Ekonomi Kota Malang Triwulan III Membaik

NEW MALANG POS – Kondisi ekonomi terus membaik di triwulan III 2020. Ini berdasarkan survei konsumen yang dilakukan di Kota Malang. Dalam survei tercermin Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 81,92 persen. Jumlah tersebut meningkat 3,25 persen dibandingkan triwulan II 2020 sebanyak 78,60 persen.

Peningkatan IKK sejalan dengan peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) sebesar 49,00 dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) mencapai 114,83. Keyakinan konsumen yang terus membaik di triwulan III tersebut seiring dengan mulai membaiknya persepsi terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama (durable goods).

Keyakinan konsumen tersebut sejalan pula dengan pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang yang berangsur membaik. Peningkatan kinerja diperkirakan berasal dari kinerja sektor perdagangan besar dan eceran.

Kepala KPw BI Malang Azka Subhan mengatakan, berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) triwulan III menunjukkan kenaikan omzet secara total 14,70 persen (qtq).

“Growth omzet 14,70 persen (qtq) lebih tinggi dibandingkan dengan growth set triwulan II 2020 sebesar -46,40 persen (qtq), jenis usaha dengan pertumbuhan tertinggi di triwulan III 2020 adalah suku cadang dan aksesori sebesar 39 persen,” ujar Azka.

Kenaikan omzet berikutnya yang tak kalah besar yakni berada pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan persentase sebesar 34 persen. Selanjutnya disusul oleh kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya 32 persen.

Ia memaparkan, dunia usaha di triwulan III mulai tumbuh positif berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dibanding periode sebelumnya yang terkontraksi -36,67 persen. Membaiknya kegiatan usaha didorong pertumbuhan kegiatan usaha di sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan andil sebesar 7,18 persen, 6,70 persen. Sektor industri pengolahan dan pertanian sebesar 2,73 persen.

“Peningkatan realisasi kegiatan usaha disebabkan oleh pelonggaran kebijakan pembatasan sosial dan dimulainya masa transisi ke adaptasi kebiasaan baru,” terangnya.

Lebih lanjut, Azka memaparkan, pada triwulan III perkembangan tenaga kerja masih berada dalam fase kontraksi. Penurunan penggunaan tenaga kerja paling dalam berada di sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan andil sebesar -9,37 persen, industri jasa pengolahan -5,47 persen dan pertanian -1,13 persen.

Tak hanya itu perkembangan kondisi likuiditas dan rentabilitas dunia usaha masih menunjukkan penurunan lantaran fungsi intermediasi perbankan belum optimal. Ditambah lagi realisasi investasi pada triwulan III 2020 terindikasi melambat meskipun mulai tumbuh dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Penurunan realisasi investasi terdalam terjadi pada sektor konstruksi -9,13 persen. Ini sejalan dengan masih rendahnya realisasi investasi fisik baik dari sektor swasta maupun pemerintah,” papar Azka.

Meski beberapa indikator masih menunjukkan penurunan namun diperkirakan kegiatan usaha tetap tumbuh positif di triwulan IV 2020. Peningkatan dunia usaha paling dominan terjadi pada sektor industri pengolahan yang didorong oleh permintaan konsumen masih cukup baik.

“Sektor yang diprakirakan mengalami kontraksi pada triwulan IV 2020 terjadi pada kegiatan usaha di sektor perdagangan dan sektorpertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan,” katanya. Hal ini sejalan dengan menurunnya produksi pada sektor pertanian yang mulai memasuki masa tanam serta terdapat indikasi gangguan pertanian akibat fenomena La Nina. Sehingga terjadi peningkatan curah hujan bulanan hingga mencapai 40 persen dari kondisi normal. (lin/van)