Jurnalistik Asyik di Polres Malang

NewMalangPos– Ratusan anggota Polres Malang belajar jurnalistik asyik dari New Malang Pos (NMP), Selasa (26/1) kemarin. Ini merupakan program meningkatkan kapasitas personel Korps Bhayangkara.

Pelatihan jurnalistik bertajuk Bhayangkara Polres Malang Berkarya ‘Menulis Berita dengan Fakta’ ini terdiri dari sejumlah materi. Mulai dari dasar jurnalistik, fotografi hingga kode etik jurnalistik.

Pemred NMP Abdul Halim mengawali pemaparan materi dasar jurnalistik dengan memberi semangat bahwa jurnalistik itu asyik. Peserta pelatihan sebanyak 120 orang ini langsung bersemangat  mengetahui berjurnalistik menyenangkan. Apalagi mereka merupakan anggota Babinkamtibmas dan Sie Humas dari masing-masing polsek jajaran Polres Malang.

Halim mengajak para anggota polisi bisa menulis. Dan tulisan tersebut bisa diaktualisasikan pada media mainstream maupun media sosial.  Menulis kata dia selain berkaitan dengan tugas kepolisian bisa bertema apa saja. Mulai dari potensi wisata, hasil perkebunan, kondisi alam atau lainnya.

Halim lalu mengurai proses awal menulis berita. “Di sini kita mulai dari dasar dulu. Sebelum menulis, seorang wartawan harus mengetahui dulu apa yang akan ditulis, dengan cara mencari data ,’’ katanya.

Mencari data dapat dilakukan dengan memanfaatkan jaringan informasi yang merupakan jaringan pertemanan.  “Contohnya, siang ini ada kejadian kecelakaan di Ampelgading. Sementara wartawan dan fotografernya sedang mengikuti kegiatan ini (pelatihan menulis). Caranya memanfaatkan jaringan yang ada. Bisa menghubungi polisi yang menangani, atau mencari saksi lain terkait dengan kejadian tersebut,’’ urainya.  Dari informasi data inilah kemudian diolah menjadi berita.

“Ini juga yang perlu kami jelaskan, bahwa berita itu adalah informasi atau kejadian yang sudah terjadi atau sedang terjadi dan akan terjadi. Kemudian diliput oleh wartawan dan dipublikasikan di media massa baik cetak maupun elektronik,’’ kata alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Kunci mendapatkan berita adalah bertanya. Seorang wartawan harus bertanya. Lalu apa saja yang bisa menjadi berita?  Halim menyebutkan ada 13 kunci yang menjadi patokan sebuah berita. Pertama adalah aktual, penting, esklusif, tokoh, proximity, luar biasa, human interest, konflik, ketegangan, seks, progresif, humor dan tren.

“Jika ada sesuatu, dan sesuatu itu memiliki unsur dari  13 unsur tersebut layak dibuat berita,’’ katanya.

Selain mendapatkan materi tentang cara menulis, peserta juga dibekali  materi tentang fotografi. Materi itu diberikan fotografer sekaligus Manager Web dan Liputan New Malang Pos, Guest Gesang. Dikatakan Guest, sebuah berita akan semakin menarik jika disertai dengan foto. Tentu saja, bukan foto biasa. Tapi foto yang betul-betul menggambarkan suasana atau kejadian yang sedang terjadi.  Foto dalam berita juga wajib diberikan caption. Yang fungsinya menerangkan apa yang terjadi.

“Di berita sudah dituliskan secara detail peristiwanya. Saat berita itu ada fotonya, maka juga harus diberikan keterangan, agar pembaca mengetahui apa yang tergambar dalam foto tersebut,’’ urainya.

Guest memaparkan materi secara detail. Yakni foto-foto yang bagus dan menarik.  Selain itu, identitas yang memotret juga wajib dicantumkan. Foto menurut Guest merupakan karya, dan memiliki hak cipta. Sehingga saat foto dikirimkan untuk sebuah laporan pun harusnya disertakan identitas yang memotret.

 “Kadang wartawan juga meminta foto kepada narasumber. Tapi selama ini tidak ada identitas yang mengambil foto. Sehingga namanya pun hanya diberikan istimewa,’’ ungkap Guest.

