Koran Media Rujukan

Kaidah Jurnalistik Kekuatan Media Cetak

NewMalangPos – HARI Ini Hari Pers Nasional (HPN). Tak sekadar merayakan, insan pers merefleksi keberadaannya di tengah tantangan arus zaman. Media mainstream dipercaya tidak akan punah jika tetap konsisten dengan dasar dan pedoman jurnalistik dasar. Media pun harus beradaptasi dan tetap menjunjung tinggi akurasi ditambah kecepatan.

Khususnya media cetak alias koran, konsistensi menjadi kunci utama tetap eksis di tengah gempurna informasi media sosial dan platform media digital. Hal ini disampaikan dua pakar komunikasi. Yakni Pakar Ilmu Komunikasi dari FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sugeng Winarno S.Sos MA dan Maulina Pia Wulandari, Ph.D, dosen jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB.

Sugeng mengatakan, tantangan yang dihadapi media mainstream khususnya media cetak memang cukup berat. Apalagi ketika menghadapi situasi banjir informasi yang datang dari media sosial.

“Tantangannya memang media sosial yang selalu membanjiri dengan informasi. Media sosial memang memberi masyarakat informasi tapi kebanyakan kan tidak valid. Nah di situlah media mainstream bisa masuk,” jelas Sugeng.

Baca juga : Hoaks Vaksin Covid-19

Informasi yang tidak valid dapat menjadi ‘makanan’ media mainstream seperti media cetak. Kaidah jurnalistik, tidak akan dipakai di media sosial. Tetapi wajib diberlakukan di media-media mainsteam.

Teknik seperti konfirmasi, mencari informasi, melakukan peliputan cover both side, disajikan dengan bahasa yang baik. Itulah senjata utama media cetak menghadapi tantangan masa kini.

“Media mainstream jangan coba-coba mengikuti apa yang dilakukan media sosial. Jika menyajikan data seperti menyajikan data di media sosial ya pasti akan mati,” tegas Sugeng.

Ia tak memungkiri bahwa media sosial kini menjadi salah satu pilihan warga mengetahui apa yang terjadi saat ini di sekitar. Hanya saja tidak sedikit pula masyarakat yang mencari alternatif informasi lain dari sumber terpercaya.

Sumber terpercaya ini haruslah memberikan informasi valid. Tidak menimbulkan kebingungan, tanda tanya ataupun hoaks yang kini sering ditemukan di sosial media.

“Makanya jika media mainstream ikut-ikutan cara memberi informasi seperti di media sosial ya kan sama saja. Tidak akan dilirik,” tegasnya.

Ia meyakini, jika media mainstream khususnya media cetak, tetap konsisten memberikan sajian informasi dan produk jurnalistik sesuai pedomannya, pembaca tetap bertahan pada media cetak. Karena pada akhirnya warga pun akan lelah dengan banjir  informasi tanpa ketidakpastian.

Sementara dari ketidakpastian tersebutlah orang akan mencari lebih banyak informasi yang valid. Informasi valid inilah yang bisa disajikan media mainstream. Dengan mendalam atau teknik investigasi yang menarik.

Tidak hanya itu saja, manajemen media pun juga harus bisa beradaptasi. Kreativitas industri media menjadi kunci. Ini disampaikan Maulina Pia Wulandari, Ph.D, dosen jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB.

Menurut pandangannya, media mainstream seperti media cetak tetap bisa eksis. Asalkan beradaptasi dengan teknologi yang ada.  “Lebih kreatif lebih bagus. Manfaatkan chanel YouTube atau Podcast bisa jadi hal yang baik untuk tetap eksis di tengah gempuran media sosial dan teknologi informasi yang serba cepat,” papar perempuan yang akrab disapa Pia ini.

Menurut dia, beradaptasi dengan teknologi akan memudahkan industri media mainstream bertahan. Itu karena menjawab kebutuhan teknologi masyarakat yang juga berkembang terus dari masa ke masa.

Pia yakin semakin banyak platform media digital yang digandeng media mainstream akan semakin banyak pula jenis pembaca yang bisa ditarik. Tidak hanya itu, wartawan pun juga harus mampu beradaptasi.

