NMP
IDE KREATIF: Dalang Bagus Baghaskoro Wisnu Murti mengenalkan wayang sinematik agar lebih familiar di kalangan milenial.

Penggagas Wayang Sinematik Bagus Baghaskoro Wisnu Murti

Wayang sinematik bikin pagelaran wayang makin kekinian. Siapapun bisa menikmati seni tradisional bernilai tinggi itu. Itulah karya Bagus Baghaskoro Wisnu Murti. Seniman kelahiran Tumpang ini pun melakukan riset sebelum mendalang.

Daya kreativitas Bagus seiring zaman.  Ia membuat tampilan seni wayang lebih modern dan menarik. Tujuannya menarik generasi milienial dengan wayang sinematik.  Penampilan seni wayang secara sinematik ini menggabungkan unsur teater wayang, komposisi musik kekinian dan permainan teknologi multimedia.

“Biasanya pagelaran wayang menggunakan Bahasa Jawa, tapi kami tidak. Kami menggunakan Bahasa Indonesia,” kata pria kelahiran 1982 ini. 

Bagus mengangkat lakon kisah nusantara berdasarkan data empiris. Kemudian dikemas secara sinematik “Wayang disuguhkan hanya dengan bayangannya saja. Ini untuk memberi imajinasi bagi penonton dalam mempersepsikan bentuk dan wajah wayang sesuai keinginannya,” tutur Bagus.

Lewat bayangan itu lanjut Bagus, karakter wayang lebih mudah dieksplorasi dengan memainkan gerakan menjauh dan mendekat dari sumber cahaya. Sehingga memunculkan berbagai kesan unik, membesar-mengecil.  Kemasannya yang dikolaborasikan dengan unsur-unsur sinematik selayaknya film animasi.

Bedanya lagi, sebelum pementasan dia melakukan riset. Sebab bagi harus ada keterkaitan cerita dengan bukti paling kuat yang bisa dibuktikan. Apalagi berkaitan dengan tempat ia mendalang.

Salah satu contohnya ketika dia mendalang lakon ‘Shri Rajasa Sang Amurwabhumi’ di Malang dan Kediri, Desember 2020 lalu serta rencananya dibeberapa daerah lain.  Lakon tersebut tentang Ken Arok.

Maka alumnus ISI Surakarta ini pun riset tentang Ken Arok. Ia berdiskusi juga dengan sejumlah tokoh budaya dan sejarawan di Malang. Di antaranya mantan Wali Kota Malang Peni Suparto, sejarawan UM Dwi Cahyono dan ayahnya sendiri yang juga dalang senior di Malang, Soerjo Wido Minarto.   

Konsep mendalang ala Bagus ini pula memikat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Ia baru saja dipercaya menjalankan Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan tahun 2020. Gagasan wayang sinematik ini pun mengalahkan seribu lebih proposal yang ingin mendapat Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan. 

Bagus sendiri memang  sudah lama menggeluti dunia seni wayang. Ia mendedikasikan separo umurnya saat ini untuk belajar, pagelaran dan membagi pengalaman. Tidak hanya di negara sendiri bahkan sampai ke mancanegara.

Pada tahun 2017 lalu ia berkesempatan mengunjungi Paris. Dia bersama empat seniman wayang lainnya atas perintah Sekretariat Nasional Perwayangan Indonesia (Senawangi).  “Di Paris saat itu ada  Sidang Unesco, ya menjadi penampil,” tandas Alumnus SMPN 3 Malang ini.

Kemudian sempat pula di tahun 2018 menjalankan program edukasi antarnegara. Di Santiago, Chile mengajar tari dan gamelan. Setahun kemudian, Oktober hingga Desember 2019 lalu diundang University of Cambridge di Inggris. Bagus menjadi Distinguish Visitor (pengajar tamu) untuk pembelajaran seni musik etnik. Di sana ia mengajar cara bermain Gamelan.

“Pengalaman-pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa berbagi pengalaman itu penting. Tentu saya sudah sangat cinta dunia seni. Tapi tidak akan ada apa-apanya jika tidak diteruskan. Saya ingin generasi penerus paham dan juga bisa cinta. Makanya terus inovasi agar anak muda ini juga antusias belajar seni wayang,” pungkas Bagus. (Sisca Angelina/van)