Cetak Ibu Rumah Tangga Menjadi Penjahit Mahir

1
keterampilan UMKM
Ibu-ibu rumah tangga menjalani pelatihan menjahit dari Dinsos P3AP2KB Kota Malang hingga mahir. (NMP-IAN NURMAJIDI)

MALANG, NewMalangPos – Sebagai upaya untuk memberdayakan ibu-ibu rumah tangga, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang kembali melanjutkan pelatihan menjahit di SMK Negeri 3 Malang, Rabu (14/4).

Pelatihan ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang telah dilakukan pada tahun lalu namun dengan materi lanjutan dengan tingkatan yang berbeda.

“Sekolah menjahit yang di tahun 2021 ini sudah melaksanakan di tahap dua. Karena di tahap satu untuk latihan dasar itu di tahun 2020 dengan peserta kurang lebih 50 orang dari 57 kelurahan di Kota Malang,” ujar Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas Sosial-P3AP2KB Kota Malang, Dra. Ani Rahmawiyati, M.Si kepada New Malang Pos.

Dijelaskannya, tahapan tersebut akan berlanjut juga di tahun mendatang. Di tahun selanjutnya, kemampuan dari peserta pelatihan diproyeksikan bisa menjadi mahir.

“Harapan kami nanti di tahun ketiga, tahun depan 2022, itu sama sudah tingkat mahir. Harapannya mendapatkan pelatihan di sini untuk melatih anggotanya yang lain untuk sama-sama mencapai tingkat mahir,” jelasnya.

Ani menjelaskan, dari hasil pelatihan tersebut, diharapkan peserta nantinya dapat menularkan ilmunya kepada ibu ibu lainnya di tingkat kelurahan. Ani sendiri menyebut, hal ini untuk menyikapi keterbatasan dana yang dimiliki oleh Dinsos.

“Kalau dari kelurahan kita ambil satu atau dua orang belum bisa merekap semua dalam satu kelurahan.  Harapan kami dari yang kami ikutkan di satu kelurahan, satu atau dua orang, itu harapannya ke depannya bisa membentuk anggota kelompok, paling tidak 10 anggota. Itu nanti yang sudah mendapatkan pelajaran dari sekolah menjahit ini bisa menularkan atau memberikan pelajaran ke angggotanya,” bebernya.

Meski demikian Ani sendiri memahami bila nantinya penularan ilmu bisa saja mengalami kesulitan. Hal tersebut dikarenakan daya serap tiap orang berbeda.

“Karena masing-masing peserta kan daya tangkapnya berbeda. Misalnya jenjang satu sampai sepuluh, hanya bisa menangkap tiga. Ada yang bisa sampai enam jenjang. Kalau ini bisa dilaksanakan di masing masing kelurahan, ini bisa merekap masyarakat terutama perempuan,” jelasnya. (ian/aim)