“Wartawan jika punya kemampuan tidak hanya menulis atau mencari berita, tapi misalnya dia juga bisa edit video, copy writing dan lain sebagainya juga pasti akan sangat membantu. Wartawan yang bisa multitasking juga bisa menentukan keberlangsungan industri media itu sendiri,” paparnya.

Nasib atau masa depan industri media tetap akan cerah, selama masyarakat masih hidup. Kejidupan akan dinamis. Kedinamisan ini juga dapat menimbulkan ketidakpastian. Ketidakpastian  membuat orang mencari lebih banyak informasi.

Informasi adalah yang diangkat di industri media. Dengan dasar inilah industri dedia sampai kapanpun akan tetap menjadi sesuatu yang promising (menjanjikan).

“Tetapi ingat juga. Karena ini dunia serba cepat. Informasi yang beredar juga serba cepat. Media cetak, khususnya juga harus menyajikan informasi cepat. Tapi juga harus akurat. Maka jika media cetak punya banyak platform media digital lainnya saya pikir itu bisa membantu eksistensi. Tinggal bagaimana mengelola dengan baik saja,” pungkasnya. (ica/van)

Kerja Jurnalis yang Tak Terlupakan

TIGA tokoh beda medan pengabdian ini kangen dunia wartawan. Mereka menghidupi koran di zamannya dengan karya jurnalistik. Meski bukan jurnalis lagi, tetap berharap wartawan mencerahkan zaman.

Ketiganya yakni Menko PMK Muhadjir Effendy dan  Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Azka Subhan Aminurridho. Begitu juga dengan  Regional Manager Corcom PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Cabang Malang, M. Faruq Asrori.

Muhadjir merindukan saat dulu bergelut di dunia pers. Apalahi dia sempat menginisiasi terbentuknya koran kampus. Ini diceritakannya Muhadjir dalam Webinar Hari Pers Nasional, ‘Pers Bersama Pemerintah dan Semua Elemen Masyarakat Bisa Mengawasli Kebangkitan dan Kekuatan untuk Keluar dari Pandemi Covid-19’. Kegiatan ini didakan PWI Malang Raya via Zoom, Senin (8/2) kemarin.

AzKepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Azka Subhan Aminurridho

“Saya dulu itu wartawan lepas di kampus. Lumayan dulu itu bisa nambah penghasilan waktu kuliah dulu,” kenang alumnus IKIP Malang (sekarang UM) tersebut. Selepas mahasiswa, ia mengandi sebagai akademisi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dunia pers tak bisa ditinggalkan. Muhadjir menginisiasi terbentuknya koran kampus di UMM. Kini dikenal dengan Majalah Bestari. Pengalamannya ini membuatnya kerap kangen dengan kehidupan pers. 

Muhadjir merindukan kerja jurnalistik kala wartawan saat hendak mewawancarainya. Jika dikerumuni wartawan, selalu teringat masa ia menjadi wartawan walalupun di lingkungan kampus.

Baginya kerja seorang wartawan sangatlah menarik. Ia mengagumi profesi wartawan hingga saat ini.“Aslinya saya jadi menteri karena drop out ndak jadi wartawan ya. Saya ini lho dari dulu sampai sekarang belum juga jadi anggota PWI, susah ya jadi anggota PWI. Sampai sekarang calon anggota PWI terus,” ungkap Muhadjir lalu tertawa.

Di HPN 2021, ia berharap profesionalisme kerja insan pers tetap dijunjung tinggi. Sebagai salah satu pilar demokrasi, pers tetap akan menjadi mitra pemerintah kapanpun. Sumbangsih pemikiran, kritik melalui tulisan harus terus disajikan media.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Azka Subhan Aminurridho tertarik dunia jurnalistik sejak SA. Ia pernah kursus jurnalistik pada kakak kelas di sebuah universitas yang berbagi ilmu ke sekolah. 

