Daun Berguguran Disulap Bernilai Ekonomis

34
new malang pos
Wahyu Ratnasari menunjukan daun yang telah diubah menjadi perhiasan menggunakan teknik electoforming.

Wahyu Ratnasari Perajin Populerkan Electroforming

NewMalangPos – Selembar daun bisa jadi barang bagus di tangan Wahyu Ratnasari. Bernilai ekonomis, bahkan jadi sarana mempopulerkan kekayaan tanaman Indonesia di luar negeri. Ia menggunakan teknik electroforming.

Bisa jadi masih banyak kalangan belum familiar dengan electroforming. Ini teknik mengubah objek apapun menjadi sebuah logam. Dedaunan yang mudah rapuh bisa dilogamkan dengan teknik electoforming. Itu salah satu contohnya. Caranya pun mudah.

Wahyu Ratnasari mengenalkan electoforming di masyarakat awam. Menurut warga Jalan Ikan Paus Kelurahan Tunjungsekar Kecamatan Lowokwaru Kota Malang ini, proses pelogaman daun dengan teknik electroforming cukup mudah. Pemilihan jenis daun bisa disesuaikan keinginan.

Melalui teknik electroforming, serat dedaunan tampak lebih artistik. Sehingga kian menarik dan lebih awet hingga bertahun-tahun. Dari sinilah daun yang berguguran dimanfaatkan. Disulap bernilai ekonomis.

“Untuk memunculkan serat daun, klorofil daun harus dilepaskan terlebih dahulu. Caranya dengan soda api atau direndam air selama seminggu. Kemudian dikeringkan dan diberi lem untuk mempertahankan kedudukan serat daun,” kata Ratna sapaan akrab Wahyu Ratnasari.

Setelah itu, serat daun diberi karbon sebagai penghantar listrik. Usai dilapisi karbon, kemudian serat daun dibersihkan dengan kuas halus. Tujuannya membersihkan serbuk-serbuk karbon. Selanjutnya daun dicelupkan ke cairan elektrolit dengan dialiri aliran listrik sebagai proses pelogaman.

Selama proses pelogaman, daun lalu disambung ke salah satu kabel travo dan kabel satu lagi disambung ke logam yang akan dijadikan sebagai pelapis daun, seperti tembaga, perak, kuningan hingga emas. Daun dan logam tersebut dicelupkan ke cairan elektrolit dengan dialiri arus listrik menggunakan travo.

“Kemudian kita tunggu satu hingga dua jam. Semakin lama perendaman akan semakin tebal lapisan logamnya. Tapi kalau terlalu tebal, serat daunnya gak kelihatan. Makanya kita harus memeriksanya sekali waktu. Ukuran besar kecil daun juga memengaruhi waktu pelapisan ini,” tuturnya.

Menurut Ratna, pewarnaan teknik electroforming akan mengikuti logam yang digunakan. Logam kuningan memberikan warna kuning pada daun, logam perak akan memberikan warna perak pada daun, logam tembaga memberikan warna keemasan pada daun. Sehingga secara umum objek terlapisi logam sesuai bentuknya.

Daun yang sudah dilogamkan ini dapat dirangkai sesuai kreasi. Seperti gelang, kalung, cincin, cup lampu, pigura, jam dinding hingga berbentuk wayang.

Ratna menekuni kerajinan electroforming setidaknya sudah tiga tahun terakhir. Sebelumnya ia pernah belajar teknik tersebut di Australia. Saat itu dia melihat electroforming hanya diaplikasikan untuk pewarnaan logam ke logam saja.

Oleh karenanya, dia kemudian mencoba hal baru dengan mengaplikasikan teknik electroforming ke bahan yang mudah ditemui dan tak memiliki nilai jual. Contohnya seperti daun. Dari percobaan yang dilakukan, ternyata menghasilkan sesuatu yang baru dan menarik.

“Saya tertarik dengan electroforming ini karena mudah, hasilnya artistik dan natural. Misal keartistikan daun kenanga itu kan tak ada di luar negeri, untuk itu kita ekspor daun itu setelah dilogamkan agar mereka juga bisa tau keindahan Indonesia,” ucapnya.

Dia pernah menemui pengalaman mengejutkan. Yakni ketika  melakukan proses perendaman daun dicairan elektrolit. Saat itu dia menjumpai laba-laba yang tak sengaja masuk kecairan elektrolit.

“Ceritanya kita nyelupin daun, ternyata ada laba-laba yang masuk. Paginya laba-laba itu sudah kaku dan terlapisi logam, sehingga tampak bagus. Ternyata, sebenarnya semua bisa dilogamkan, seperti hewan kecil itu bisa dilogamkan, tapi kasihan,” bebernya.

Ratna yang sebelumnya menggeluti usaha aksesoris perhiasan selama12 tahun terakhir, kemudian melebarkan sayap ke kerajinan berteknik electroforming. Hasil kreasinya pun diminati banyak orang. Hingga kemudian mengadakan pelatihan bersama Asosiasi Perajin Perhiasan Kota Malang (APPKM).

Potensi kerajinan electroforming cukup besar di Indonesia. Peminatnya pun juga banyak karena keunikannya dan masih jarang ditemui. Kerajinan ini sekarang menembus pasar internasional.

“Sebelum Covid-19 saya pernah membuat dalam bentuk wayang yang kemudian dikirim ke Osaka, Jepang. Jadi bahan daun ini diproses elektroforming kemudian kita bentuk menjadi wayang,” ujar perajin alumnus Universitas Brawijaya itu.

Ratna mengatakan pandemi Covid-19 berdampak pada usahanya. Yakni mengalami penurunan omzet. Namun sebelumnya dia pernah menghasilkan omzet hingga Rp 100 juta perbulan dari penjualan kerajinan itu.

“Bahan daun ini saya jual mulai Rp 20 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung ukuran dan bentuknya. Kalau bentuk seperti cup lampu atau yang lain bisa kita jual Rp 350 hingga Rp 500 ribu, tergantung desain,” pungkas Ratna. (ian/van)