Keroyok Sopir Ambulans, Dijebloskan Penjara

NewMalangPos – Insiden tertukarnya jenazah protokol Covid-19 di TPU Kasin, Kamis (28/1) berujung penjara. BHO alias Budi dan MNH alias Naufal dibekuk petugas Polresta Malang Kota (Makota) karena mengeroyok Liberatus Alfa, sopir ambulans pengangkut jenazah Wakhid hingga pingsan. (baca grafis di koran New Malang Pos edisi Sabtu, 30/1)

Alfa mendadak dikeroyok keponakan dan anak almarhum Wakhid begitu mengetahui jenazah yang dimakamkan di TPU Kasin tertukar. Padahal ia tak tahu persoalan lantaran bertugas sebagai soopir.

Seperti diberitakan New Malang Pos Jumat (29/1) kemarin, heboh jenazah tertukar di Kota Malang, Kamis (28/1) siang. Baru ketahuan saat akan memasukan peti jenazah di liang lahan TPU Kasin.

Saat itu situasi mendadak tegang, keluarga almarhum Wakhid mengamuk. Alfa merupakan korban amukan itu. Dia pingsan lalu dilarikan ke RKZ. Polisi pun turun tangan setelah kasus pengeroyokan dilaporkan ke Polresta Malang Kota (Makota).

Kapolresta Makota Kombes Pol Leonardus Simamarta mengatakan personelnya mulai bergerak sejak Kamis (28/1) malam. Pertama kali membekuk BHO alias Budi di rumahnya di Jalan Peltu Sujono, Gang Cilung, Ciptomulyo, Kota Malang. Pria 25 tahun ini merupakan keponakan almarhum Wakhid.

Sedangkan anak almarhum Wakhid, MNH alias Naufal ditangkap Jumat (29/1) kemarin sekitar pukul 10.30 WIB di depan Puskesmas Janti. Pria 21 tahun ini langsung dibawa ke Mapolresta Makota. 

Berdasarkan asil pemeriksaan, kasus ini berawal saat Budi dan Naufal dikabari Kapolsek Klojen pada Kamis (28/1) dini hari di ruang jenazah RSSA. Informasi yang disampaikan bahwa pemakaman jenazah Wakhid sesuai urutan pemakaman nomor urutan kedua. Etsimasi waktu pemakaman sekitar 10.00 sampai 11.00 WIB. Namun setelah koordinasi pihak berwenang, jenazah Wakhid dapat giliran nomor empat. 

Sekitar pukul 12.37 WIB, petugas PSC 199 berkoorinasi dengan Budi melalui telepon. Mereka menyampaikan pada jam 10.00 sampai 11.00 WIB proses memakamkan jenazah nomor urut 3. Selain itu juga masih harus memakamkan jenazah lainnya di wilayah Sukun. 

Namun sekitar pukul 13.30 WIB, Budi dan Naufal mendatangi ruang jenazah RSSA. Mereka mendapat informasi lanjutan bahwa proses pemakaman jenazah Wakhid diloncati menjadi nomor urut lima. Alasannya masih harus menyelsaikan yang satu lokasi di Sukun.

Hingga akhirnya dibawalah jenazah dari ruang jenazah RSSA yang awalnya dianggap  jenazah Wakhid. Namun saat akan memakamkan diketahui bukan jenazah Wakhid. Itu dari tulisan yang tertera di peti jenazah. Nama yang tertulis yakni Sugianto. Jenazah Sugianto mestinya dimakamkan di TPU Balearjosari. Akhirnya balik lagi ke RSSA untuk mengambil jenazah Wakhid.

Sementara itu Kasubag Humas RSSA, Dony Iryan Vebri Prasetyo mengatakan cecok sudah dimulai sejak di kamar mayat RSSA.  “Pihak pemulasaran jenazah sudah cekcok dengan keluarga sejak dari kamar mayat, lantaran petugas mendahulukan proses pemakaman untuk jenazah nomor 3 dan nomor 5 yang bertempat sama yaitu di TPU Sukun dengan alasan efisiensi, sementara jenazah keluarga tersbut berada diurutan nomor 4,” ungkap Dony.

Selain itu kondisi petugas juga diduga kelelahan. Hingga saat ini memang sistem pelabelan peti jenazah menggunakan spidol permanen saja. Selama ini pun tidak ada masalah terkait itu.

“Petugas kan posisi juga sudah lelah, kemudian tidak sengaja memasukkan peti nomor urut 6 ke ambulans. Selanjutnya nanti kita juga akan tempelkan identitas gelang korban saat masih hidup atau dicetakkan serupa, ke peti jenazah. Apabila dibutuhkan kami siap memberikan keterangan,” lanjutnya.

 Wali Kota Malang Drs H Sutiaji menyesalkan kejadian tertukarnya jenazah yang berujung tindakan penganiayaan pada salah satu tim PSC Kota Malang. Ia menganggap kejadian tersebut mestinya tidak seharusnya berujung tindak kekerasan.

Saat ditemui di Balai Kota Malang, Jumat (29/1) Sutiaji mengaku telah membesuk anggota PSC 119 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang yang menjadi korban pemukulan.

“Iya tadi saya ketemu. Kondisinya sudah membaik. Dia mengalami gegar otak ringan. Tapi besok (hari ini,red) sudah boleh pulang kata dokternya,” papar Sutiaji kemarin usai menjenguk anggota PSC di Rumah Sakit Panti Waluya (RKZ) Malang.

Menurut informasi yang didapat Sutiaji, kesalahan tertukarnya jenazah memang benar terjadi. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan tim yang di hari itu harus melayani banyak permintaan pemulasara jenazah.

Atas kesalahan yang terjadi tersebut, dilanjutkannya, Pemkot Malang menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas kejadian tertukarnya jenazah tersebut. Hal ini tentu akan menjadi bahan evaluasi pihaknya kedepan akan tidak lagi terjadi hal yang sama.

“Hanya saja kami menyangkan adanya pemukulan. Warga seharusnya tidak melakukan itu, main hakim sendiri,” tegas alumnus IAIN Malang ini.

Apa yang terjadi tersebut juga tidak luput dari kesalahan. Ia menganggap tim PSC, sebagai tim pemulasara jenazah covid-19, selama ini memiliki tugas yang berat. Jam kerjanya pun tidak bisa ditentukan.

Bahkan, ia mengetahui sendiri, tim PSC Kota Malang melayani tak kenal waktu. Tengah malam pun memberikan pelayanan.

“Makanya itu, mohon dimaklumi. Kami berharap agar masyarakat dapat memaklumi kerja anggota PSC ini. Mereka pasti kelelahan,” papar Sutiaji.

Ditanya mengenai proses hukum yang berjalan, Sutiaji mengatakan tidak dapat mengintervensi apapun. Pihak keluarga korban (keluarga anggota Tim PSC korban pemukulan) tetap ingin menempuh jalur hukum atas pemukulan yang terjadi. (dj7/ica/van)