Rumah Kita; Saling Menghargai Etika Berbisnis

NEW MALANG POS – Korane telat, boss. Begitu pesan singkat Suadi (bagian ekspedisi) melalui whatsapp, Selasa (20/10) pagi. Pesan itu disampaikan di grup KPK (Kami Pasti Keren). Grup khusus divisi pemasaran New Malang Pos.

Sontak, pasca membaca pesan itu, Suadi, saya telpon langsung. Kenapa? Karena pesan itu dilayangkan di grup pukul 04.15. Bagi orang umum, jam 04.15 memang masih sangat pagi. Apalagi, jadwal sholat subuh jatuhnya pukul 03.48.

Sebaliknya untuk bisnis koran, sudah sangat siang sekali. Apalagi, New Malang Pos tidak dicetak di percetakan di Malang. Tapi dicetak di PT Aksara Grafika Surabaya (AGS), di Jl. Brigjen Katamso, Sidoarjo. Sebuah percetakan besar milik Bisnis Indonesia Grup. Pemegang saham utamanya tidak lain keluarga Sahid Sukamdani Gitosardjono.

“Opok’o kok telat?’’ tanyaku ke Suadi. “Mesine rusak, mas,’’ jawab Suadi dengan sangat tenang. Maklum, di lingkungan New Malang Pos, Suadi memang sangat minim bicara. Kejadian heboh, cetak koran telat pun, dijawab dengan kalem-kalem saja. Tidak perlu berapi-api. Apalagi, sejak semalam, Suadi belum tidur.

“Mesine Bisnis kan banyak?’’ kejar aku. “Mesin pengeplatan sing rusak. Dudhuk mesin cetak’e,’’ papar Adi meyakinkan. Waduh. Kalau mesin pengeplatan yang rusak, tentu sangat sulit. Karena mesin pengeplatan pola kerjanya memakai laser.

Sedang mesin cetak, sistem kerjanya murni teknik mesin. Jumlahnya pun, di setiap percetakan, pasti lebih dari satu. Kalau mesin pengeplatan, satu percetakan, pasti hanya ada satu. Dan memang tidak perlu, atau jarang, harus ada lebih dari satu unit.

“Terus, saiki sampai mana prosesnya, koran kita?’’ kembali aku tanya keadaan New Malang Pos. ‘’Masih pengeplatan. Tapi tidak di sini (AGS). Diplatkan ke Sindo (percetakan Sindo). Iki sik proses,’’ jawab Adi.

Percetakan Sindo, adalah perusahaan percetakan milik Sindo Grup. Lokasinya berada di Jl Rungkut Industri IV, Surabaya. Kurang lebih sekitar 5 km dari percetakan Bisnis. ‘’Semua diplatkan ke Sindo. Dan ini sudah datang platnya,’’ kata Suadi, sekitar pukul 05.45.

Setelah plat New Malang Pos datang, langsung dipasang di mesin percetakan. Proses pemasangan plat sampai persiapan ‘giling’ (cetak) koran, tidaklah terlalu lama. Estimasi sekitar 20 menit. Dan benar, 06.10 koran New Malang Pos, edisi 20 Oktober 2020, mulai digiling.

Setelah dicetak dan dipacking sesuai jatah agen, 06.30, Sigra, mobil ekspedisi New Malang lepas dari percetakan AGS. ‘’Gak usah banter-banter, Di. Pokok’e cepet sampai Malang,’’ pintaku, bernada canda.

Sembari menunggu kedatangan Suadi dari Surabaya, aku susun formasi pengiriman koran ke agen-agen. Tujuannya, meski sudah telat tapi jangan terlalu telat. Sehingga, agen sebagai mitra kerja tidak terlalu dirugikan.

Untuk memudahkan koordinasi, aku dan pak Yono (bagian pemasaran) stand by di Erwan Agency. Agen koran milik Erwan Supratikto di Jl, Kedawung Malang. Solusinya, distribusi koran ke Bululawang sampai Kepanjen ditangani pak Yono. Tidak dengan mobil. Melainkan sepeda motor.