Sama seperti mencari berita. Seorag fotografi harus memiliki insting, dan mencari yang berbeda. Sehingga foto yang dihasilkan luar biasa. Di kategori ini, Guest mencontohkan karyanya. “Ini pemain asing, tapi celana dalamnya robek. Ada juga seorang pemain bola, yang harus memotong kaos kakinya, lantaran cidera. Ini juga lain dari pada yang lain, untuk pembambilan sisi detail foto,’’ urainya.

Tak lupa, Guest pun mengatakan seorang fotografer harus memiliki rumus EFDAT. Yakni Entire, Framing, Detail, Angle dan Timing. Rumusan itu harus digunakan untuk mendapatkan foto dengan kualitas dan gambar yang bagus.

“Disini bapak-bapak sudah memiliki HP dengan kamera yang saya yakin semuanya sangat oke. Memory HP juga besar. Dengan begitu, untuk mendapatkan foto yang bagus bukan hal yang sulit. Kuncinya belajar dan terus berusaha,’’ tandas Guest.

Sekretaris Redaksi NMP Muhaimin  memberikan materi tentang kode etik jurnalistik dan media sosial. Ia mengatakan, seorang wartawan yang melakukan peliputan dan menulis berita harus paham dengan kode etik jurnalistik. Dengan begitu tulisan yang ditulis wartawan berdasarkan kaidah jurnalistik dan bukan berita bohong.

“Dalam kode etik jurnalistik sudah diatur semuanya tentang penulisan berita. Salah satunya berita harus seimbang,’’ katanya. Muhaimin mencontohnya berita seimbang ini, saat menemukan berita konflik. Seorang wartawan harus konfirmasi kepada orang-orang yang berkonflik, sehingga pembaca mengetahui dari sisi peristiwa secara utuh. “Jika tidak ada konfirmasi, atau berita yang tidak berimbang, wartawan atau media dapat diadukan ke Dewan Pers,’’ ungkapnya.

Berbeda lagi dengan informasi di media sosial. Informasi di media sosial bisa saja bukan kejadian yang sebenarnya. Tapi ini juga harus dipahami, sekarang sudah ada undang-undang yang bisa menjerat seseorang yang menyebarkan berita bohong. “Data kami lebih dari 300 orang dijerat UU ITE sejak UU  tersebut dikeluarkan, lantaran membuat berita bohong,” kata Aim, sapaan akrabnya.  

“Menulis itu tidak sulit, dan seorang penulis dibutuhkan kreativitas agar informasi yang diolah menjadi berita betul-betul sesuatu yang baik dan menarik,’’ ungkapnya.

Dalam pelatihan itu, Aim juga mengajak seluruh peserta praktik membuat berita lengkap dengan judul, serta  foto dan captionnya. Karya berita itu dikirimkan ke Instagram dengan hastag #Polresmalangberkarya.

Pelatihan ini dibuka Wakapolres Malang Kompol Toni Kasmiri. Dalam sambutannya, Toni yang mewakili Kapolres Malang AKBP Hendri Umar mengatakan pelatihan menulis untuk menjaga sinergitas dan harmonisasi antara Polres Malang dengan media.

“Esensi dari pelatihan menulis ini untuk meningkatkan kompetensi anggota di lapangan sebagai Babinkamtibmas dan Sie Humas di setiap polsek. Harapannya anggota memiliki wawasan luas serta tambahan pengetahuan,’’ katanya.

Dia berharap anggota Babinkamtibmas dan Sie Humas bisa mengeksplore sumber informasi yang akan dilaporkan kepada pimpinan dan disampaikan ke masyarakat dengan baik.

Seiring dengan itu, Toni pun meminta, anggota yang menjadi peserta mengambil ilmu dan pengetahuan yang disampaikan pemateri. “Pahami, pedomani dan laksanakan. Sehingga ilmu yang didapat bisa ditularkan ke anggota Babinkamtibmas lainnya yang belum hadir. Agar ada keseragaman laporan berita atau informasi yang akan disampaikan kepada pimpinan dan masyarakat,” pesannya. (ira/van)