Sukses Bisa Datang Karena Sabar

Ismail Bahtiar Maulana Hidayat
TEKUN: Ismail Bahtiar Maulana Hidayat melakoni usahanya membuat variasi motor setelah menyelesaikan tugasnya sebagai guru honorer. (Radar Bromo)

Newmalangpos – Namanya Ismail Bahtiar Maulana Hidayat, 33. Ia dilahirkan di Nabire, Papua. Saat ini, ayah dua anak itu menjadi seorang guru honorer di SDN Lebak, Desa Lebak, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.

Memiliki bisnis dan menjadi guru, bagi Ismail Bahtiar Maulana Hidayat harus berjalan beriringan. Dua-duanya dia jalani dengan sabar. Dan Ismail pun membuktikan, sukses bisa datang karena sabar.

Sudah sekitar 11 tahun dia menjadi guru honorer. Tepatnya sejak 2009. Di sana, dia mengajar mapel olahraga.
“Ibu ingin saya menjadi seorang guru. Demi mengabdi pada orang tua, maka saya mendaftar menjadi guru,” tutur Ismail memulai pembicaraan saat ditemui di rumahnya, di Desa Winongan Kidul, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.

Tiyar panggilan Ismail Bahtiar, paham gaji menjadi guru dengan status honorer tidaklah besar. Namun, demi bakti pada ibunya diapun rela melakoninya.

“Bagi saya menjadi guru adalah pengabdian. Mengabdi pada orang tua, juga mengabdi untuk bangsa. Apalagi, orang tua saya tinggal ibu. Ayah sudah meninggal saat saya berumur 1,5 tahun,” kisah bapak dua anak ini.

Meski demikian, kondisi itu tidak lantas membelenggu kreativitasnya. Sejak tahun 2019, Tiyar merintis bisnis sampingan. Yaitu, memproduksi barang untuk variasi motor. Ada winglet, cover head lamp, cover leher knalpot, dan beberapa yang lain.

Hasil produksinya itu lantas dipasarkannya secara online. Istrinya, Santi Sri Wilujeng, 30, yang memasarkan produk buatannya secara online.

“Usaha ini baru saya lakoni sejak 2019. Alhamdulillah, hasilnya lumayan,” katanya.

Biasanya, siang setelah mengajar Tiyar langsung ke tempat produksi. Lokasinya tepat di belakang rumahnya. Di sebuah gubuk yang disewanya dengan luas sekitar kurang lebih 5 meter X 4 meter. Tidak ada dinding. Hanya hanya bambu dipasang di setiap pojok dengan atap dari terpal.

Saat tim Wartawan berkunjung, Tiyar sedang bekerja bersama dua rekannya. Mereka membuat sebuah barang variasi motor dari fiber.

Dengan tekun, Tiyar mencampur resin dengan semen putih. Setelah tercampur, bahan itu ditambah pewarna. Baru kemudian dimasukkan ke cetakan yang juga dibuatnya sendiri.

Setelah merata, serat fiber mat dipasamg di atasnya. Kemudian, resin kembali dituangkan agar bahan-bahan itu saling menutup.

Setelah selesai, bahan diangin-anginkan sekitar 5 menit. Baru kemudian, bahan tadi diangkat dari cetakan dan didinginkan agar mengeras.

Namun, tahapan tidak berhenti di situ. Setelah dingin, hasilnya dirapikan menggunakan gerinda. Dan terakhir, pengecatan sebagai finishing sesuai pesanan.

Bisnis itu sendiri dipilih Tiyar karena hobinya modifikasi motor. Dia lantas terpikir memproduksi bahan untuk modifikasi motor.

“Saya kemduian belajar dari media sisoal. Kemudian saya praktikkan dan langsung bisa,” ungkapnya.

Semua barang produksinya itu kini dipasarkan melalui sebuah toko online oleh istrinya. “Saya tidak begitu paham gadget. Jadi istri saya yang memasarkan,” tuturnya.

Awalnya, memang hanya sedikit yang diproduksinya. Tiyar baru berproduksi, kalau ada yang pesan. Biasanya, pesanan satuan bisa diselesaikan dua hari. Sementara kalau pesannya dalam jumlah grosir, dia selesaikan seminggu.

Kini, bisnisnya itu terus berkembang. Bahkan, omzet yang didapat lebih besar dari gajinya sebagai guru. Sebulan rata-rata dia bisa menghasilkan laba bersih sekitar Rp 5 juta.

Pemesannya kebanyakan bukan dari Pasuruan. Melainkan dari Madura, Situbondo, Banyuwangi, Lumajang. Bahkan, setiap bulannya ada pesanan dari luar pulau Jawa.

“Awalnya hanya Rp 500 ribu modal saya. Modal itu langsung balik dalam waktu satu bulan,” lanjutnya.

Dengan cara itu, Tiyar mengaku lebih tenang menjadi guru honorer. Sebab, jika hanya mengandalkan gaji sebagai guru honorer, jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan dua anak.

Kesuksesannya itupun tidak lantas membuatnya meninggalkan profesi guru. Dia bahkan ke depan berencana mendaftarkan diri sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK). Sebelumnya, ia sempat mendaftar CPNS sebanyak empat kali. Namun, gagal.

“Semoga bisa diterima mendaftar PPPK,” tandasnya. (RB/NewMP)