Sinyal Bahaya Tanah Retak Payung I

new malang pos
Jalur Payung I atau Jalan Brigjen Moh Manan, Kelurahan Songgokerto Kecamatan Batu, Kota Batu retak dan ambles 15 Cm. Ini merupakan kejadian kedua setelah delapan tahun lalu. (NMP/MUHAMMAD FIRMAN)

Mirip Isyarat Awal Longsor Nganjuk

Truk Tonase 15 Ton Dilarang Lewat Payung

NewMalangPos – Kondisi jalan retak di Jalan Brigjen Moh Manan, Kelurahan Songgokerto Kota Batu (Payung I) makin mengkhawatirkan. Truk tonase 15 ton dilarang melewati akses Batu-Kediri itu. Jika hujan, Payung I wajib ditutup. Di lokasi jalan retak kini dipasang alat pengukur getaran tanah. (baca grafis di Koran New Malang Pos edisi 16 Februari 2021)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim kemarin datang ke Payung I. Tujuannya deteksi dini dan penanganan lanjutan. Instansi yang menangani bencana itu tak ingin tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Minggu (14/2) terulang.

Untuk diketahui, hingga Senin (15/2) pukul 16.00 WIB kemarin dilaporkan korban longsor Selopuro Nganjuk 10 orang meninggal dunia, 20 orang belum ditemukan. 186 warga lainnya mengungsi.

Isyarat longsor di Selopuro hampir sama seperti yang terjadi di Payung I. Berdasarkan catatan New Malang Pos, tanah retak di jalan provinsi itu pernah terjadi tahun 2013 atau delapan tahun silam. Sedangkan lokasi longsor Nganjuk terjadi tanah retak tujun tahun lalu, pada tahun 2014.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim Gatot Soebroto yang datang ke lokasi mengatakan pihaknya survei kondisi tanah. “Retakan yang terjadi di ruas jalan Payung I sangat berbahaya. Perlu langkah teknis, kami pun telah survei melihat keretakan tanah di kawasan tersebut. Hasilnya diperlukan kajian lebih dalam,” jelas Gatot kepada New Malang Pos, Senin (15/2) kemarin. Salah satu yang tamoak yakni kondisi Payung I setelah tanah retak menyebabkan tanah ambles sekitar 15 cm.

Sementara itu hasil koordinasi bersama DPUPR Jatim, DPUPR Kota Batu, BPBD, Dishub dan Polres Batu direkomendasikan sejumlah tindakan. Ini sembari menunggu hasil kajian dari pengukuran seismograf di tiga titik berbeda di kawasan Payung I.

Rekomendasi yang dihasilkan yakni pembatasan kendaraan bertonase besar maksimal 15 ton. Alasannya mencegah getaran dan beban tanah bertambah. Kemudian menyiapkan pengalihan arus lalin dan melihat potensi jalan alternatif. Jika  hujan lebat maka Payung I ditutup untuk hindari masuknya air ke dalam retakan tanah yang terbuka dan berpotensi longsor.

Selain itu melakukan perawatan atau perbaikan dengan menutup celah tanah yang retak. Tujuannya mengurangi potensi air yang masuk ke dalam tanah melalui celah tanah retak.

“Selain itu diperlukan support kebutuhan petugas di lapangan ketika harus berlakukan sistem buka tutup kendaraan yang melintas. Juga sarana publikasi untuk manajemen lalin di lapangan,” paparnya.

Serta akan dilakukan rapat teknis lebih lanjut jika diperlukan pengalihan lalin di ruas jalan Batu-Kediri. Tapi kebijakan pengalihan arus lalin menunggu survei apakah jalan masih layak dilalui atau perlu ditutup.

BPBD Jatim meminta DPUPR Provinsi Jatim segera siapkan anggaran perbaikan jalur Payung I yang retak. Sehingga tak berpotensi terjadi bencana dan membahayakan pengguna jalan maupun perekonomian warga.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Achmad Choirur Rochim menambahkan, jalur Payung telah dipetakan sebagai kawasan rawan longsor. Terutama saat terjadi hujan deras selama tiga jam. Seperti yang terjadi awal Februari.

“Kami imbau sementara waktu agar pedagang, utamanya di kawasan Payung I tidak berjualan demi keamanan,” terangnya. Sejak Minggu (14/2) malam.

Kepala DPUPR Kota Batu Alfi Nurhidayat mengatakan tanah retak di jalan Payung I pernah terjadi pada tahun 2013. Karena itulah menurut dia kejadian tanah retak yang kedua kali ini sangat berbahaya.

“Saran kami pembatasan kendaraan. Setidaknya kendaraan besar tidak boleh lewat. Kendaraan kecil bisa melalui jalur Klemuk atau Gunungsari. Karena tanah kawasan ini sangat rawan jangan sampai menanggung beban lebih besar. Sembari menunggu langkah selanjutnya, Dishub Kota Batu dan Satlantas Polres Batu bisa lakukan rekayasa lalin sewaktu-waktu,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan tanah terjadi di Payung I sebenarnya terjadi dua minggu yang lalu. Namun baru dilaporkan pada Minggu (14/2) sore. (eri/van)