Budak Algoritma

NewMalangPos – Kalau anda ditanya: Apa yang membuat hidup anda tidak bahagia saat ini? Apa yang membuat anda ketakutan atau tidak nyaman saat ini? Benarkah persoalan Covid-19 yang korbannya meroket yang membuat Anda takut? Benarkah karena omzet atau penghasilan menurun, Anda jadi tidak bersemangat hidup? Atau justru yang membuat kita makin kacau, tidak bahagia dan resah, saling menyalahkan dan berebut selamat sendiri adalah media sosial?

                Kalau jawabannya yang terakhir, yaitu karena media sosial, maka saatnya dalam momen Idul Adha ini, kita rela ‘berkurban.’ Mari kita ‘sembelih’ media sosial kita setidaknya tiga hari ke depan. Sehingga sifat-sifat ‘kebinatangan’ yang ada dalam media sosial kita hilang. Dan kita kembali menjalani hidup dengan bersih dan tenang kembali. Tidak was-was, tidak takut, tidak mudah menyalahkan, tetap sehat dan imun kita tidak turun. Serta kita tetap baik-baik saja meskipun tidak mengikuti media sosial.

                Kenapa saya menggunakan analogi ‘berkurban’ dan ‘menyembelih’ media sosial? Ya, karena setelah merenung dan berpikir lebih mendalam saat Hari Raya Idul Adha ini, ternyata sifat-sifat kebinatangan, sudah merasuki media sosial.

                Orang membunuh karakter orang dengan mudah, orang menurunkan imun orang dengan berita-berita hoaks, orang menipu orang lain secara terang-terangan, orang menghina orang lain semaunya tanpa takut, mencaci pejabat seenaknya, orang bersikap buas kepada sesama. Semua sifat-sifat bengis binatang itu hidup subur di media sosial.

                Orang yang awalnya baik-baik saja, bisa menjadi marah besar setelah membaca informasi di media sosial. Orang sehat bisa-bisa drop  setelah membaca media sosial. Karyawan dan bawahan dimarahi habis-habisan karena media sosial. Orang tua bisa memarahi guru setelah membaca media sosial.

                Suami istri bisa bertengkar hebat karena media sosial. Seorang guru bisa dimaki muridnya di media sosial. Sampai-sampai hewan kurban dijadikan meme di media sosial. Orang mati meninggal dengan cara apa saja juga disebar di media sosial. Vulgar! Ngeri!!! Giliran dibuka relawan memakamkan jenazah Covid-19, nggak berani komentar. Kalau ada berita Covid-19 bisanya cuma menghujat. Padahal informasinya benar.

Baca Juga :  Berharap Bantuan, Anak Bungsunya Tewas Tertimpa Bangunan

                Esensi Kurban dalam Islam adalah menebarkan kebahagiaan dan kegembiraan pada sesama. Hewan kurban adalah media atau simbol yang digunakan untuk berbagi bersama. Bahwa orang yang mampu disunnahkan untuk menyerahkan hewan kurban kemudian disembelih. Dan setelah disembelih, dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berhak. Ritual ini dilakukan selama tiga hari pasca Idul Adha, yang dalam Islam disebut hari Tasrik.

                Kalau kembali pada esensi dasar kurban itu, maka dalam situasi pandemic Covid-19 dalam masa PPKM Darurat ini, bila kita kesulitan untuk berbagi kegembiraan bersama dengan hewan kurban, maka masih ada pilihan lain kita menebar kebaikan dan kegembiraan. Salah satunya dengan ‘menyembelih’ media sosial kita dengan bijak tiga hari ke depan.

                Setidaknya kita tidak menyebar informasi yang bikin orang emosi. Tidak asal komen pada informasi yang sejatinya benar. Tidak berisik di media sosial yang bukan kapasitasnya. Tidak asal bicara yang membuat orang makin bingung dan terlihat bodoh. Lebih lebih bicara soal Covid-19 yang tidak semua orang punya literasi cukup soal penyakit ini. Jangan sampai kita menyebar sesuatu yang justru bisa bikin orang cepat mati. Karena kita menebarkan horor di media sosial.

                Lebih ekstrem lagi, kalau bisa, tinggalkan media sosial. Tiga hari saja. Terus kita evaluasi selama tiga hari itu. Apakah imun kita bertambah. Apakah kebahagiaan kita bertambah. Apakah keresahan kita berkurang. Atau kita semakin baik tanpa menggunakan media sosial, karena kita lebih hidup 100 persen di alam nyata. Pikiran kita lebih obyektif, nalar kita lebih realistis dan optimisme kita bertambah dengan tetap bekerja dan beribadah.

