Darurat! Puluhan Warga Brau Dievakuasi

new malang pos
Puluhan warga yang bermukim di RT 2, RW 10 Dusun Brau, Desa Gunung Sari, Kecamatan Bumiaji Kota Batu diungsikan

NewMalangPos – Puluhan warga yang bermukim di RT 2, RW 10 Dusun Brau, Desa Gunung Sari, Kecamatan Bumiaji Kota Batu diungsikan Selasa (2/2) tadi malam. Proses evakuasi dilakukan sekitar pukul 21.00 WIB. (baca grafis di Koran New Malang Pos edisi 3 Februari 2021)

Laporan yang diterima New Malang Pos tadi malam, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Batu bersama perangkat desa melakukan evakuasi setelah terjadi beberapa titik longsor. Bahkan salah satu jalan akses Brau tertutup material longsor. Selain itu ditemukan retakan tanah dan hujan ringan. Seketika warga dipindahkan ke sejumlah tempat aman yang telah disediakan.

Proses evakuasi warga Brau tadi malam merupakan yang kedua kalinya. Pertama pada Senin (1/2) malam lalu setelah alarm Early Warning System (EWS) atau alat deteksi dini bencana meraung-raung.

Sirene deteksi dini tanah longsor itu berbunyi hingga 17 kali. Yakni siang dua kali dan Senin (1/2) malam 15 kali. Sirene meraung-raung sampai pukul 20.00 WIB. Begitu alarm berbunyi petugas BPBD Kota Batu langsung mendatangi lokasi untuk evakuasi sejumlah warga. Terutama yang rumahnya berada di kawasan rawan longsor. Tepatnya di RT 2, RW 10 Dusun Brau.

Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu mengatakan petugas langsung melakukan evakuasi 15 kepala kelurga yang ada di kawasan rawan longsor pada Senin (1/2) malam. “Ada 15 kepala keluarga (KK) yang kami evakuasi. Evakuasi dilakukan untuk mencegah adanya korban. Ya antisipasi dini,” jelasnya.

Untuk diketahui jika dirinci, 15 KK itu terdiri dari 56 warga secara keseluruhan. Agung menjelaskan, dugaan awal hasil kaji cepat alarm berbunyi karena kemungkinkan terjadi gerakan tanah pada lokasi. Namun karena gelap petugas kesulitan melakukan pengamatan di lokasi. Karena itu langkah pertama langsung evakuasi warga.

“Dari 15 KK berada pada kawasan rawan longsor, sekarang satu KK yang terdiri dari tiga orang melakukan evakuasi mandiri mengungsi ke rumah keluarga. Bukan di tenda yang telah disiapkan,” jelasnya.

Sedangkan 14 KK lainnya kemarin pagi sempat kembali ke rumah masing-masing. Mereka belum bersedia dievakuasi jika tak ada tanda-tanda longsor. Agung menerangkan, dari hasil koordinasi dan rekomendasi penanganan, warga di daerah rawan longsor disediakan tempat evakuasi ketika alarm berbunyi. “Dengan begitu tempat evakuasi akan digunakan warga saat alarm EWS berbunyi, terjadi hujan deras, atau adanya kebijakan perintah dari sistem komando siaga darurat bencana untuk melakukan evakuasi,” jelasnya.

Dia mengatakan kemarin, juga dilakukan kaji cepat lanjutan potensi ancaman longsor. Kemudian survei lokasi evakuasi dan pendirian shelter atau tempat pengungsian yang berada di samping Koperasi Susu Brau. Serta akan menggunakan tanah pertanian jagung milik warga seluas 2.700 meter persegi.

Hasilnya sementara waktu BPBD menutup terpal di enam titik tanah rawan longsor agar tidak cepat tergerus air hujan. Kemudian menyiapkan atau memasang lima tenda sementara dari total 11 tenda untuk keluarga. Sisanya yang belum terpasang menyusul.
Dengan prakiraan curah hujan cukup tinggi hingga tiga hari kedepan, BPBD mengimbau agar warga Kota Batu tetap waspada. Terutama warga yang tinggal di daerah perbukitan atau kaki pegunungan.

Selama memasuki musim penghujan sejak Januari 2021 di Kota Batu sudah terjadi puluhan bencana. Total sekitar 40 kejadian bencana yang didominasi tanah longsor. Total kerugian akibat seluruh bencana mencapai Rp 1,6 miliar
Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Kota Batu, Achmad Choirul Rochim menambahkan, pihaknya mencatat 26 kejadian tanah longsor. “Untuk dampak yang ditimbulkan ada beberapa. Mulai dari plengsengan ambrol, rumah rusak, hingga drainase rusak. Secara material seluruh kerugian diperkirakan mencapai Rp 1,6 miliar,” paparnya.

Dari perkiraan kerugian tersebut, pihaknya menghitung butih anggaran Rp 2,9 miliar untuk perbaikan. Anggaran penanganan bencana akan diambilkan dari anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) yang tahun ini dialokasikan Rp 10,8 miliar.

Sebagai upaya antisipasi, BPBD Kota Batu melakukan tindakan kesiapsiagaan dengan menargetkan pemasangan 15 unit early warning system (EWS) pendeteksi tanah longsor.

BPBD Kota Batu tahun ini menganggarkan enam alat EWS. Sekarang telah memiliki empat unit EWS.

“Enam alat tersebut nantinya akan dipasang di desa dan kelurahan yang rawan longsor. Seperti permukiman yang di sekitarnya terdapat daerah lereng,” imbuhnya.

BPBD memetakan beberapa daerah yang rawan longsor seperti di Kecamatan Bumiaji meliputi Desa Sumber Brantas, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo. Selain itu, satu titik berada di Kawasan Payung, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu.

“Alat ini nantinya akan mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi oleh kabel baja ekstensometer. Sehingga ketika ada pergeseran tanah, alarm berbunyi,” ungkapnya. Harga per unit EWS sekitar Rp 110 juta.

Kades Gunungsari, Andi Susilo menambahkan terkait bencana longsor, pihaknya bersama BPDB telah melakukan koordinasi satu pekan sebelumnya. Sebab Dusun Brau jadi salah satu daerah rawan longsor.

“Kekhawatiran longsor cukup tinggi di Brau. Khususnya di RW 10 yang berada di daerah pengunungan. Saat ini untuk mengantisipasi bencana longsor telah ada satu EWS. Kami harap dalam waktu dekat BPBD bisa menambah EWS di daerah rawan longsor lainnya,” harapnya. (eri/van)