Berpikir Lebih Ajaib dari Google

35

“Keyakinan adalah pikiran yang menyembuhkan rasa sakit, yang menyebabkan menderita atau bahagia, kaya atau miskin.” (Edmund Spenser dalam Robbins). Salah satu keajaiban dari Menjadi Manusia adalah kemampuan kita untuk memenuhi setiap kejadian dengan makna yang membangkitkan atau meruntuhkan.

NewMalangPos Membaca kalimat di atas seperti memukul kesadaran saya dari hiruk pikuk “kaum rebahan” yang sontak tercipta dalam kurun pandemi. Sebagai ibu dan guru, kondisi ini adalah wadah sekaligus ujian, atau mungkin jawaban Tuhan atas harapan kalender bertanggal merah yang panjang. Saya tersenyum sekaligus menertawakan diri sendiri. Begitu mudahnya Tuhan membalik tangan dan mengabulkan, sementara manusia tak sadar bahwa mereka belum siap untuk menerima kebaikan Tuhan.

          Pendidikan, guru, dan pandemi. Tiga rampai yang ditumpahkan sebagai ruh untuk memberhasilkan satu dan yang lainnya. Tiga unsur yang mengemban amanah untuk berjalan dalam rel yang sama dengan kereta yang berbeda. Perubahan. Setiap perubahan membutuhkan pengorbanan. Begitulah dalil revolusi yang selalu digemborkan. Perubahan besar dan radikal yang dititikberatkan pada trading. Perubahan keempat dalam sejarah sehingga bertajuk 4.0. Tugas pendidik bukan menyiapkan anak bangsa menjadi tuan rumah di bangsanya?

Penulis sempattermakan hoaks dan merasa menjadi wayang catur politik dunia dengan isu bernama pandemi Covid-19 sehingga mengorbankan ritual pendidikan, menjatuhkan perekonomian, menggunungkan pengangguran, bahkan sempat mengguncangkan sisi religiusitas keberagamaan. Di sisi lain, data penderita bahkan kematian yang mencapai sembilan digit membuat penulis bergidik, benarkah eksistensi mahluk Tuhan bernama virus Korona ini?

Penulis sempat merasa songong dengan kondisi, namun apa yang kita alami hari ini adalah dampak dari peristiwa kemarin. Apa yang kita bayangkan saat ini adalah apa yang akan kita ciptakan di masa depan. Ya, di hadapan penulis adalah manusia, mahluk hidup yang tak bisa menunggu kesongongan terlalu lama. Mahluk hidup yang menunggu schedule, hendak diapakan mereka oleh para gurunya?

Baik mereka adalah anak dengan orang tua, maupun siswa bersama seorang pendidik. Karena guru bukan hanya pekerja di sekolah. Orang tua hakikatnya adalah seorang pendidik baik di institusi bernama sekolah ataupun pembelajaran di rumah.

Sesungguhnya semua amalan itu tergantung niatnya, (Bukhari dan Muslim). Berangkat dari niat baik meski tidak ditunjang dengan fasilitas pikir yang memadai terhadap teknologi, penulis mencoba memaksa diri untuk mengisi kepala dengan nutrisi yang sebelumnya hanya dibayangkan. Jika selama ini, hanya menjadi konsumen kanal youtube, kini guru menjadi youtuber, guru memaksa peserta didik menjadi bagiannya.

Penugasan melalui jejaring dan sosial media. Pembelajaran jarak jauh yang dulu hanya menjadi skema dunia barat dan timur kini menjadi gebrakan dunia, termasuk memaksa Indonesia. Memaksa guru. Namun tak dapat disangkal, setiap perubahan akan melahirkan sisi negatif dan positif. Hanya bagaimana peran pendidik untuk meminimalisir sisi jahat pendidikan model virtual.

Mbah Google, dukun sakti yang menguasai jagad ilmu mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi, bahkan ilmu agama, medis dan pengobatan, perdagangan, pangan, sains, teknologi, tumplek blek ada di sana! Guru tak akan mampu mengalahkan konsentrasi keilmuan Mbah Google. Titik. Angan penulis.

Namun bukan guru bila tak bisa menggurui, bukan pendidik bila tak hebat. Guru adalah pengkarya, bertugas menyelipkan keajaiban dalam darah generasi bangsa? Bagaimana caranya? Ya, dengan menjadi bagiannya. Jika Mbah Google sakti, maka guru lebih sakti. Melalui aplikasi zoom, duo, v-call, classroom, dan segala piranti ajaib lainnya, guru menjelma menjadi mahluk-mahluk maya yang senantiasa menghembuskan semangat dan motivasi belajar kepada para siswanya.

Menguatkan karakter, bahwa generasi dapat tumbuh mandiri dengan atau tanpa kawalan, guru dari jauh, dan orang tua dari dekat. Sebuah tantangan bagi guru untuk menautkan link yang berkualitas terkait kompetensi yang harus dikuasai seorang siswa. Berpesan kepada siswa agar jemari mereka dikuasai kepala yang tepat serta spirit iman yang sehat sehingga tujuan pembelajaran yang utama tercapai. Pencapaian kompetensi dan tidak terkikisnya akhlak karena suguhan virtual yang tidak terkontrol.

Guru wajib memampukan dirinya untuk menggiring siswa pada situasi belajar mandiri yang akan membentuk kondisi belajar yang menyenangkan. Bagaimana? Penugasan yang tepat. Mengenali potensi generasi yang “sayang dirinya” dengan mengarahkan penugasan pada perihal yang mewadahi potensi “selfie” mereka, nge-vlog, dan menyentuh jiwa kepemimpinannya.

Memprovokasi peserta didik untuk menjadi juragan dan tidak berjiwa buruh, bergantung mencari kerja. Meski kelemahan pulsa kadang menjadi bumerang dalam hal ini. Maka tatap muka terbatas menjadi solusi. Guru menyiapkan waktu khusus untuk ini.

Namun potensi tidak akan tergali, kompetensi tidak akan tercapai, dan akhlak tidak akan terbentuk tanpa kerja sama. Peran orang tua dan keluarga juga teramat penting akan situasi pembelajaran seperti ini. Dukungan pantauan terhadap siswa teramat penting. Sisi pemerintah dengan pemberian pulsa gratis merupakan upaya nyata pemerintah dalam hal ini.

Dan penulis mengira, bahwa sembilan bulan di 2020 lalu bukanlah akhir dari pembelajaran. Tahun 2021 adalah awal revolusi industri 4.0 bagi Indonesia yang sesungguhnya, tentang tantangan yang sebenarnya bagi seluruh penggerak pendidikan. Bukan hanya guru, melainkan pemerintah dan masyarakat pula.

Seluruh komponen diberi pilihan, meneruskan pengembangan dan pembelajaran diri untuk maju bersama. Atau melangkah mundur dan memilih kembali pada mindset pendidikan lama dari merdeka belajar. Kuncinya? Membaca! Baca buku, baca karya, baca lingkungan, baca peluang! Dan tutup dengan doa dan kerja sama. Wallahu’alam.(*)