Better Data, Better Government

Muhammad Ainul Yaqin

NEW MALANG POS – Akhir bulan September nanti merupakan bulan spesial bagi sejarah statistik di Tanah Air. Bulan dimana diperingati Hari Statistik Nasional (HSN) pada tanggal 26 September di Indonesia setiap tahunnya.

Latar belakang lahirnya HSN sejak Pemerintah RI menyetujui lahirnya UU Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik tertanggal 26 September 1960 menggantikan Statistiek Ordinantie 1934.

Di dalam UU tersebut juga mengatur penyelenggaraan statistik dan organisasi Biro Pusat Statistik yang saat ini menjadi Badan Pusat Statistik (BPS). Secara formal nama Biro Pusat Statistik diganti menjadi Badan Pusat Statistik yang dimuat dalam UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik.

Perkembangan Big Data
Perjalanan lahirnya HSN menjadi cermin semangat khususnya bagi kaum milenial untuk menghadapi tantangan big data dalam perkembangan dunia teknologi saat ini. Pesatnya perkembangan dunia teknologi mengakibatkan jumlah data yang dihasilkan semakin besar. Salah satu penghasil data yang sangat besar adalah penggunaan media sosial.


Per Januari 2021, agensi marketing We Are Social dan platform manajemen media sosial Hootsuite mengungkap sebesar 61,8 persen penduduk Indonesia telah menggunakan media sosial dengan rata-rata penggunaan selama 3 jam 14 menit per hari. Jumlah ini kemungkinan akan terus meningkat seiring masa transisi era digitalisasi.

Karakteristik yang dimiliki big data dikenal dengan berbagai istilah seperti 3V, 4V atau bahkan ada yang menyebut 8V. Istilah tersebut memiliki arti mulai dari Volume, Veracity, Variety, Velocity, sampai Virality. Menurut Dr. Setia Pramana sebagai Kepala Subdirektorat Pengembangan Model Statistik BPS dalam acara webinar bertema big data dalam bidang sains menyebutkan terdapat dua tantangan mengenai analisis big data yakni infrastruktur dan mathematic modelling.

Baca Juga :  Guru Sebagai Motivator Literasi

Karakteristik big data yang sangat kompleks harus ditunjang dengan infrastruktur yang memadai. Selain itu, dalam menentukan mathematic modelling yang tepat perlu kemampuan bidang matematika atau analisis statistika.

Seseorang yang bergelut dalam big data juga harus memiliki kemampuan programming dan pemikiran yang out of the box. Dalam sektor industri transportasi online misalnya, aplikasi GoJek hasil karya anak bangsa yang menjadi unicorn pertama di Indonesia telah “mengedukasi” bagaimana dalam pemanfaatan big data.

Para Business Intelligent Team GoJek yang terdiri dari 20 data scientist dan data engineer menyebutkan bahwa data seperti data pribadi, rekam jejak perjalanan, jenis makanan yang dibeli merupakan big data yang sangat berharga dan bukan untuk dibiarkan atau dibuang.

Tim tersebut memanfaatkan big data untuk meningkatkan pelayanan terhadap konsumen maupun driver seperti merekomendasikan pilihan menu makanan atau minuman pelanggan, mengatur preferensi driver dalam memilih rute penjemputan dan pengantaran penumpang serta sebagai rujukan para Business Intelligent Team untuk mengoreksi kekeliruan analisis dalam mengambil keputusan.

Pemanfaatan Big Data
Ruang lingkup big data sangatlah luas. Hal ini karena setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia menghasilkan data yang jika diakumulasi akan menjadi suatu data yang besar. Semua kegiatan manusia tak terlepas dari smartphone, laptop ataupun komputer. Dunia digital sudah menjadi makanan sehari-hari generasi saat ini.

Baca Juga :  MENGAMBIL RESIKO

Dalam masa transisi konvensional menjadi digitalisasi, banyak hal positif yang dapat diambil, salah satunya adalah memanfaatkan big data untuk berbagai kepentingan analisis pengambilan keputusan. Semua lembaga, badan atau organisasi dapat mengambil banyak manfaat dari penggunaan big data.

Manfaat big data untuk kemajuan pemerintahan sangatlah penting. Pertama, meningkatkan kinerja pemerintah. Setiap pegawai baik dalam instansi pemerintahan ataupun swasta mempunyai rekam jejak kegiatan yang akan dievaluasi pada periode tertentu. Hasil rekam jejak kegiatan pegawai akan menghasilkan banyak data baik secara harian, mingguan atau bulanan.

Data yang dihasilkan dapat berupa tingkat kehadiran pegawai, lama jam kerja pegawai dalam sehari, maupun hasil proyek yang diselesaikan dalam kurun waktu tertentu sehinga akan menghasilkan suatu big data. Kemudian, big data tersebut digunakan untuk melakukan analisis kinerja pegawai sehingga akan menghasilkan hasil evaluasi yang lebih cepat dan efisien.

Kedua, meningkatkan pendapatan negara. PDB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu negara. Perekonomian di Indonesia terbagi menjadi beberapa sektor, salah satunya sektor pariwisata. Aspek bisnis yang masuk dalan sektor pariwisata di antaranya restoran, penginapan, dan transportasi.

Menurut data BPS tahun 2021, pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2021 terhadap tahun 2020 menempatkan sektor pariwisata yakni penyediaan akomodasi dan makan minum pada urutan kedua dengan persentase sebesar 21,58 persen di bawah transportasi dan pergudangan yang menyumbang 25,10 persen.

Baca Juga :  Sinergitas OTG Membangun Impian Anak

Data banyaknya jumlah pengunjung restoran, lama pengunjung menyewa penginapan, dan transportasi apa yang paling diminati wisatawan terkumpul dalam suatu database yang dinamakan big data. Big data tersebut selayaknya dijadikan bahan analisis dalam menyusun strategi untuk meningkatkan jumlah wisatawan di masa mendatang sehingga akan berdampak pada jumlah pendapatan negara.

Ketiga, penunjang kemajuan statistik pemerintah. Dalam penelitian tentang kontribusi big data terhadap pengolahan data statistik oleh pemerintah di Indonesia yang dilakukan Dr. Setia Pramana dari Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) membuktikan sejauh mana big data dapat dimanfaatkan untuk kemajuan statistik di Indonesia.

Terdapat tiga studi kasus dalam penelitian tersebut yang membahas model statistik untuk prediksi pola komuter dan harga pangan, serta penggunaan teknologi Mobile Position Data (MPC) untuk penggunaan konsep perhitungan wisatawan mancanegara.

Penggunaan MPC mendapat sambutan baik dari Sekjen United Nation World Tourism Organization (UNWTO), Zurab Pololikashvili. Dia senang Indonesia menjadi pionir penemuan teknologi terbaru. Harapannya teknologi digital hasil pemanfaatan big data ini dapat dimanfaatkan oleh negara lain.

Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, maka jika big data lebih diperhatikan, data statistik di Indonesia diharapkan akan semakin berkualitas. Hal ini selaras dengan visi BPS Indonesia sebagai penyedia data statistik berkualitas untuk Indoenesia Maju.(*)

*Muhammad Ainul Yaqin, Mahasiswa Jurusan Statistika Universitas Brawijaya

artikel Pilihan