Baca Juga :  Boyong Layanan Kampus ke MPP

                “Teknologi seharusnya menghamba pada manusia, bukan manusia yang menghamba pada teknologi.” Kurang lebih demikian yang diungkapkan Sabrang Mowo Damar Panuluh dalam video yang dirilis channel Youtube caknun.com.

                Dalam satu kesempatan, Noe Letto, panggilan akrab putra Cak Nun itu, juga pernah mengatakan, media sosial bisa merusak peradaban manusia ke depannya. Noe mempersilahkan menonton The Social Dilemma di Netflix. Film dokumenter yang merupakan cerita kegelisahan para pendiri platform media sosial saat ini. Mereka juga gelisah terhadap ciptaan mereka sendiri karena sudah melebihi ekspektasi mereka pada awalnya.  

                https://www.caknun.com/author/fahmi-agustian/Fahmi Agustian, Koordinator Simpul Maiyah dan Anggota Redaksi caknun.com. menuliskan tentang bagaimana film The Social Dilemma itu. Artificial Intelligence (AI) atau disebut sebagai kecerdasan buatan adalah produk manusia yang sayangnya saat ini justru mengancam manusia sendiri. Kecerdasan buatan di media sosial saat ini justru tidak bisa dikendalikan oleh manusia.

                Algoritma media sosial hanya mengetahui kebiasaan yang dilakukan oleh pengguna melalui gadget yang digunakan. Aktivitas pengguna direkam secara otomatis, kemudian datanya diolah oleh mesin, yang kemudian digunakan untuk mempengaruhi pengguna itu sendiri.

                Jangan heran ketika membicarakan sesuatu, bahkan tanpa menuliskannya di mesin pencari Google, tetapi ketika kita membuka media sosial justru disajikan informasi mengenai sesuatu yang kita bicarakan. Memang sudah sedemikian canggih teknologi hari ini. Dan tanpa sadar, sebagian dari kita sudah menjadi budak algoritma media sosial.

                Dan algoritma tersebut di setiap platform media sosial sangat berbeda tipikalnya. Kecuali platform yang dinaungi oleh satu perusahaan yang sama, seperti Facebook dan Instagram misalnya. Algoritmanya tentu mirip, bahkan mungkin sama persis.

                Ketika berbicara media sosial hari ini, kita akrab dengan istilah; viral, like, share, subscribe, comment, dan lain sebagainya. Semua istilah itu menjadi acuan umum ketika kita bersentuhan dengan media sosial. Di satu sisi, parameter tersebut mempermudah kita untuk mengetahui informasi terkini yang sedang menjadi pembicaraan. Secara real time kita mampu dengan cepat mengetahui informasi yang sedang ramai dibicarakan khalayak.

Baca Juga :  Menu Latihan Tergantung Minute Play

                Ketika membincangkan sesuatu yang viral, itu juga tidak bisa kita percaya bahwa sepenuhnya terjadi secara instan. Di film dokumenter The Social Dilemma dijelaskan oleh salah satu narasumber, bahwa memang ada skenario mengelompokkan para pengguna media sosial untuk dikumpulkan dalam satu ruangan yang sama.

                Tidak bisa memang sepenuhnya menyalahkan bagaimana media sosial saat ini dipergunakan. Yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana manusia beradaptasi dengan evolusi teknologi yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Mereka yang ada di belakang layar platform media sosial pun mengakui bahwa mereka juga saat ini juga diperbudak oleh mesin yang mereka ciptakan sendiri.

                Dalam diskusi Reboan Kenduri Cinta (September 2020 lalu), Mas Gandhie menyebutkan bahwa saat ini yang dibutuhkan oleh manusia adalah human firewall. Mau tidak mau, manusia sendiri yang harus bisa membatasi dirinya untuk tidak terbawa arus di media sosial bahkan internet. Ketepatan pengambilan posisi bahwa internet adalah alat, bukan tujuan, akan mendewasakan manusia itu sendiri dalam menggunakan internet.

                Kita tidak bisa menghentikan laju kemajuan teknologi. Pilihannya adalah kita harus beradaptasi dengan teknologi, sehingga kemudian kita mampu memanfaatkan teknologi sesuai dengan peruntukannya. Atau jika mampu mengambil pilihan yang ekstrem, tinggalkan teknologi.

                Cak Nun memberi kita optimisme: di sela-sela hujan yang deras masih terdapat ruang kosong. Maka, di tengah keramaian informasi saat ini, terutama yang datang dan kita akses melalui internet, masih ada ruang kosong untuk kita manfaatkan agar kita tidak basah kuyup dan terbawa arus.(*)