Weekend Story, 20 Tahun Gabung SAR

Foto: NMP- M Mansyur Adanan Syururi

Ini bukan perempuan biasa. Ia sudah 20 tahun mengabdi di SAR. Berhari-hari mencari korban bencana sudah pernah dilakoni. Pun pernah mengurus mayat dalam berbagai kondisi akibat kecelakaan maupun bencana. Prinsipnya demi kemanusiaan dan sesama.

Hari-Hari Ngurusi Korban Bencana

Hidup Sri Subekti didedikasikan untuk SAR. Perempuan berusia 57 tahun ini merupakan anggota SAR Pariot Kemanusiaan (Pakem). Ia sudah 20 tahun terlibat dalam urusan pencarian, pertolongan dan penyelamatan korban bencana.  

Di SAR Malang, Sri Subekti termasuk dianggap senior. Para relawan sehari-harinya menyapa dia dengan nama Mak Sri. Bersentuhan dengan jenazah, tempat yang kotor, jalan terjal dan berbagai kesulitan bukan masalah baginya. Itu tantangan para relawan SAR.

Mak Sri tak pernah jijik juga tidak merasa ngeri kala berada di tempat kotor dan tak biasa bagi kebanyakan wanita. Ia selalu siap. Asalkan demi kemanusiaan, menolong sesama korban bencana maupun kecelakaan.

“Jam berapapun saya siap berangkat. Ini karena murni urusan sosial, demi sesama,” kata warga

Jalan Kertorejo, Kelurahan Ketawanggede Kota Malang ini. Ia selalu bersyukur dianugerahi pilihan hidup pada dunia SAR.

Sebab di dunia yang dijalaninya ini bisa berbuat kebaikan bagi orang yang membutuhkan. Apalagi didukung teman-temannya sesama relawan. “Teman saya di SAR, 95 persennya laki-laki. Kami saling membantu. Saya juga profesional ketika bertugas,” katanya.

20 tahun mengabdi di SAR, Mak Sri tak pernah melupakan pengalaman pertamanya. Ia pertama kali mengevakuasi korban kecelakaan tabrakan kereta api di Kediri. Kondisi korban saat itu memprihatinkan, sudah tak karuan.

Mak Sri menceritakan, semula ia sempat bekerja di pabrik. “Saya lulusan SD. Lulus SD langsung kerja. Saya dulu kerja di pabrik rokok Bentoel bagian packaging,” kenangnya. Juga pernah bekerja di Wastra Indah sebagai operator dan perusahaan sapu tangan.

“Setelah itu ikut di gabungan Penjelajah Alam Jatim,” ceritanya sambil menunjukkan koleksi piagam dan badge pencapaian penjelajah alam yang dimilikinya. Malang melintang di dunia pecinta dan jelajah alam akhirnya ia masuk SAR hingga sekarang.

Ikut Evakuasi Terberat

MENGURUSI jenazah korban becana maupun kecelakaan sudah biasa bagi Sri Subekti. Apapun kondisi jenazah dihadapinya. Ia tak pernah jijik, apalagi takut. Mulai dari korban tenggelam yang kulitnya mengelupas, gantung diri hingga jenazah yang tidak utuh anggota tubuhnya pernah dievakuasinya.

Mak Sri panggilan akrabnya menceritakan pengalamannya saat menemukan mayat yang telah membiru. Sudah begitu kondisinya telah dikerumuni belatung. Itu kejadian sekitar tahun 2017 lalu.

Untuk evakuasi mayat itu pun tak mudah. Tempatnya sempit sehingga ruang gerak terbatas. Sudah begitu, ada seekor anjing yang menghalangi evakuasi. “Kondisinya memang sangat memprihatinkan. Belatung seperti beras ditumpahkan. Sebenarnya bukan jijik, tapi anjingnya itu yang menghambat,” kenangnya.

Waktu itu tim dari polisi berhasil evakuasi anjing. Mak Sri dan teman-temannya langsung evakuasi korban. “Prihatin karena dia tinggal sendirian hanya dengan anjingnya,” cerita Mak Sri.

Ia juga pernah terlibat dalam operasi pencarian korban hanyut usai rafting sekitar tahun 2016. Waktu pencarian berlangsung selama sepekan.  “Disisir dari atas akhirnya ketemu di Sengguruh dengan kondisi rambut sudah tidak ada,” beber wanita kelahiran 27 April 1964 ini.

Mak Sri mengatakan, operasi tersebut memang menyita banyak energi. Lelah dan letihnya terus dilawan dengan rasa optimisme di setiap operasi pencarian korban. Agar rasa letihnya tidak terasa, ia selalu berusaha menganggap setiap operasi pencarian korban merupakan sebuah sarana bagi dirinya jalan-jalan atau refreshing.

“Berat memang, tapi saya tidak mikir itu Opsar (Operasi SAR). Saya enjoy saja, saya anggap itu rekreasi. Jadi walaupun berat, tidak terasa capek karena akhirnya sudah ketemu korbannya,” sebutnya.

Salah satu penyemangat Mak Sri ketika berhasil menemukan korban dalam sebuah operasi SAR.

“Apalagi kalau pencariannya berat, itu langsung hilang semua capeknya. Semua atas kuasa Allah ya. Benar-benar hilang semua beban,” pungkasnya. (ian/van)