Saat itu Azka membuat tulisan di koran Suara Merdeka, koran terbesar di Jawa Tengah. Nama rubriknya, ‘Pengalaman Tak Terlupakan’. Ini berisi pengalaman lucu. “Tulisan saya tentang vespa saya yang diboncengi cewek paling cantik di SMA, tiba-tiba lepas knalpotnya. Suaranya meraung-raung bikin malu lalu terpaksa si Dina lanjut naik becak ke rumahnya, sedangkan saya ke bengkel benerin knalpot vespa,” kenang Azka.

Azka kuliah di jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Purwokerto. Ketika menjadi mahasiswa, ia melampirkan pengalaman pernah kursus jurnalistik. Dia mendapat ditugas membuat majalah baru. Lahirlah AGRICA, majalah Fakultas Pertanian Unsoed. Pria ramah ini menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) saat itu.

Sejak itulah semakin banyak tulisan yang ditorehkannya. Mulai dari features, laporan kegiatan kampus hingga opini yang terbit di Suara Merdeka. Honor yang diterimanya terbilang cukup lumayan, bisa buat pacaran dan makan-makan sama teman aktivisnya.

Dia pun naik kelas bersama aktivis pers mahasiswa di fakultasnya. Kemudian lahirlah Tabloid Sketsa, level universitas. Azka sebagai redaksi sekaligus pemimpin usaha yang mengelola supporting produksi ke redaksi seperti percetakan, iklan, lay out dan lain-lain. “Di sinilah juga saya bertemu mantan pacar yang sekarang jadi istri, ia dari Fakuktas Ekonomi,” begitu nostalgianya.

Setelah lulus kuliah Azka melamar pekerjaan di dua tempat. Yakni Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) dan Suara Merdeka. Lowongan pekerjaan tersebut dibuka bersamaan, namun pengumuman kelulusan lebih dulu BDNI. Dua minggu kemudian menyusul ia lolos di Suara Merdeka dan diundang mengikuti tes tahap akhir.

 “Saat itu saya sudah pendidikan di BDNI sehingga tak bisa test akhir di Suara Merdeka menjadi wartawan,” kisahnya.

Melamar pekerjaan sebagai wartawan tersebut tepatnya tahun 1991. Aktivitasnya menulis tidak lagi sempat dilakoni ketika bekerja di BDNI. “Lalu tahun 1995 saya daftar ke BI dan alhamdulillah lulus dan ditempatkan di Jakarta,” kata Azka.

Meskipun bekerja di BI,  Azka sempat mengelola majalah Kompak, media internal BI menjadi redaksi. Ia juga kerap ikut lomba menulis di internal BI, beberapa kali meraih juara. Terakhir tahun 2018 lalu Azka Juara 2 Nasional menulis tentang kewirausahaan UMKM se-BI.  

Menurut Azka, media mestinya menjadi entitas atau lembaga yang menjadi garda terdepan dalam perang melawan hoax. Cover both side menjadi kunci utama yang harus media lakukan dalam menangkal hoax, memverifikasi secara cermat dan teliti suatu informasi yang ada sehingga tidak menyampaikan hal-hal hoax kepada masyarakat.

Regional Manager Corcom PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Cabang Malang, M. Faruq Asrori juga masih berada di lingkaran wartawan ketika sudah tak bekerja sebagai wartawan koran. Itu karena ia masih bersahabat dengan jurnalis. 

Menurut dia, koran idealnya menyajikan sesuatu yang berbeda. Seperti berita yang disuguhkan ke pembaca lebih lengkap dan mendalam, tidak mengikuti arus. Atau menampilkan foto yang berbeda dari media lainnya, karena sesuatu yang berbeda akan selalu diburu.

Di sisi lain koran juga harus bersaing dengan online khususnya berkaitan dengan informasi bohong atau hoax. Di sinilah peran media cetak untuk kroscek kejadian tersebut, menguatkan kembali fungsi cover both side.

“Sekarang kondisinya kalau ada informasi langsung di share atau di posting konfirmasinya masih besok ternyata salah, jadi setiap ada informasi gak hanya dari satu sisi melainkan ada sisi yang berbeda,” kata mantan wartawan Radar Surabaya ini.  (ica/lin/van)