BKSDA Kecam Pemburu Lutung

NEW MALANG POS, MALANG – Sosok pemburu mengendap-endap di jalur pendakian Cemorokandang, Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau. Langkahnya senyap. Tangannya memegang senjata api. Larasnya diarahkan ke atas pohon. Dia membidik seekor Lutung Jawa. Satwa itu sedang asyik makan.

Tanpa komando, duar! Si lutung pun terjatuh dari atas pohon. Satwa langka ini sekarat. Sang pemburu pun senang. Dia menghunus parangnya. Langsung saja, sajam itu disabetkan ke Lutung Jawa.

Tewaslah satwa dilindungi ini. Tak habis sampai di situ. Si lutung kemudian dimutilasi. Tubuhnya dikuliti. Dagingnya juga diambil. Lengan dan kakinya dipotong. Lalu, kepalanya ditancapkan di atas pohon mati.

Difotolah satwa itu seperti trofi. Gambar ini terunggah di media sosial. Netizen mengamuk hebat. Kutukan dan makian dilontarkan. BKSDA Jatim dan Perhutani merespon. Kemarin pagi, mereka menyelidiki lokasi.

Tepatnya di Dusun Perinci, Desa Gading Kulon, Dau. Tempat mutilasi lutung itu, ada di kawasan hutan lindung. Luasnya 1116,6 hektar.

“Kami sangat prihatin. Begitu menerima laporan, kami langsung olah TKP. Kami datangi lokasi pembantaian, letaknya di petak 212 KPH,” ujar Hadi Mustofa, Kepala Resort Pemangkuan Hutan Oro-Oro Ombo, kepada wartawan sore kemarin.

Petugas melihat ada kejanggalan di TKP. Yaitu, di jalur pendakian menuju gunung Butak. Sebab, kepala yang viral itu hilang. Yang tersisa hanya tangan Lutung. Serta, bulu-bulu di lokasi. Tidak ditemukan darah yang berceceran. Kemungkinan besar Lutung itu disembelih di tempat lain.

Setelah itu, Lutung dipajang di jalur pendakian. Kondisi tangan Lutung sendiri belum terlalu busuk. Sehingga, diduga Lutung mati sekitar tiga hari terakhir. Tangan ini juga yang dirilis di kantor P-WEC kemarin. Modus ini baru kali pertama terjadi. Kasus pembunuhan Lutung terakhir terjadi 10 tahun lalu.

“Kami masih menyelidiki ini. Karena, biasanya pemburu mengambil semua. Harusnya setelah berburu dia menghilangkan jejak. Tapi ini malah memajangnya di jalur pendakian. Masih kami selidiki,” ujar Mamat Rohimat, Kasi Wilayah 6 BKSDA Jatim.

Profauna mencatat, pembunuhan Lutung adalah untuk dagingnya. Dipercaya, daging Lutung memberi vitalitas. Daging Lutung konon juga ‘tambur’ yang pas untuk pesta minuman keras.

Sekitar 10 tahun lalu, daging Lutung pernah dijual di Pasar Batu. Satu dekade berikutnya, Malang dikejutkan dengan pembunuhan ini.

“Lutung jawa ini termasuk endemik. Adanya di Jawa, Bali dan Lombok. Kondisinya terancam punah. Hidupnya tergantung dengan hutan. Kami sangat mengecam kejadian ini. Kami mendesak petugas berwajib mengungkapnya tuntas,” tutur Rosek Nursahid, Ketua Profauna Indonesia.(fin/agp)