Weekend Story, Inspirasi RW Tangguh

NewMalangPos, KAMPUNG Tangguh merupakan salah satu strategi hadapi Covid-19. Bukan sekadar bikin lalu selesai. Terpenting konsistensi. Ahmad Zainul Arifin, Ketua RW 03, Desa Saptorenggo Kecamatan Pakis Kabupaten Malang membuktikannya. Mereka menyebutnya sebagai RW Tangguh.

========= 

Ketua RW 03, Desa Saptorenggo Kecamatan Pakis Kabupaten Malang

Tanam Sayur Budidaya Lele, Warga Panen Gratis

AHMAD Zainul Arifin menginisiasi bentuk RW Tangguh pada Agustus 2020 lalu. Sasarannya di wilayah RW yang dipimpinnya. Bersama seluruh warga bertekad mencegah penularan virus asal Wuhan China itu.

Hampir setahun Virus Korona mewabah sejak Maret tahun lalu, RW Tangguh ini membuktikan hasilnya. Sejak Maret tahun lalu sampai sekarang hanya satu warga RW 03 Desa Saptorenggo yang terpapar Covid-19.

Padahal kasus penularan Virus Korona di Kecamatan Pakis cukup tinggi. Yakni mencapai 219 kasus positif Covid-19 per Jumat (12/2) kemarin. “Alhamdulillah yang terpapar sudah sembuh saat ini. Sudah negatif, telah beraktivitas kembali,’’ katanya.

Pria 52 tahun ini mengatakan RW Tangguh dibentuk setelah banyak Kampung Tangguh berdiri di wilayah Kabupaten Malang. Dia membentuk RW Tangguh untuk memaksimalkan peran masyarakat.

“Kampung Tangguh skalanya desa. Saat saya melihat seluruh programnya, akan sangat baik jika skalanya diperkecil. Sehingga saya membentuk RW Tangguh. Saat itu baru kami yang membentuk, mungkin kalau sekarang sudah banyak ya,’’ tambahnya.

Gagasan ini disosialisasikan kepada tujuh Ketua RT yang ada di RW 03, Desa Saptorenggo, Pakis. Gayung bersambut. tujuh ketua RT bersama masyarakat setuju. Ada tujuh program yang difokuskan di RW Tangguh dalam penanganan Covid-19. Yakni Ketahanan Pangan, Keamanan, Kesehatan, Sumber Daya Manusia (SDM), Sekretariat, Karantina dan Guyub Rukun. Itu diadopsi dari program Kampung Tangguh. Namun secara teknis Zainul memiliki cara tersendiri untuk eksekusinya.

Contohnya ketahanan pangan. Zainul tidak sekadar mengandalkan jimpitan beras dari warga. Tapi dia merelakan lahan kosong di rumahnya dan lahan kosong bangunan TPS 3R (Tempat Pembuangan Sementara Reuse, Reduce, dan Recycle).

 yang dibelinya untuk tanam sayur mayur. Selain itu juga membuat kolam lele. Hasil dari sayur dan lele semuanya diberikan kepada warga.

“Kalau beras sudah jelas ya. Ada jimpitan, yang itu dibagikan kepada kaum dhuafa dan anak yatim. Jumlahnya 57 orang, di seluruh RW 03 ini. Tapi untuk menguatkan imun kan harus ada sayur dan ikan. Itulah saya kemudian menanam sayur dan memelihara ikan lele,’’ kata alumni Universitas Gajayana ini.

Beras dibagikan kepada kaum dhuafa dan anak yatim piatu. Sedangkan sayur dan ikan lele hasil panen, Zainul menyediakan untuk seluruh warga. Siapapun warga boleh mengambilnya.

Budidaya sayur dan lele  tak sekadar menggunakan lahan kosong rumahnya. Tapi seluruh biaya mulai dari bibit, pupuk dan lainnya ditanggungnya Zainul.

“Saya berpikir ini ibadah, dan saling membantu, itu saja. Apalagi saya juga ingin, warga di RW 03 ini semuanya sehat dan tidak terkena Covid-19,’’ ucap pria kelahiran 24 Desember 1969 ini. Zainul senang karena saat dia mulai menanam sayur dan membuat kolam lele, ternyata mendapat respons dari warga. “Ya tidak semua membuat kolam lele. Tapi untuk sayur, masing-masing rumah rata-rata sudah ada,’’ urainya.

Sehingga kebutuhan sayur warga RW 03 Desa Saptorenggo tidak bingung lagi. Juga tidak perlu membeli. Semuanya tersedia secara gratis.

“Kecuali ada warga yang ingin memasak sayur yang lain, dan itu tidak ada di tanaman kami, baru mereka membeli,’’ tambahnya. Begitu juga saat ada warga yang terpapar Covid-19, mereka membantu menyiapkan makanan. “Jadi saat ada warga yang terpapar, mereka tidak risau lagi dengan kebutuhan makanan. Karena kami bahu membahu memenuhi,’’ tambah pria asli Dusun Bugis, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis ini.

