Pers Akselerator Perubahan

NMP
Sugeng Winarno Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

NewMalangPos – Pers Indonesia menghadapi tantangan berat. Industri pers terkena dampak pandemi. Tak hanya itu, pers tanah air juga terancam keberlangsungannya dengan hadirnya beragam platform media yang berbasis internet. Kini pers dituntut tampil sebagai akselerator perubahan pola hidup baru masyarakat hadapi pandemi. Sementara itu, pers juga harus menghadapi gempuran disrupsi media sosial (medsos) dan media digital yang penetrasinya semakin kuat.

            Kalau diibaratkan terkena bencana, saat ini pers tanah air telah tertimpa banjir besar yang ketinggiannya sudah melampaui mulut dan hidung. Pers dalam arti industri media cetak dan elektronik telah mendapat musibah serius. Sejumlah perusahaan pers terlilit kesulitan membayar listrik, membeli kertas, dan membayar gaji karyawan. Sejumlah media cetak ada yang tumbang. Beberapa yang lain mengurangi karyawannya. Ada pula yang merubah format tampilan dan sajian medianya. Semua dilakukan demi kelangsungan hidup medianya.

            Philip Meyer (2004) dalam bukunya “The Vanishing Newspaper” memprediksi bahwa koran akan mati tahun 2043. Ini situasi sulit bagi insan pers. Semua pengelola media dituntut mampu menjalankan medianya sebagai sebuah institusi pers di samping tetap harus mampu menjaga kelangsungannya sebagai sebuah institusi bisnis. Situasi tarik menarik kepentingan antara idealisme dan bisnis yang sering menjadi dilema bagi media massa. Apalagi saat ini pola konsumsi informasi masyarakat telah banyak bergeser ke medsos.

Akselerasi Pers

            Kehadiran pers sangat diharapkan dalam situasi pandemi saat ini. Pers dituntut mampu menyampaikan informasi yang benar terkait pandemi Covid-19. Pers diharapkan hadir mengusung berita-berita yang menjadi pelurus informasi dari masifnya kebohongan yang beredar di medsos. Peran pers dituntut sebagai penjernih informasi di tengah banjir dan keruh informasi saat ini. Pers harus tampil sebagai media rujukan masyarakat dalam mencari kebenaran.

            Pandemi Covid-19 yang diprediksi oleh para pakar kesehatan masih akan berlangsung lama menuntut perubahan perilaku masyarakat. Pola hidup baru masyarakat dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan menjadi hal penting yang harus terus dikampanyekan. Pada situasi ini, pers dituntut mampu memainkan peran strategisnya sebagai media dalam mengakselerasikan perubahan gaya hidup baru masyarakat. Pers perlu terus mengusung informasi pentingnya menegakkan disiplin disaat masyarakat mulai kendor bermasker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. 

            Program vaksinasi pemerintah juga butuh akselerasi pers. Berbagai informasi terkait vaksin dan proses vaksinasi perlu disampaikan pers agar program ini tak banyak menuai penolakan. Beragam keraguan masyarakat terkait vaksinasi perlu dijelaskan oleh pers dengan gamblang. Pers diharapkan mampu menjembatani kepentingan pemerintah dan masyarakat dalam menyajikan dan mendapatkan informasi yang utuh, benar, dan kredibel.

            Pers juga perlu terus membangun semangat optimisme. Beragam upaya pemulihan ekonomi oleh pemerintah perlu dukungan pers. Pers diharapkan mampu turut menggeliatkan ekonomi yang terpuruk walaupun sejatinya pada diri pers sendiri sedang mengalami problem finansial. Pers memang menjadi patner pemerintah, namun pers harus tetap kritis terhadap pemerintah. Demikian halnya posisi pers dengan masyarakat harus juga ideal.

            Akselerasi peran pers di masa pandemi menjadi harapan banyak pihak. Pers dan pemerintah sesungguhnya punya peran yang penting. Bahkan ada yang menilai pers yang jauh lebih penting. Seperti ungkapan Presiden Jefferson dalam pidatonya yang sangat terkenal, yang mengatakan bahwa “Jika saya disuruh memilih antara pemerintah tanpa pers yang bebas dan pers bebas tanpa pemerintah, maka saya akan memilih pers bebas tanpa pemerintah.” Begitu pentingnya pers yang bebas sehingga pers tak boleh ada yang mengintervensi termasuk dari dalam diri pers itu sendiri.

Disrupsi Media Digital

            Lahirnya media baru (new media) berwujud internet telah memicu lahirnya beragam platform medsos. Disrupsi yang terjadi atas munculnya medsos berimbas pada pola konsumsi dan perilaku masyarakat pada informasi. Media pers arus utama (mainstream media) seperti surat kabar, radio, dan televisi telah tergeser oleh media berbasis internet. Informasi yang tersedia lewat mesin pencari online banyak menjadi rujukan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya.

            Tom Nichols (2017) dalam bukunya “The Death of Expertise” menyatakan bahwa telah terjadi euforia medsos yang ditandai dengan ketidakmampuan kolektif untuk membedakan antara yang informatif dan yang spekulatif. Antara yang proporsional dan yang berlebihan. Antara yang mengandung kebohongan dan yang layak dipertimbangkan. Dalam situasi ini dapat menimbulkan dilema bagi masyarakat dan pers.

            Untuk itu peran pers harus lebih diperkuat. Pers menjadi garda terdepan untuk edukasi Covid-19. Insan pers tak hanya telah berperang melawan pandemi, namun juga infodemi. Beragam informasi yang menyesatkan yang banyak beredar di medsos perlu terus diluruskan oleh media arus utama. Peran ini perlu terus dimainkan oleh pers. Dukungan pemerintah dan sejumlah pihak menjadi sangat penting guna mewujudkan pers yang tangguh disaat pandemi.

            Wartawan sebagai ujung tombak pers juga manusia biasa. Mereka juga sangat rentan terpapar virus, sehingga wartawan perlu prioritas vaksinasi. Seperti disampaikan dalam pidato Presiden Jokowi pada peringatan HPN 9 Februari 2021 lalu bahwa untuk wartawan telah disediakan 5.000 dosis vaksin. Jumlah ini tentu masih terlalu kecil dan perlu ditambah karena jumlah wartawan telah melampaui sejuta.

            Pemerintah memang telah menunjukkan kepeduliannya seperti turut memprioritaskan pemberian vaksin untuk jurnalis, pembebasan abonemen listrik, dan keringanan pembayaran pajak. Semoga upaya ini mampu menjaga imunitas pers sehingga bisa tetap menjalankan fungsinya dan menjadi rujukan masyarakat dalam mencari informasi terkait pandemi Covid-19 maupun beragam informasi yang lain.

            Media pers akan tetap dicari ketika memang masyarakat menemukan apa yang mereka cari. Disaat banjir informasi di medsos, masyarakat butuh penuntun dalam menemukan informasi yang benar. Di sinilah pentingnya pers hadir menemani masyarakat. Kalau peran ini mampu diakselerasikan pers dengan baik maka penetrasi medsos akan mampu tergeser.

            Semoga pers tanah air tetap berdaya menjalankan fungsi idealnya dalam memberi informasi, edukasi, hiburan, dan kontrol sosial. Saat pandemi ini semoga pers bisa menjadi media yang terus mendukung semangat negeri ini bangkit dari pandemi, pemulihan ekonomi, dan menjadi  akselerator perubahan. Selamat Hari Pers Nasional.(*)