Kandek Purwantoro, Pemulung Jadi Bos Bank Sampah

NEW MALANG POS – Dari pemulung naik kelas jadi bos bank sampah. Begitulah kisah Kandek Purwantoro, warga Kota Batu. Di tangannya, barang bekas dan sampah berceceran punya nilai ekonomis. Ia juga tak henti-hentinya mengedukasi warga agar tak buang sampah sembarang tempat.

Hari-hari Kandek Purwantoro berurusan dengan sampah. Tak ada istilah jijik baginya. Ia familiar dengan urusan sampah. Awalnya tahun 2002 lalu, dia pemulung.  Seiring waktu, pria ramah ini mulai berpikir bahwa sampah harus dipilah dan diolah. Selain bernilai ekonomis, juga jadi sarana pendidikan lingkungan.

“Banyak orang menjauhi bau busuk sampah dan barang bekas. Padahal memiliki nilai ekonomi. Bisa jadi sumber mata pencaharian,” kata Wawan, sapaan akrab Kandek Purwantoro.

Bergelut dengan sampah membawa Wawan naik level. Ia punya kesadaran baru lalu mendirikan bank sampah pada tahun 2013 lalu. Warga Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu ini tercatat sebagai pendiri bank sampah pertama di Kota Batu. Awalnya ayah dua anak ini mendirikan bank sampah di rumahnya, di Jalan Melati, Pesanggrahan.

Bank sampah yang didirikan Wawan tak sekadar mengumpulkan, memilah dan mengolah hingga menjual sampah. Tapi juga menjalankan fungsi pendidikan lingkungan. “Saya berpikir bagaimana agar ibu-ibu tak membuang sampah di sungai. Karena itu saya beri edukasi dan sosialisasi di Pesanggrahan agar para ibu-ibu sadar akan pencemaran lingkungan,” terangnya.

Wawan pun intens edukasi kaum ibu bahwa sampah bisa menambah pendapatan. Karena dari memilah sampah, ibu-ibu akan mendapat tambahan penghasilan. Sekaligus menjaga lingkungan.

Komitmen dan konsistensi Wawan mengelola bank sampah mengundang perhatian PKK Kota Batu. Pada tahun 2015 ia bersinergi dengan TP PKK mendirikan puluhan bank sampah di tingkat RW. Sampai saat ini bank sampah di Kota Batu terus bertambah hingga 80 titik tersebar di 24 desa dan kelurahan.

“Untuk mendirikan bank sampah di puluhan titik tidak mudah. Karena mengajak warga agar sadar dan terlibat sangat susah. Jadi harus ada pendekatan kepada ibu-ibu tentang manfaat dan dampak buruk terhadap lingkungan akibat sampah,” jelasnya.

Setelah bank sampah bertumbuh, warga mulai melirik dan tergerak. Wawan mencatat,

sekitar 20 persen dari total 207 ribu penduduk Kota Batu berpartisipasi.

Banyak warga berpartisipasi, Wawan makin semangat. Saat ini, ia sendiri yang mengambil sampah setiap hari di bank sampah. Per hari ia bisa mengumpulkan sampah bekas antara 5 kwintal hingga 1,5 ton.

Dengan konsep limbah menjadi berkah itulah, dia tetap membeli sampah bekas dari bank sampah. Rata-rata bank sampah mendapat uang mulai dari Rp 300-1,5 juta. Uang sebanyak itu kemudian dibagi kepada anggota bank sampah sesuai dengan banyaknya setoran sampah.

Tiap harinya, laki-laki yang tak tamat SMP ini mampu mengambil sampah bekas di tiga titik dari 80 titik. Secara bergantian mengangkut sampah menggunakan mobil pikap. Dalam sebulan ia menghabiskan waktu 26 hari mengumpulkan sampah dari 80 bank sampah di Kota Batu.

“Kita tak bisa pure sosialisasi dan edukasi. Dua itu memang yang utama. Tapi kita juga harus memikirkan operasional sehari-hari dengan cara menjual kembali sampah agar tetap bisa bertahan dalam mencari penghasilan,” terangnya.

Upaya yang dilakukan Wawan tak sekadar mengumpulkan uang. Sosialisasi dan edukasi yang dilakukan tentang pentingnya mengolah, memilah, dan mendaur ulang sampah menjadi langkah kecil menyelamatkan bumi.

Kini dia tercatat di Forum Kota Batu sebagai edukator pengolahan sampah. Juga tergabung dalam Sabers Pungli yang juga menjadi edukasi untuk pengolahan limbah sampah. (eri/van)