UMM Anugerahi Doktor HC untuk Dubes Kolombia

DOKTOR HC: Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. saat pengukuhan Doktor HC kepada Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia, merangkap Antigua dan Barbuda, Saint Cristopher dan Nevis, Drs. Priyo Iswanto, M.H.(IST/Newmalangpos)

NewMalangPos – Universitas Muhammadiyah Malang melangsungkan Pengukuhan Gelar Doktor Honoris Causa pada, Sabtu (30/1) lalu. Gelar doktor ilmu sosial dalam bidang etika diplomasi tersebut dianugerahkan kepada Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia, merangkap Antigua dan Barbuda, Saint Cristopher dan Nevis, Drs. Priyo Iswanto, M.H. Hal itu tidak lepas dari komitmen dan kontribusinya dalam aspek diplomasi selama pengabdiannya di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP mengungkapkan bahwa UMM tidak mudah menganugerahkan gelar doktor honoris kausa. Bahkan dengan usia dan reputasi yang dimiliki, UMM baru mengukuhkan gelar ini kepada tiga orang saja. Ia juga menilai Priyo layak mendapatkan gelar ini berkat peranan dan kontribusi yang sudah dilakukan.

“Tidak hanya untuk meyakinkan publik dan pasar akan kedudukan komoditas kelapa sawit, Pak Priyo juga memiliki peranan untuk terus menggandeng kekuatan-kekuatan yang belum terbangun di dunia. Khususnya dalam bidang kelapa sawit. Taktik ini sangat jitu untuk menghadapi tantangan yang muncul di pasar global,” jelas menteri yang juga menjadi bagian dari Badan Pembina Harian (BPH) UMM tersebut.

Senada dengan Muhadjir, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga menjelaskan bahwa Priyo Iswanto patut dan layak menyandang gelar doktor berkat kapasitas intelektual dan keberhasilannya dalam menjalankan diplomasi. Salah satunya adalah upaya Priyo dalam meminimalisasi tuduhan dunia akan sustainability industri sawit.

“Gelar doktor honoris kausa yang dianugerahkan kepada anak bangsa ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral kebangsaan yang dimiliki oleh UMM. Gelar ini juga menjadi rekognisi akademik yang harus dimaknai untuk memainkan peran hidup yang lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya Priyo mengemukakan mengenai strategi untuk meningkatkan reputasi kelapa sawit, khususnya dari perspektif tujuan pembangunan dan berkelanjutan (SDGs) plus. Ia menerangkan bahwa kelapa sawit bisa dilihat dan dipahami melalui empat dimensi yang ada. Yakni dimensi ekonomi, sosial, lingkungan serta moral. Dari aspek sosial misalnya, kelapa sawit mampu memberikan dampak positif dan membantu mengurangi kesenjangan sosial antara penduduk kota dan desa. Selain itu juga menjamin kualitas dan standar kehidupan yang lebih baik.

Komoditas sawit juga mampu menekan angka kemiskinan. Selain itu juga mengurangi kelaparan dan mendukung pertumbuhan ekonomi serta penciptaan pekerjaan yang layak. Sementara itu, kelapa sawit juga tidak lepas dari tuduhan negatif. Padahal, faktanya komoditi ini memerlukan lahan yang lebih hemat ketimbang bunga matahari, kedelai maupun kanola. Komoditi tersebut juga hanya menyumbang emisi gas karbondioksida sebanyak 5 persen saja.

“Menurut data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), kelapa sawit justru menyerap 161 ton karbondioksida dan menghasilkan oksigen sebanyak 18,7 ton/ha per tahun,” tuturnya lebih lanjut.

Sebagai Dubes RI untuk Kolombia, pria kelahiran Kudus ini juga telah berprakarsa kepada Kolombia untuk menjadi anggota Dewan Negara Produsen Sawit (CPOPC). Diyakini bergabungnya Kolombia mampu memperkuat  CPOPC dan dukungan untuk melawan kampanye hitam terhadap komoditas minyak sawit dunia.

Lebih lanjut, diplomasi antara Indonesia dan Kolombia terkait sawit ternyata tidak hanya berdampak bilateral saja. Namun juga regional bahkan internasional. Terbukti dengan semakin banyaknya negara-negara lain menjadi anggota CPOPC, seperti Ghana, Honduras, dan Papua Nugini. Tidak menutup kemungkinan, ke depannya negara-negara lain akan menyusul.

Di akhir orasi, Priyo kembali menjelaskan bahwa meski telah tercapai kesepakatan antara ASEAN dan Uni Eropa tentang isu kelapa sawit yang dikaitkan SDGs, namun kampanye positif penghasil kepala sawit masih harus terus dilakukan. Harapannya, publik bisa semakin percaya bahwa komoditas ini sebenarnya memiliki banyak nilai positif dan manfaat.(lim)