Alasan Unik Perantau Saat Ditanya Mengenai Penyekatan: Bukan Mudik, Bukan Pulang Kampung, Saya Pulang ke Istri

Penumpang di Stasiun Gubeng (Foto: Esti Widiyana/detikcom)

Surabaya, NewMalangPos – Banyak masyarakat yang melakukan mudik colongan menjelang larangan mudik dilakukan. Seperti di Stasiun Gubeng Surabaya, beberapa calon penumpang terlihat membawa tas besar, koper dan kardus hendak pergi mudik.

Dilansir dari detikcom, salah satu penumpang memiliki alasan unik saat ditanya larangan mudik 2021. Arief Prasojo Singgih (50) warga Banyuwangi ini mengaku tak ingin menyebut dirinya mudik atau pulang kampung.

“Saya mau ke Banyuwangi untuk pulang ke istri. Tapi bukan mudik ya, bukan pulang kampung juga. Pulang ke istri karena saya perantau dari Jakarta. Ini tadi saya dari Jakarta ke Surabaya subuh sampai, terus mau ke Banyuwangi naik Sritanjung. Saya asli Banyuwangi, tapi perantauan, keluarga ada di Banyuwangi. Saya nggak mudik, nggak pulang kampung tapi pulang ke istri,” kata Arief saat ditemui detikcom di Stasiun Gubeng, Rabu (5/5/2021).

Baca Juga :  Remaja Asal Sidoarjo Tenggelam Terseret Ombak di Pantai Jolosutro

Untuk persyaratan mudik lebaran 2021, jelas dia, dirinya sudah lengkap. Menurut Arief, meski pandemi menjadi kekhawatiran pemerintah, tapi pemerintah tidak bisa melarang semua orang untuk bertemu keluarga.

“Tapi pemerintah juga nggak bisa melarang semua orang-orang perantau. Kalau kita menetap dan berdomisili di sana, tentu ada keluarga mereka di kampung, kan tetap saja. Kita pahami karena peraturan untuk mencegah naiknya klaster mudik,” jelasnya.

Dia berencana kembali ke Jakarta setelah tanggal larangan mudik habis, yakni di atas tanggal 17 Mei. Karena ada peraturan perjalanan dalam negeri (PPDN) yang tidak bisa dilanggar.

Baca Juga :  Penerima Salah Transfer Rp 51 Juta Dituntut di Surabaya

“Setelah PPDN tanggal 17, tentunya nggak boleh sama sekali, 18 masih PPDN. Mungkin tanggal 24 sudah harus ada di tempat, sebelum tanggal 24-lah harus balik. Kemarin sudah rapid antigen dan surat izin dari aparat di sana,” ujarnya.

Sementara salah satu penumpang KA tujuan Yogyakarta, Muryati (57) pulang ke kampung halaman sebelum tanggal 6 Mei. Pasalnya, lebaran 2020 ini dia tidak bisa berkumpul bersama keluarga di Jogja.

“Mau mudik mau lebaran ke Yogya. Soalnya sebelum tanggal 6 kan nggak boleh kemana-mana, jadi ngambil sebelumnya tanggal 6-17 dilarang,” tambah Muryati.

Dia mengaku persyaratan yang harus dipenuhi sebelum keberangkatan, yakni tes GeNose. Dia sudah menyiapkan protokol kesehatan. Salah satunya hand sanitizer, jaga jarak, bahkan dia membawa 2 boks masker medis.

Baca Juga :  ITS Surabaya Luncurkan Buku Peringati Setahun Corona

“Kita ikuti prosedurnya, kalau di kereta ada jaga jarak kita ikuti, pakai masker, bawa hand sanitizer. Saya berdua dengan anak, tahun ini kepingin mudik. Rencana balik kalau sudah buka, tanggal 20, tapi kalau tanggal 20 belum boleh, ya mundur lagi,” urainya.

Hal senada diungkapkan santri dari Sumenep, Madura, Mualim (17). Dia mudik ke Kebumen, Jawa Tengah karena mendapat jadwal mudik lebaran 2021 dari pesantren hari ini bersama dua temannya.

“Mau mudik ke Kebumen. Karena peraturan dari pesantren hari ini khusus luar Jatim. Untuk persyaratannya surat keterangan sehat, hasil rapid test dan surat jalan dari pesantren sudah disiapkan,” tutupnya. (fat/fat/dtk/mg1/ley/nmp)