia Tbk selaku pemegang hak waralaba tunggal merek KFC Indonesia di MT Haryono baru-baru ini didemo karyawan yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI). Dalam aksinya, para pegawai menuntut penormalan nominal gaji karena upah mereka telah lama dipotong sepihak dan THR yang tak mereka diterima sebagaimana mestinya.

Mengutip laporan keuangan perusahaan yang disampaikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/4), dari awal tahun sampai September 2020, emiten berkode saham FAST ini mencatatkan kerugian. Terlebih, kerugian diperkirakan nyaris dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Yakni Rp 298,33 miliar jika dibandingkan dengan kerugian pada tahun 2019 yang hanya mencapai Rp 175,69 miliar.

Kerugian terjadi seiring dengan pendapatan yang juga terkoreksi cukup dalam dari sebesar Rp 5,01 triliun menjadi Rp 3,58 triliun (periode Januari-September 2019 dibanding 2020).

Melansir dari Detik Finance, Kamis (15/4), diketahui penurunan terjadi di semua sumber pendapatan KFC, mulai pendapatan dari makanan dan minuman turun dari Rp 4,93 triliun menjadi Rp 3,54 triliun. Kemudian disusul dengan pendapatan dari jualan konsinyasi CD yang turun dari Rp 68,8 miliar menjadi Rp 41,49 miliar. Dan dilanjutkan penurunan pendapatan dari jasa layanan antar dari Rp 5,49 miliar menjadi Rp 3,55 miliar.

Efisiensi dan Upaya KFC Untuk Bertahan

Selama periode itu, tampak perusahaan berupaya melakukan efisiensi salah satunya terlihat dari beban operasional gaji karyawan terlihat menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya. Beban gaji di segmen penjualan dan distribusi berkurang dari Rp 675 miliar menjadi Rp 671,7 miliar, demikian juga beban gaji di segmen umum dan administrasi berkurang dari Rp 269,58 miliar menjadi Rp 265,52 miliar.

Perseroan memang melaporkan adanya pengurangan karyawan tetap sepanjang periode tersebut, dari awalnya sebanyak 16.968 orang sampai akhir 2019, menjadi hanya 16.075 orang sampai 30 September 2020. Namun, tak dijelaskan pengurangan karyawan tetap apakah dengan PHK atau mengundurkan diri secara sukarela.

Tak hanya itu, gerai KFC pun berkurang dari 748 gerai menjadi 738 gerai atau berkurang sebanyak 10 gerai. Jumlah ini belum mewakili laporan terbaru hingga Desember 2020 sebab memang perusahaan belum menyampaikannya ke otoritas bursa.

Beban-beban operasional lainnya ada juga yang mengalami pengurangan, namun ada juga yang bertambah, sehingga total beban pokok penjualan perusahaan menjadi Rp 1,45 triliun dari Rp 1,87 triliun.

Di akhir laporannya, perusahaan tak memungkiri ikut terdampak dan mungkin akan terus terdampak oleh pandemi Covid-19.

“Dampak virus Covid-19 terhadap ekonomi global dan Indonesia berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi. Melemahkan daya beli pelanggan, dan kebijakan publik yang diberlakukan untuk menahan penyebaran Covid-19 mengakibatkan gangguan operasional, menyebabkan penurunan penjualan yang tidak diperkirakan sebelumnya,” tulis laporan keuangan FAST kepada BEI.

Perseroan tak menampik dampak pandemi itulah yang membuat perusahaan mengalami pertumbuhan penjualan yang negatif untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2020 dan mengalami kerugian bersih sebagaimana diungkapkan dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

“Menanggapi kondisi diatas, tindakan yang telah dan akan diambil oleh Manajemen diantaranya adalah pengurangan kegiatan pemasaran dan dukungan dana, promosi, pengurangan dan efisiensi biaya,” tambahnya.

Tingginya tingkat ketidakpastian karena hasil yang tidak terduga dari wabah virus Covid-19 tersebut, membuat perusahaan sulit memperkirakan masa depan keuangannya.

“Saat ini tidak praktis untuk mengungkapkan sejauh mana dampak masa depan yang mungkin terjadi dari asumsi atau sumber ketidakpastian estimasi lainnya pada akhir periode pelaporan,” imbuhnya. (ara/dtk/mg3/ley/nmp)