Dangdut Kontemporer, Bertahan 15 Tahun

Tahu Brontak terus berkarya. Sudah 15 tahun band indie asal Kota Batu itu hadir dengan berbagai karya musik. Lirik yang tak jauh dari kehidupan masyarakat bikin mereka bertahan hingga sekarang.

NEW MALANG POS – Tak banyak band indie mampu mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan industri musik saat ini. Apalagi kala pandemi seperti sekarang. Bahkan banyak band indie yang harus ikut arus untuk tetap bisa mempertahankan eksistensinya.

Namun hal tersebut mampu dijawab band asal Kota Batu, Tahu Brontak. Membawa genre yang berbeda dengan kebanyakan band indie lainnya, genre dangdut kontemporer mampu mempertahankan eksistensi Tahu Brontak.
Bukan hanya genre yang nyeleneh. Tapi Tahu Brontak kerap tampil berbeda saat manggung. Begitu juga lirik-liriknya selalu membawa pesan moral, terkadang satir dan juga tidak lepas dari keseharian masyarakat Kota Batu pada umumnya.
Tahu Brontak mampu eksis sampai saat ini digawangi oleh Dimas Wahyu Permadi (drum), Abid (gitar) Alfi (bas) Sigit Mandolin, Wahyu Kendang, Adam (lead vocal), Arik (vokal dan tamborin), serta Hagi (vokal dan jimbe).
“15 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah band untuk bisa tetap eksis di tengah derasnya persaingan musik indie. Terlebih dengan adanya gelombang pandemi,” kata Dimas Wahyu Permadi, salah satu personel Tahu Brontak.
Samun, sapaan akrab Dimas Wahyu Permadi menceritakan untuk mempertahankan eksistensi band indie bisa dilakoni layaknya menjalani hidup. “Untuk bisa bertahan kami harus berjuang menghidupi diri sendiri dulu. Misal setiap personel memiliki pekerjaan yang menjadi penghidupan utama. Sedangkan Tahu Brontak kami gunakan sebagai wadah ekspresi menyalurkan inspirasi menjalani kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ketika Tahu Brontak sebagai tempat ekspresi, diungkap Samun bahwa hal itulah yang mampu mepertahankan eksistensinya. Karena wadah tersebut tak menjadi beban bagi para personelnya. Tapi sebaliknya menjadi tempat untuk tukar pikiran dan berkarya.
“Terbukti dengan prinsip yang kami pegang tersebut kami bukan hanya mampu eksis hingga 15 tahun ini. Tapi kami juga menghasilkan karya yang dinikmati masyarakat umum. Bahkan apa yang kami suguhkan mampu membuat para pendengar tersenyum dan berjoget,” terang Samun.
Band indie yang berdiri tahun 2006 ini bisa tetap ada di hati masyarakat karena karya dan penampilan. Mereka dari panggung desa, kecamatan hingga kota. (eri/van)

artikel Pilihan