Selain ketahanan pangan, Zainul yang mengelola  koperasi di Pakis ini juga menggerakkan warga terlibat menjaga keamanan. Yakni mengaktifkan aga di Pos Kamling (Keamanan Keliling). Setiap hari warga secara bergantian ronda menjaga keamanan di RT masing-masing. Kegiatan itupun sangat efektif. Terbukti minimnya kejadian kriminal di wilayah tersebut selama Pandemi Covid-19.

Selama kegiatan Pos Kamling, Zainul pun kerap ikut patroli, bersama warga menjaga wilayah. Tak sekadar menjaga keamanan, tapi juga memperkuat silahturahmi sekaligus edukasi pencegahan Covid-19.

Kala patroli bersama warga, ayah dari Khavid Lukman Arif ini mengingatkan agar selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. Zainul mengatakan, bahwa Covid-19 merupakan musuh besar. Tidak terlihat dan siap menyerang kapan saja. Sehingga dibutuhkan disiplin untuk mencegah penularannya dengan menggunakan masker.

“Sejak ada pos kamling, warga pendatang juga terdata dengan baik. Kami bukan membatasi warga lain datang, tapi karena kondisinya seperti ini. Sehingga harus hati-hati,’’ ungkapnya.

Jika ada warga luar RW 03 yang datang, maka masyarakat yang berjaga di Pos Kamling akan mengantarkan dulu ke Zainul guna didata, dan pengukuran suhu tubuh. “Alat ukurnya kami beli sendiri. Sehingga saat ada warga yang datang kami tidak bingung alat untuk mengukur suhu tubuh,’’ katanya.

Selama RW Tangguh terbentuk, ayah dari Zafira Safa Arif ini selalu mengajak warga berolahraga. Bahkan setiap minggu mereka jalan santai keliling RW dan senam.

Uang Pribadi Pak RW Bangun TPS 3R

KETUA RW harus kreatif dan rela berkorban. Seperti yang dilakukan Achmad Zainul Arifin, selain mengayomi warga juga mendirikan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle).

Mantan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Saptorenggo ini aktif dalam penerapan hidup bersih dan sehat. Salah satunya, mendirikan TPS 3R menggunakan uang pribadinya. Mulai dari membeli lahan hinggamenderikan gedung sebagai tempat pengelolaan sampahnya.

“Luas tanahnya 850 meter persegi, kemudian saya bangun gedung juga untuk pengelolaan sampah. Alhamdulillah saat ini sudah jalan,’’ kata Zainul.

Ia mengatakan, mendirikan TPS 3R ini selain masuk dalam program kerja juga untuk mensukseskan RW Tangguh. “RW Tangguh diciptakan untuk menekan angka Covid-19. Covid-19 selain harus mentaati 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak), juga wajib berperilaku hidup bersih dan sehat. Dari situlah terpikir untuk mendirikan TPS 3R. Artinya, disiplin 3M oke, warga juga harus menerapkan hidup bersih dan sehat,’’ ungkapnya.

TPS 3R ini dibentuk sejak Juni tahun 2020. Sebelum mendirikan, dia berkoordinasi dengan warga yang diwakili masing-masing ketua RT. Ibu-ibu PKK dan Karang Taruna pun dilibatkan. Setelah semuanya setuju, TPS 3R didirikan.

“Tadinya kami ingin menyewa tanah, tapi ternyata pemiliknya menolak itu disewa. Sehingga mau tidak mau saya harus membeli. Ya tidak apa-apa, apapun demi kebaikan akan saya lakukan demi warga,’’ terang dia.

Sedangkan operasionalnya, Zainul merekrut dua petugas pemungut sekaligus memilah sampah dari masyarakat. “Dulu itu ada bank sampah, tapi karena pandemi aktivitas bank sampah vakum. Sehingga sampah dari warga dipilah di TPS 3R, dikumpulkan sesuai jenisnya,’’ urainya.

Sampah yang terkumpul akan diambil oleh pengepul. Hasilnya masuk ke kas untuk menutup biaya operasional TPS 3R. Sementara sampah yang tidak bisa dikelola, dimasukkan kontainer, kemudian diambil petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Kepedulian Zainul mengelola sampah mendapat perhatian Pemkab Malang. Desember tahun 2020 lalu, Zainul mendapatkan bantuan sepeda motor Tossa dari DLH. Fungsi bantuan motor yakni mengangkut sampah dari rumah-rumah warga di RW 03 Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis.

“Prinsipnya, selain guyub rukun, kami ingin menciptakan tempat kami tinggal aman, tentram, bersih dan tentunya bebas Korona. Semua program ini berjalan, karena semuanya (masyarakat) terlibat,’’ tambahnya. (ira/van)