Cerita Warga Malang di Tengah Situasi Politik Myanmar, Internet dan Telepon Sempat Mati Tapi Tak Khawatir

Herlisabeth Dewi Kristanti for NMP

NewMalangPos – SITUASI Myanmar belum menentu setelah kudeta militer, Senin (1/2) lalu. Gelombang unjuk rasa masih terjadi di Negeri Seribu Pagoda itu.  Herlisabeth Dewi Kristanti, warga asal Kota Malang merasakan situasi di negara yang dulunya bernama Burma ini.

Herlisabeth Dewi Kristanti bersama keluarganya tingal di Yangon. Herli, sapaan akrab warga Jalan S Supriyadi, Kepuh, Kota Malang ini datang ke Myanmar, tahun 2017 lalu. Ia bersama anak-anaknya dan sang suami yang mendapat tugas di Yangon.

Setelah kudeta militer terjadi situasi jadi beda. Taman kota ditutup. Wisata dilarang, hingga sekolah belum dibuka. Di tengah kondisi politik di negara orang yang tak stabil, Herli bersama suami dan anak-anaknya berusaha tenang. Mereka terus menjalin komunikasi dengan KBRI.  

Herli merasakan situasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Apalagi beberapa hari lalu, komunikasi sempat terputus. Dia sempat merasa was-was.

“Sabtu sama Minggu kemarin tiba-tiba internet dan telepon mati. Tidak bisa akses apa-apa,” ceritanya. Waktu itu MPT (Myanma Posts and Telecommunications), operator seluler Myanmar tak berfungsi. Hanya operator milik Ooredoo yang bisa. “Jadi ya sempat was-was selama dua hari itu,” kata Herli kepada New Malang Pos, Senin (8/2).

Dia sebenarnya mendapat kabar situasi Myanmar melalui media massa. Awalnya terkesan tidak ada tanda-tanda akan terjadi kudeta militer.  “Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan setelah pemilu November lalu. Tapi yang jelas angka Covid-19 tinggi, semua serba terbatas sejak awal. Setelah pemilu aman saja. Biasa saja. Di sini cuma ada bendera-bendera. Tidak pernah lihat seperti kampanye di Indonesia,” jelas Herli yang tinggal bersama suami dan tiga anaknya di Golden City Block 2 Yankin, Myanmar.

Sekarang ia dan Warga Negara Indonesia (WNI) lain merasa lebih tenang. Itu karena pihak KBRI secara proaktif memberikan kabar terkini dan memberikan saran yang tepat.  “Karena sebelumnya KBRI sempat memberikan announcement siaga tiga untuk stay at home. Dari situ rutin memberikan imbauan. Jadi kita bersama teman Indonesia lainnya lebih tenang,” urai alumnus SMPN 6 Kota Malang ini.

Menurut Herli, kondisi terkini sudah lebih kondusif. Hanya saja masih ada beberapa kali demo oleh warga yang turun ke jalanan. Ia tak khawatir terhadap unjuk rasa karena berlangsung tertib.

“Memang ada demo tapi tertib, tidak ada yang berusaha bakar-bakaran,” katanya. “Setiap jam 8 malam terdengar bunyi pukulan panci dan lain-lain yang juga bagian tradisi selain bentuk protes. Di jalanan sering terdengar klakson kendaraan. Itu juga bagian dari protes warga,” sambung anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Menghadapi situasi yang tak stabil, Herli dan keluarganya punya beberapa cara. Selain komunikasi rutin dengan KBRI, juga menjalin komunikasi bersama sesama WNI lain. Sehingga mereka mendapatkan informasi dan saran terbaik.

Diungkapkannya, sekitar 500-an WNI lain di Myanmar saat ini merasa lebih baik. Ia berharap, kondisi politik itu secepatnya kembali berangsur normal.

“Ya kita berusaha tenang saja karena sebenarnya sudah hampir setahun terlatih dengan kondisi serba terbatas. Tidak perlu panik asal tetap patuh dengan KBRI,” ungkap istri dari Djaka Widyantara, Director of Otsuka Myanmar ini.  (ian/van)