Inspirasi Developer Peduli Berpulang

NEW MALANG POS-Bos Permata Jingga (PJ) H Sutrisno Abdullah wafat. Berpulang dalam usia 71 tahun. Founder PT Buanakarya Adi Mandiri itu dikenal sebagai tokoh properti. Jiwa sosialnya pun kental.

Informasi yang diterima New Malang Pos, Sutrisno Abdullah menghembuskan napas terakhir Minggu (5/7) pukul 00.10 WIB di kediamannya di Jalan Ijen 18 Kota Malang. Namun informasi lain menyebutkan berpulang Sabtu (4/7) tengah malam menjelang berganti hari.

Jenazah disemayamkan di rumah duka lalu dimakamkan Minggu (5/7) kemarin pukul 09.00 WIB di Pemakaman Permata Jingga. Sampai berita ini diturunkan, pihak keluarga belum memberi penjelasan penyebab bos PJ itu wafat. 

Bisnis dan yayasan PJ Group kini diteruskan dua anaknya. Yakni, Angga Satria Perdana dan Anggi Tresnantari. Angga sebagai CEO PJ Group. Anggi menjadi ketua Yayasan Permata Jingga.

Semasa hidup, Sutrisno dikenal ulet. Dia memulai karirnya sebagai developer real estate tahun 1993. “Sebelum PJ, almarhum membangun perumahan BCT dan Taman Sulfat,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia, Drs HM Tri Wedianto MSi, kepada New Malang Pos.

Titik balik karir real estate Sutrisno, terjadi pada tahun1998. Dia memulai pembangunan PJ.

Perumahan elite ini mengubah wajah real estate Kota Malang. Popularitasnya sama dengan Pondok Blimbing Indah dan Araya. Itu karena konsep religius yang dipeloporinya. Yakni, membangun masjid di perumahannya. Tri mengatakan, dulu, tak semua developer melakukan itu.

“Beliau peduli, dan menjadi pelopor. Almarhum menjadi contoh bagi kalangan pengembang,” tuturnya. Tri mengaku terinspirasi dengan sosok Sutrisno. Tak hanya mengembangkan real estate, almarhum dikenal dermawan.

Sutrisno membangun yayasan sosial. Yaitu Yayasan PJ yang menolong warga kurang mampu.

Pun, menaungi beberapa masjid. Serta, mendirikan sekolah tingkat dasar dan menengah pertama. Tri menganggap kedermawanan Sutrisno sebanding dengan karakternya. Itu karena Sutrisno dikenal supel dan ramah. Menurut Tri, almarhum diseniorkan pengurus REI di Malang.

“Beliau sesepuh bagi REI di Malang. Meskipun, almarhum tak pernah jadi pengurus. Kami sangat kehilangan,” kenang Tri.(fin/van)