Bukti Pelecehan Kepsek di Surabaya Tak Mampu Didapatkan Polisi

8
Ilustrasi korban pelecehan seksual. (Istockphoto/Coldsnowstorm/CNN Indonesia)

Surabaya, NewMalangPos – Penyidik Polrestabes Surabaya hingga kini belum dapat menahan AF, seorang kepala sekolah di ibu kota Provinsi Jawa Timur. Pria ini dilaporkan dalam kasus dugaan pelecehan seksual terhadap siswinya.

Melansir dari CNN Indonesia, Selasa (16/3), Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Ambuka Yudha menjelaskan bahwa penahanan ini tidak dilakukan karena pihaknya masih belum mengantongi bukti-bukti tindakan AF kepada AR. Sebab kejadian itu sudah berlangsung cukup lama yakni setahun yang lalu.

“Untuk barang bukti, karena kejadiannya satu tahun yang lalu, kami masih mencari pakaian-pakaian (korban),” kata Ambuka di Surabaya, Senin (15/3).

Bahkan, Ambuka Yudha juga  menyebut kemungkinan mendapatkan rekaman itu sangatlah kecil.

“CCTV kita kecil kemungkinannya, karena kejadiannya satu tahun lalu,” ujar Ambuka.

Meski demikian, polisi tetap mendalami kasus tersebut dengan memeriksa dan meminta keterangan tujuh orang saksi, yang merupakan teman-teman dan orang tua korban.

Oleh karena itu, Ambuka pun meminta pihak korban untuk bersabar menunggu proses penyelidikan. AF sendiri saat ini masih berstatus sebagai saksi terlapor.

“Semoga kita bisa mendapat bukti atau petunjuk apakah perbuatan itu benar-benar terjadi. Sementara (AF) masih terlapor,” kata Ambuka.

Sebelumnya, seorang kepala sekolah SMK swasta di Surabaya berinisial AF, dilaporkan ke Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya atas dugaan pelecehan dan pencabulan terhadap peserta didiknya sendiri.

Laporan itu dibuat oleh AR (17) dan orang tuanya S (58) warga Surabaya. Laporan itu sudah diterima di Polrestabes Surabaya dengan tanda bukti lapor Nomor: TBL-B/210/III/RES.1.24/2021/RESKRIM/SPKT Polrestabes Surabaya.

S menceritakan bahwa peristiwa naas itu terjadi pada Desember 2019 silam. Saat itu anaknya sebenarnya tengah menjalani masa magang, dan tak berkegiatan di sekolah. Namun, pada pagi hari, saat sekolah masih sangat sepi karena libur akhir tahun, AF meminta AR untuk menemuinya di sekolah.

“Yang diduga melakukan itu adalah kepala sekolahnya sendiri, anak saya disuruh datang pagi hari jam 08.00-09.00 WIB, anak saya disekap, dikunci di dalam ruangannya, dan terjadilah hal yang tidak kita inginkan,” kata S, di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (3/3). (frd/kid/cnni/mg3/ley/nmp)