MBAK YOU

NewMalangPos – Indonesia tidak pernah bisa lepas dari dunia mistis dan klenik. Hampir tidak ada kegiatan keseharian yang tidak dikaitkan dengan klenik dan mistisisme. Mulai dari aktivitas rutin seperti memulai pekerjaan, sampai urusan politik tingkat tinggi, selalu ada unsur-unsur mistik yang terlibat.

Presiden Jokowi dikenal sebagai pengamal mistisisme yang tekun. Demikian pula dengan presiden-presiden sebelumnya seperti SBY, Megawati, Gus Dur, sampai ke Pak Harto dan Bung Karno, semua dikait-kaitkan dengan kekuatan mistis sebagai pemberi legitimasi.

Kepemimpinan modern mendapatkan legitimasi dari rakyat melalui mekanisme demokrasi seperti pemilihan umum dan sejenisnya. Pemimpin tradisional mendaptkan legitimasi dari wangsit atau pun pulung. Untuk menjadi pemimpin seseorang harus punya pulung wahyu kedaton.

Pemimpin modern Indonesia merasa bahwa selain mendapatkan mandat dari rakyat mereka juga mendapatkan wangsit dan ketiban wahyu kedaton. Karena itu keputusan-keputusan politik yang diambil tidak semuanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional. Ada unsur-unsur irrasional yang justru sering menjadi pertimbangan pengambilan keputusan.

Bung Karno dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul, penguasa pantai selatan. Di Hotel Indonesia Sukabumi ada satu kamar khusus yang disediakan bagi Bung Karno untuk berkomunikasi dengan Sang Nyai. Ada lukisan besar Nyi Roro Kidul di dinding kamar itu. Suasananya singup dan magis.

Pak Harto punya kekuatan back up spritual dari Bu Tien yang punya trah biru keraton Solo. Konon Bu Tien-lah yang memegang wahyu kedaton.

Habibie tidak bisa lama menjadi presiden karena tidak punya jalur wahyu kedaton. Begitu kata para pemercaya klenik. Apalagi Habibie “gak jowo” bukan orang Jawa, sehingga sulit mendapatkan wangsit wahyu kedaton.

Menurut jangka Jayabaya, penguasa Indonesia adalah “Notonagoro.” Secara harfiah berarti menata negara. Tapi oleh para pemercaya klenik ditafsirkan sebagai akronim dari nama-nama presiden Indonesia. “No” untuk Sukarno, “To” untuk Suharto, dan seterusnya.

Makanya ketika Gus Dur Abdurrahman Wahid jadi presiden para pemercaya klenik jadi bingung karena nama Abdurrahman tidak masuk dalam skema Notonagoro.

Tapi, kata Gus Dur nama Abdurrahman tetap masuk dalam skema Jayabaya, bukan dalam skema Notonagoro tapi “Noto Manconagoro.” Karena itu, setelah Noto (Sukarno dan Suharto) urutan selanjutnya adalah “Man” dan “Co.” Man, tidak ada lain kecuali Abdurrahman alias Gus Dur.

Ini tentu guyonan khas Gus Dur. Mana ada jangka Jayabaya menyebutkan Noto Manconagoro kalau bukan karangan Gus Dur. Ketika ditanya apa Gus Dur juga dapat wangsit wahyu kedaton, Gus Dur jawab dia dapat wangsit mi ayam. Gitu saja kok repot.
Bagi Gus Dur yang piawai dan menguasai filosofi kekuasaan Jawa, masalah-masalah mistis dan klenik dihadapi dengan guyonan saja, tidak perlu diseriusi atau dibikin repot.

Tapi bagi sebagian orang lain soal klenik dan mistis ini masalah serius dan tidak boleh dibuat main-main. Jokowi punya hari keramat Rabu yang bertepatan dengan weton, hari kelahirannya. Keputusan-keputusan strategis dilakukan pada hari Rabu dengan mempertimbangkan pertimbangan primbon yang rumit.

Ada ritual seperti memelihara jenis hewan tertentu seperti kodok dan sejenisnya. Ada pantangan-pantangan tertentu seperti tidak boleh berkunjung ke Kediri, atau juga isyarat-isyarat alam tertentu seperti gunung meletus atau sejenisnya.

Para presiden Indonesia semua dikaitkan dengan Gunung Lawu yang membawai wilayah Mataraman. Para presiden disebut sebagai Putra Gunung Lawu. Secara kebetulan semua presiden Indonesia sekarang ini adalah Putra Gunung Lawu. Itulah ilmu gutak-gatuk matuk. Diutak-atik sehingga jadi cocok.

Budayawan dan wartawan senior Mochtar Lubis sebal dengan fenomena klenik ini. Ia menyebut percaya kepada klenik ini sebagai ciri khas bangsa Indonesia yang negatif dan memalukan.

Klenik tetap menjadi bagian dari budaya politik Indonesia. Setiap kali ada perhelatan politik peran penasihat spritual selalu penting, entah dia dukun, kiai, ustadz, atau lainnya.

Dukun politik pun laris manis. Mereka dibayar mahal dan nasihatnya dituruti. Mereka juga dibayar mahal meski tidak semahal konsultan politik profesional.

Tak ayal dukun politik menjadi profesi yang menjanjikan, dan dukun-dukun politik bermunculan dari generasi ke generasi. Ada Ki Gendeng Pamungkas yang dikenal sebagai raja santet, ada Joko Bodo, ada Mami Lauren, dan banyak lagi.

Yang mutakhir muncul Mbak You yang sekarang lagi viral. Ia meramal bahwa awal 2021 banyak bencana, banjir, gempa, dan gunung meletus. Akan banyak kasus-kasus besar yang menimpa pejabat tinggi, dan ada pemimpin tertinggi yang bakal lengser.
Soal banyaknya banjir dan bencana memang sekarang kebetulan sedang musimnya. Yang jadi persoalan adalah si Mbak You meramal bahwa ada pemimpin yang tahun ini bakal lengser, dan dia adalah Jokowi.

Kontan Mbak You dibully habis oleh para pendukung Jokowi. Bukan sekadar dibully, Si Mbak You juga dilaporkan ke polisi. Akhirnya Mbak You pun harus merevisi ramalannya.

Namanya juga ramalan dukun, harusnya tidak perlu ditanggapi serius. Tapi itulah yang terjadi sekarang ini. Orang mimpi bertemu Nabi Muhammad pun dilaporkan polisi. Orang guyon soal polisi tidur diperiksa polisi. Sekarang dukun pun dilaporkan ke polisi.

Namanya juga ramalan. Sama saja dengan prediksi. Kalau tidak salah ya benar. Cuma dua itu kemungkinannya. Seperti kata pepatah Inggris “Prediction is always almost right or almost wrong”, kalau tidak “hampir salah” pasti “hampir benar.”(*)