Mantan Bupati Malang Berpulang Karena Sakit

NewMalangPosMALANG – Mantan Bupati Malang dan mantan Wakil Gubernur Jawa Timur, Brigadir Jenderal (Purn) TNI Abdul Hamid, wafat di RS Panti Nirmala Minggu (31/1) pagi. Wakil Bupati Malang dua periode tahun 1985 hingga 1995 ini wafat karena penyakit asam lambung.

Diceritakan Sari Widiyanti, hari Kamis sebelumnya, almarhum masih melakukan aktifitas meski selama sebulan terakhir telah mengeluhkan sakit di perutnya. Setelah kembali ke rumah, almarhum diketahui tidak sadarkan diri di kamar dan segera dibawa ke rumah sakit.

“Sebenarnya sempat tidak dibolehin (aktifitas), terus balik Jumat sore sekitar jam 4. Sempat dibawa ke rumah sakit pada Sabtu pagi,” terang Sari, anak keempat almarhum di rumah duka Jalan Kalimosodo No.12.

Meski sempat dirawat di rumah sakit, keesokan hari dikabarkan nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 6 pagi.

“Kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Sudah koma, terus tadi pagi ini meninggal,” cerita Sari, anak keempat almarhum.

Diketahui almarhum meninggalkan 4 anak dan 10 cucu. Jenazah di sholatkan di masjid Nurul Qolby Kalimosodo dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Baca Juga : Minta Pos Polisi Dibangun di Tepi Jalan

Kepergian almarhum juga meninggalkan duka tersendiri bagi Sekda Kota Malang, Wasto. Ia menilai almarhum sebagai pejuang baik di militer maupun pemerintah yang memberikan warna pembangunan yang baik untuk Jawa Timur.

“Salah satunya adalah kontribusi pemikiran beliau. Sehingga era era lanjutannya itukan tidak lepas dari peran pemikiran beliau. Saya cukup kenal dengan almarhum. Sehingga konsep konsep makro beliau dalam perencanaan Jatim diantaranya ya pemikiran beliau,” ujar Wasto saat hadir di rumah.

Wasto juga menilai almarhum merupakan sosok yang disiplin dan sangat dihormati oleh masyarakat.

“Beliau orang disiplin, kemudian juga familier, solidaritas, tokoh ideal pada masanya. Ya pesan kepada keluarga yang ditinggalkan, ini insya Allah yang terbaik untuk semua. Perencanaan Allah lebih baik daripada perencanaan manusia. Sehingga mau tidak mau keluarga harus tabah meneruskan perjuangan beliau sebagai generasi berikutnya,” ujar Wasto. (ian)