Data Daerah Rawan Longsor

7
longsor batu
Wilayah rawan longsor seperti Jalur Payung Kota Batu butuh pemasangan EWS untuk peringatan dini bencana. (NMP/MUHAMMAD FIRMAN)

KOTA BATU, NewMalangPos – Kepala BMKG Prof. Ir. Dwikorita Karnawati PhD mengunjungi Pemkot Batu Rabu (14/4). Kunjungan tersebut dalam rangkaian peninjauan wilayah terdampak bencana gempa di Kabupaten Malang.

Dalam kunjungan yang disambut oleh Wali Kota Batu Dra. Dewanti Rumpoko M.Si tersebut, Dwikorita menyampaikan bahwa kedatangan rombongan adalah untuk survei dan tindak lanjut lapangan pasca gempa. Menurutnya langkah terbaik untuk mengatasi bencana adalah dengan melakukan mitigasi atau pencegahan.

“Pencegahan tersebut berupa pemetaan wilayah pantai, pemetaan mikrozonasi di wilayah terdampak gempa untuk rekomendasi bangunan, serta peringatan dini oleh Pemkot Batu melalui dinas terkait seperti BPBD, PUPR dan Dinas Perumahan,” bebernya.

 Untuk bangunan secara teknis, ia meminta agar gedung bangunan di Kota Batu memenuhi standar apabila terjadi gempa bumi. Dia menyarankan Pemkot Batu melalu Dinas Perumahan agar mendata dan mengecek gedung bangunan di Kota Batu.

“Bangunan bertingkat seperti hotel di Kota Batu harus sesuai standar untuk kekuatan. Kemudian juga dilakukan mitigasi bencana daerah rawan longsor. Serta memasang alat pendeteksi bencana (EWS) di daerah rawan longsor,” paparnya.

Ia juga meminta agar Pemkot Batu berkoordinasi dengan Pemkab Malang untuk jalan rawan longsor di Payung-Pujon-Ngantang-Kasembon dipasang EWS. Sehingga ketika akan terjadi longsor bisa terdeksi lebih dini.

Dengan adanya pemetaan tersebut, diharapnya mampu membantu masyarakat umum dan pemerintah mengetahui tentang peringatan dini. Serta ia meminta masyarakat untuk menginstal aplikasi info BMKG.

Sementara itu, Dewanti Rumpoko menyambut kedatangan rombongan BMKG. Ia menyampaikan Kota Batu tidak terlalu terdampak oleh gempa. Ia juga menyampaikan bahwa Kota Batu rentan akan bencana puting beliung, longsor dan kebakaran hutan.

“Selama terjadi gempa kemarin, untuk Kota Batu terdampak di sembilan titik. Bencana masuk dalam kategori ringan,” imbuhnya.

Ditambahkan oleh Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu terkait deteksi daerah rawan longsor. Pihaknya telah telah melakukan pemetaan dan tahun ini akan menganggarkan enam alat EWS.

Saat ini Kota Batu telah memiliki empat unit EWS. Sedangkan untuk kebutuhan 15 unit. Artinya BPBD masih membutuhkan sembilan alat pendeteksi longsor.

“Karena itu kami mengajukan enam alat pendeteksi longsor tahun 2021. Pengadaan dilakukan secara bertahap. Enam alat tersebut nantinya akan dipasang di pada desa/kelurahan yang rawan terjadi longsor. Seperti permukiman yang disekitarnya terdapat daerah lereng,” bebernya.

BPBD memetakan beberapa daerah yang rawan longsor seperti di Kecamatan Bumiaji meliputi Desa Sumber Brantas, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo. Selain itu, satu titik berada di kawasan payung, Kelurahan Songgokerto Kecamatan Batu.

“Alat ini nantinya akan mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi oleh kabel baja ekstensometer. Sehingga ketika ada pergeseran tanah, alarm akan berbunyi,” ungkapnya.

Untuk harga per unit EWS membutuhkan anggaran sekitar Rp 110 juta. Dengan rincian ekstensometer sekitar Rp 55 juta dan warning sistemnya sekitar Rp 47 juta. (eri/jon)