“Kalau pakai mobil malah tambah telat. Lalu lintas sudah ramai. Apalagi, arah Gadang sekarang ini tiap detik cukup padat arusnya. Kalau pakai sepeda (motor) lebih cepat,’’ kilah Pak Yono meyakinkan argumentasinya.

Kemudian untuk distribusi agen-agen ke arah Dau sampai kota Batu, ditangani Hendra. Sama seperti pak Yono. Hendra pun memilih menggunakan motor. Vespa. Sama seperti arah Gadang. Lalin kea rah Dau di kawasan Dinoyo pasti macet. Apalagi kawasan kampus.

Sedang, distribusi agen kota-kota dilayani dengan Sigra. Suadi sebagai driver sangat menguasai benar medan yang dihadapi. Meski kondisi kota Malang juga rawan macet, tapi Suadi bisa menyelesaikan distribusi koran sesuai target.

MINTA MAAF

Menghadapi cetak telat, tidak membuat manajemen New Malang Pos di bawah bendera PT Malang Pos Siber, kobongan jenggot. Tidak perlu menuntut ini dan itu ke percetakan AGS. Meski pun secara bisnis, tentu timbul kerugian material karena koran didistribusikan terlambat ke agen-agen.

Sebagai reader ship koran di Malang Raya, New Malang Pos memilih bersahaja. Memilih bijak melihat dan mengalami persoalan di AGS. Kenapa? Karena kita yakin 1.000 persen, kalau kerusakan mesin plat AGS bukanlah disengaja.

AGS sebagai perusahaan milik kelompok bisnis besar, tentu juga merasa rugi dengan kejadian ini. Bisa saja, AGS ditinggalkan mitra kerjanya. Bisa saja, penerbit yang cetak di AGS tidak lagi mau cetak di AGS.

Sikap manajemen New Malang Pos, ternyata gayung bersambut dengan manajemen AGS. Hari itu juga, 20 Oktober 2020, Direktur Produksi dan Pengembangan Usaha AGS berkirim surat ke New Malang Pos. Yosep Bayu Widagdo sebagai direktur berkedudukan di Jakarta, dengan santun meminta maaf kepada manajemen New Malang Pos.

“Dengan ini, kami segenap management PT Aksara Grafika Surabaya, memohon maaf atas keterlambatan cetak SKH (Surat Kabar Harian) New Malang Pos, akibat trobel di mesin pracetak,’’ ungkap Bayu dalam suratnya tertanggal 20 Oktober 2020.

Inilah bisnis. Segala sesuatu, tidak harus diselesaikan dengan saling klaim. Saling tuntut. Apalagi, jika tidak (belum) surat perjanjian kerjasama. Andai saja New Malang Pos minta klaim ganti rugi, pasti akan ditolak AGS. Kenapa, karena selama ini, tidak pernah ada perjanjian seperti itu.

Dan pasti, setelah klaim ganti rugi dikabulkan, pasti hubungan bisnis selanjutnya akan tidak harmonis. Karena, antar satu dan satunya, saling mengincar kesalahan. “Buat apa minta ganti rugi. Paling-paling, kerugian kita hanya Rp 1 juta. Jauh lebih berharga, kita saling menghargai dengan mitra kerja (AGS) untuk menjaga hubungan selanjutnya,’’ petuah JD Purwanto, Chairman New Malang Pos.

Dan benar. Permohonan maaf Bayu tidak basa-basi. Selasa siang itu juga AGS langsung memanggil teknis untuk membetulkan laser mesin pengeplatan merk Cron,  tipe UVP-4632 FX, buatan Cina ini. Hasilnya,  New Malang Pos edisi Rabu sampai Sabtu hari ini, lancar tidak ada kendala apapun. (hary santoso)