Gelar Wayang Kulit Virtual, Lakon Wahyu Tirto Asih

NEW MALANG POS, MALANG – Pagelaran wayang kulit berjuluk ‘Wahyu Tirto Asih’ jadi puncak peringatan HUT ke-1260 Kabupaten Malang, di Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Sabtu (28/11) malam. Menghadirkan dalang asal Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Ki Setiyo Wahyudi, wayang kulit digelar semalam suntuk.

Hadir pada kesempatan ini, Pjs Bupati Malang Sjaichul Ghulam didampingi Sekda Kabupaten Malang Wahyu Hidayat, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Made Arya Wedanthara, serta beberapa Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Malang.

Dalam sambutannya, Pjs Bupati Malang mengapresiasi atas diselenggarakannya wayang kulit ini. “Kita ketahui bersama bahwa kesenian wayang kulit merupakan  warisan budaya leluhur yang harus kita lestarikan. Selain itu kesenian wayang kulit mempunyai nilai histori yang terkandung di dalam cerita yakni salah satunya menanamkan nilai moral kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Secara simbolis, Pjs Bupati Malang yang biasa disapa Abi Ghulam menyerahkan gunungan kepada dalang Ki Setiyo Wahyudi. Sekaligus menandai wayang kulit resmi digelar, namun tidak terbuka untuk umum. Lantaran masih dalam kondisi pandemi Covid-19, sehingga pementasan kali ini digelar secara virtual, melalui live streaming chanel Youtube Dinas Kominfo Kabupaten Malang dan siaran tunda UB TV Malang.

“Saya berharap kepada Ki Dalang untuk tetap bersemangat dalam berkarya dan terus menginspirasi, terutama para generasi muda agar tertarik dengan kesenian wayang kulit. Sehingga seni dan budaya termasuk wayang kulit, bisa lebih populer dengan diadakan secara intens,” terang Abi Ghulam.

Sebelum wayang kulit dimulai, tamu undangan mendapat suguhan tari pembuka beskalan putri. Sementara wayang dengan lakon Wahyu Tirto Asih ini bercerita tentang Bima usai mandita di pertapaan Argakaelasa. Setelah kewajiban Sang Brahmana, Bima kembali ke Kesatriyan Unggul Pawenang.

Kembalinya Bratasena menjadi Kesatria, menjadikan dunia gempar sehingga semua kalangan ingin memboyongnya untuk ngalap berkah. Namun hanya satu yang bisa memboyong Bima, ia adalah sang pamomong atau Kiai Badranaya atau Kiai Semar. Karena hanya Kiai Badranaya yang bisa menuruti permintaan (Bebana), dengan keikhlasan beserta hati yang tulus akhirnya Kiai Semar mendapat kanugrahan Wahyu Tirto Asih.

“Semoga di ulang tahun ke-1260 tahun ini, Kabupaten Malang jadi kabupaten yang unggul, jaya dan dibanggakan nusantara. Selamat Kabupaten Malang, selamat bumi Kabupaten Malang, selamat para pejabat dan warganya semua,” ungkap Ki Setiyo Wahyudi di akhir dalangnya. Gelaran wayang kulit ini berlangsung 5 jam lebih, hingga Minggu (29/11) dini hari.(bua/agp)