Awasi Bangunan di DAS

new malang pos
ir Rais menjadi kawasan Rawan Longsor di Kota Malang

NewMalangPos, MALANG – Permukiman di daerah aliran sungai (DAS) memang persoalan serius. Salah satunya rawan longsor. Belum lagi Kota Malang memang berada di kawasan yang rawan banjir. Salah satu solusi untuk pembuat kebijakan yakni pengawasan terhadap bangunan baru di sekitar sungai.

Hal ini disampaikan pakar tata ruang Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Dr Ir Agustina Nurul Hidayati MT. Menurut dia, tak dipungkiri salah satu alasan kerawanan longsor terjadi karena banyaknya pemukiman warga berada di sempadan sungai. Hal ini dianggapnya sebagai permasalahan yang pelik.

Selain di kawasan langganan longsor seperti Kotalama ataupun Bunulrejo, kawasan ini menjadi rawan karena jarak permukiman kurang dari 5 meter dari sempadan sungai. Juga terdapat perumahan yang bermunculan mepet aliran sungai.

Menurut Agustina tidak sedikit dari oknum pengembang yang nakal dengan melanggar batas sempadan. Hal itu dinilai sangat berbahaya. Terlebih untuk aliran sungai yang cukup besar dan dalam.

Pemda pun dikatakannya memang kesulitan menangani ini. Meskipun ia menjelaskan seharusnya pemda dapat melakukan tindakan sebelum kejadian bencana longsor.  Seperti meningkatkan pengawasan tidak hanya saat izin akan dikeluarkan tetapi ketika bangunan sudah selesai dibangun.

Lebih lanjut dia menjelaskan posisi Kota Malang yang rawan bencana seperti longsor dan banjir, salah satunya dikarenakan  topografi. Dari tiga daerah di Malang Raya, Kota Malang memiliki kondisi paling rendah.

 “Yang paling tinggi kan Kota Batu. Kota Malang ini seperti berada di cekungan bawah dari tiga daerah. Akhirnya jika hujan, Kota Malang selalu menjadi run-off (daerah yang dilalui air,red) air hujan. Karena semua turun ke bawah kan,” paparnya.

Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah Kota (PWK) ITN Malang ini melanjutkan, bahwa kondisi banjir di Kota Malang memiliki sifat tidak lama. Alias gampang surut. Akan tetapi hal ini kemudian menimbulkan bencana lain seperti longsor.

Pasalnya kekuatan tanah, apalagi yang kondisi tanahnya sudah banyak terdapat permukiman, tidak akan kuat menahan beban. Baik beban air yang masuk maupun beban permukiman di atasnya. Maka, meskipun air yang menggenang di Kota Malang sebentar hal ini tidak menekan kejadian longsor berkurang. Persoalan lain yakni beralih fungsi ruang terbuka hijau (RTH). 

Ia megakui kemampuan pemda masih terbatas untuk memberikan solusi bagi pemukiman di kawasan DAS. Karena memindahkan warga tidaklah  mudah. Maka yang dapat dilakukan yakni menambah sumur resapan.

Sumur resapan pun dikatakannya mudah dibuat di lahan yang sempit sekalipun. Karena tidak membutuhkan diameter yang luas. Maka di mulai dari lingkup perumahan hingga pemukiman padat bisa membuatnya.

Hal ini ternyata sudah ditanggapi Pemkot Malang. Penanganan banjir dan longsor dengan memperbanyak sumur resapan sudah ditindaklanjuti. Yakni dengan terbitnya Surat Edaran (SE) Wali Kota Malang No 2 Tahun 2021. SE tersebut tentang Pelaksanaan Penyediaan dan Pemanfaatan Sumur Resapan/Biopori pada Gedung di Seluruh Wilayah Kota Malang.

SE yang baru ditebitkan Jumat (22/1) lalu itu dilatarbelakangi upaya untuk mengurangi risiko terjadinya banjir dan longsor akibat curah hujan tinggi. (ica/van)