Demam Siniar

Sugeng Winarno Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

NEW MALANG POS – Siniar atau podcast banyak digandrungi masyarakat digital saat ini. Tak sekadar sebagai penikmat, banyak masyarakat yang aktif memroduksi konten lewat medium siniar ini.

Sejumlah instansi pemerintah dan swasta, sekolah, kampus, dan pribadi memanfaatkan siniar untuk berbagi informasi dan berkomunikasi dengan publiknya. Banyak juga yang menggunakan siniar sebagai peluang bisnis digital.

Era digital saat ini memang membuka peluang banyak orang berlomba membuat konten. Kebutuhan akan informasi yang tinggi di masyarakat membuka kesempatan banyak orang berlomba menyediakan informasi tersebut dalam beragam bentuk dan format. Era keterbukaan informasi juga mendukung atmosfir saling berbagi informasi berlangsung lebih terbuka dan masif.

Tuntutan akan keterbukaan informasi masyarakat perlu dijawab terutama oleh penyedia sumber-sumber informasi, lembaga dan pejabat publik. Beragam media bisa dimanfaatkan untuk keperluan ini, termasuk media berwujud siniar yang saat ini banyak diakses masyarakat seiring dengan aksesibilitas masyarakat pada teknologi komunikasi yang semakin meningkat.

Pada awal kemunculannya, siniar (podcast) hadir dalam bentuk audio. Namun pada perkembanggannya, siniar juga muncul dalam bentuk audio visual. Mengutip internationalpodcastday.com, istilah podcast pertama kali disebutkan oleh Ben Hammersley dalam artikelnya di surat kabar The Guardian tahun 2014. Podcast dari kata “Pod” yang diambil dari media pemutar audio digital iPod produk Apple. Sementara kata “Cast” dari kata broadcast atau siaran.

Merujuk KBBI, podcast sudah dipadankan dengan kata siniar yang berarti siaran berupa berita, musik, dan sebagainya yang dibuat dalam format digital baik audio maupun video yang dapat diunduh melalui internet. Begitu berpengaruhnya media ini hingga siniar punya Hari Siniar Internasional yang jatuh pada setiap tanggal 30 September.

Baca Juga :  Hari Pertama Kerja, Anggota Dewan Tes Urine dan Swab

Peluang Bisnis
Peluang bisnis siniar punya potensi yang prospektif dalam ekonomi digital. Keuntungan bisnis ini tak hanya bersumber dari pemasang iklan, namun melalui medium ini dapat digunakan sebagai sarana promosi digital yang ampuh. Tak hanya itu, sejumlah politisi, profesional, pendidik, dan siapapun bisa menggunakan siniar untuk mendukung pekerjaannya. Siniar juga telah digunakan untuk kepentingan membangun citra bagi personal maupun institusional.

Melalui siniar cukup ampuh menjadi sarana pemasaran model soft selling, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). Lewat promosi yang dikreasikan lewat siniar dapat menarik dan menjangkau khalayak yang lebih bervariasi dan luas termasuk dapat menyasar generasi milenial yang akrab dengan gadget. Ketepatan dalam membidik sasaran dan kesesuaian konten yang dibuat menjadi paduan yang penting dalam bisnis siniar agar bersinar.

Keuntungan bisnis dari siniar selain dari tarif iklan juga bisa bersumber dari kemitraan dengan platform penyedia distribusi siaran seperti Spotify, Apple Podcast, dan YouTube. Menurut data ResearchandMarket.com, diprediksi pada tahun 2028, pasar global siniar akan bernilai 94,88 miliar dolar Amerika Serikat. Angka ini menggambarkan bisnis siniar sangat menjanjikan di masa depan.

Permintaan (demand) pengguna media saat ini adalah orang ingin menyimak informasi tetapi waktunya terbatas. Dalam situasi seperti ini, siniar dapat menjawab permintaan tersebut dengan keunggulannya yang fleksibel. Seperti dikutip dari Podcastinsight, secara global, terhitung pada April 2021, terdapat lebih dari 2 juta siniar yang beredar dengan 48 juta lebih judul konten siniar.

Baca Juga :  Carut Marut Demokrasi di Tubuh Koalisi

Lahirnya para pembuat konten (content creator) lewat beragam platform medsos membuktikan ekonomi digital bidang ini berkembang pesat. Aneka aplikasi dan platform yang menjadi ruang berbagi informasi, pendidikan, dan hiburan tumbuh pesat terutama saat situasi pandemi. Kesempatan ini harus mampu dibaca dan ditangkap sebagai peluang bisnis bagi siapa saja yang tertarik menjawab tantangan bisnis digital saat ini.

Storytelling
Siniar adalah media alternatif yang didominasi oleh Gen Z dan milenial dengan rentang usia 18 sampai 34 tahun. Melihat karakteristik khalayak dominan media ini adalah kelompok orang yang budaya bacanya rendah terkalahkan oleh budaya dengar dan lihat. Untuk itu model siniar yang lebih menonjolkan pesan audio dan audio visual akan lebih pas menyasar kelompok penikmat media ini.

Konten siniar lebih tepat mengedepankan pesan yang lebih menonjolkan imajinasi pendengarnya. Untuk itu menuntut seorang penutur siniar harus mampu menyampaikan pesannya dengan kemampuan bercerita (storytelling) yang bagus. Jika informasi hanya ditulis, ekspresi, intonasi bicara, dan gerak tubuh penyampai pesan tak bisa dirasakan para audiens. Kelompok khalayak dengan rentang usia 18-34 tahun tak suka model pesan yang bersifat menggurui. Kelompok ini lebih bebas dan terbuka dalam menerima berbagai pandangan.

Kata kunci kebebasan dan keterbukaan yang melekat para audiens inilah yang menjadi resep jitu dalam membuat konten siniar yang berhasil menyita banyak pengguna. Keberagaman konten siniar juga menjadi daya tarik medium ini. Berdasarkan genre, tema berita dan politik menjadi tema yang banyak digemari secara global. Sementara di Indonesia genre siniar yang paling laku adalah tema komedi, budaya, seni, hiburan, cerita, gaya hidup, dan kesehatan.

Baca Juga :  Mengakar Kuat

Salah satu hal menarik dari siniar adalah karena bentuknya audio dan atau audio visual maka pendengar bisa menikmatinya sambil melakukan aktivitas yang lain. Informasi yang dibutuhkan pun bisa dipilih sesuai yang dikehendaki pengguna (on demand). Siniar saat ini dapat menggeser beragam konten yang disajikan di media sosial (medsos), seperti Facebook dan Instagram. Siniar mampu melayani konsumen terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan konten tanpa harus terlalu sering melihat layar.

Saat banyak orang dimanjakan dengan beragam fasilitas teknologi saat ini, orang dituntut mampu mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan (multitasking). Media siniar hadir dengan fleksibilitasnya dalam mengusung dan menyampaikan informasinya. Kekuatan siniar inilah yang menjadikan orang menggunakannya untuk mendukung tujuan komunikasinya termasuk guna keperluan bisnis.

Saat ini setidaknya terdapat 73,7 persen atau 202,6 juta orang di Indonesia yang mengakses internet setiap harinya. Masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di dunia maya sebanyak 8 jam 52 menit untuk mengakses internet. Sementara sebanyak 3 jam 14 menit dihabiskan warganet Indonesia untuk mengakses medsos. Angka ini tentu peluang yang sangat menjanjikan dalam kaitannya dengan bisnis digital. (*)

artikel Pilihan