Petugas kesehatan mensimulasikan penyuntikan vaksin Covid-19 kepada tenaga kesehatan penerima vaksin di ruang imunisasi RS Baptis Kota Batu.

Alokasi Waktunya Disimulasi di Batu

Rencana Vaksinasi Perdana Ditunda 

NewMalangPos – Proses vaksinasi Covid-19 butuh waktu 40-45 menit per orang. Namun tak semua warga bisa mendapat vaksin kecuali yang diundang via SMS atau undangan resmi pemda. Di sisi lain, rencana pemberian vaksin secara simbolis pekan ini ditunda. 

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Batu, dr Susan Indahwati menjelaskan pihaknya sudah melakukan simulasi pemberian vaksin di RS Baptis Kota Batu, Rabu (13/1) kemarin. Dari hasil simulasi itulah diketahui waktu yang dibutuhkan untuk proses vaksinasi. 

“Secara teknis ada empat meja untuk dilakukan skrining terlebih dahulu,” kata Susan.  Meja pertama orang yang mendapat SMS sebagai tiket menunjukkan ke fasilitator. Kemudian dilihat apakah benar-benar terdata dalam sasaran atau penerima vaksinasi atau tidak. Lalu dilanjut meja kedua dua untuk screening. Di situ akan dilihat kondisi kesehatannya apakah bisa dilakukan vaksinasi atau tidak. “Apakah punya komorbid atau penyakit penyerta atau tidak,” katanya.  Setelah dari meja dua kemudian diarahkan ke meja tiga untuk vaksinasi. Setelah dari meja tiga, masyarakat yang sudah divaksinasi akan diarahkan ke meja empat guna monitoring dan observasi selama 30 menit. Hal itu untuk melihat apakah timbul efek samping atau tidak.

“Untuk satu kali pelayanan kurang lebih akan membutuhkan 40 sampai 45 menit. Masing-masing faskes memiliki jam pelayanan tersendiri mengacu dari SMS yang didapat.

Sementara Dinkes Kota Batu pastikan vaksinasi Covid-19 mudur pada Februari. Hal itu mengacu dari surat edaran bernomor SR.02.06/ll/80/2021 tentang distribusi vaksin dan rencana pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang dikeluarkan Kemenkes.

Susan mengatakan khusus Kota Batu masuk dalam tahap pertama termin kedua. Diketahui tahap pertama termin pertama dilakukan bulan Januari. Sedang termin kedua masuk bulan Februari.

“Untuk vaksin sesuai SE Kemenkes Kota Batu dilakukan mulai Februari. Nantinya untuk Kota Batu mendapat jatah 1.680 vaksin,” ujar Susan kepada New Malang Pos Rabu (13/1) kemarin.

Rincian nakes yang akan mendapatkan sebanyak 1.662 orang dan 10 pejabat publik esensial. Dari jumlah sebelumnya yang diusulkan kepada KPC PEN sebanyak 2023 orang. Nantinya dari total vaksin yang didapat akan dilakukan untuk dua kali vaksin. Kemudian dilakukan vaksin kedua kalinya setelah 14 hari. Vaksinasi dilakukan di sembilan faskes yang ada di Kota Batu.

Sementara itu Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang, Dina Diana Permata mengatakan data penerima vaksin Covid-19 akan terintegrasi dari bawah ke atas. Data tersebut bakal masuk dalam aplikasi bernama P-Care (Primary Care) Vaksin yang diinisiasi BPJS Kesehatan.

Diungkapnya aplikasi itu digunakan untuk pencatatan. Meliputi pencatatan pendaftaran, skrining, hingga pada penerbitan kartu vaksinnya. “Aplikasi ini diimplementasikan pada fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk sebagai vaksinator oleh Dinkes. Aplikasi ini berbasis web yang akan diakses oleh fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk Dinkes,” jelas Dina. 

Ia menerangkan tidak semua orang bisa mengakses data tersebut. Karena dalam aplikasi ini akan diberikan data peserta vaksinasi. Kemudian di masing-masing faskes mendapatkan jumlah peserta vaksinasi yang berbeda-beda. Sehingga, user password aplikasi ini diberikan kepada faskes yang telah ditunjuk melalui SK Kepala Dinkes.

“Untuk Kota Batu ada sembilan faskes yang sudah ditunjuk oleh Dinkes. Meliputi lima puskesmas dan empat rumah sakit. Salah satunya di RS Baptis yang saat ini digelar vaksinasi,” bebernya.

Sesuai tahapan yang ditetapkan pemerintah, vaksinasi tahap pertama ditujukan kepada nakes, pejabat pemerintah dan petugas pelayanan publik. Selain itu masyarakat tergolong rentan dari segi sosial, ekonomi, geospasial. Baru kemudian masyarkat umum.

Target sasaran ada indikatornya. KPC PEN akan menyaring daftar peserta. Sifatnya data ini top down, akan mendistribusikan ke masing-masing faskes.  “Jadi betul-betul tersaring, seperti segi usia. Usia 18-59 tahun, tidak boleh lebih 60 tahun. Nah untuk filter tersebut sudah masuk dalam data-data dari berbagai sumber akan disaring KPC PEN,” terangnya.

Sejumlah organisasi di Kota Malang yang tokohnya masuk nominasi penerima Vaksin Covid-19 belum terima pemberitahuan resmi Pemkot Malang. Belum ada kabar pemberian vaksin perdana. Berbeda dengan Kota Batu sudah melakukan simulasi vaksinasi Covid-19.

Ketua PD Muhammadiyah Kota Malang Abdul Haris  mengaku belum mendapat surat permintaan perwakilan penerima vaksin. “Belum. Kita tunggu saja,” ujar Haris kepada New Malang Pos.

Saat ditanya mengenai siap tidaknya menjadi salah satu dari 10 orang pertama di Kota Malang yang menerima Vaksin Covid-19, Haris enggan membeberkan secara tegas. Ia mengatakan akan menunggu dan melihat kondisi mengenai vaksin tersebut.

Begitu juga dengan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Malang Raya dr Djoko Heri. Pihaknya siap menerima vaksin jika diminta.  “Kami pada prinsipnya siap. Karena semua dokter siap,” tegasnya. Namun hingga kemarin Djoko mengatakan belum menerima surat permohonan resmi untuk menjadi penerima Vaksin Covid-19.

Pemkot Malang sebelumnya menjadwalkan pemberian Vaksin Covid-19 secara simbolis untuk 10 tokoh  antara 14-15 Januari. Wali Kota Malang Sutiaji memastikan sudat mengirim surat ke berbagai organisasi dan lembaga. 

“Sudah kita kirim suratnya. Ada FKUB, lalu lembaga agama seperti NU dan Muhammadiyah juga. Kami masih menunggu siapanya yang nanti mewakili,” tegas Sutiaji saat ditemui di Balai Kota Malang, Rabu (13/1) kemarin. Tidak hanya tokoh agama, organisasi medis juga telah disurati. Salah satunya IDI. 

Sementara itu, Plt Kepala Dinkes Kota Malang Sri Winarni mengaku Pemkot Malang baru mendapatkan kepastian jadwal distribusi vaksin per daerah. Sesuai jadwal terbaru, giliran Kota Malang pada Februari mendatang. 

Sri Winarni menjelaskan, sesuai jadwal terbaru pelaksanaannya sesuai yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Distribusi ke daerah-daerah menggunakan sistem termin (ber tahap). Kota Malang tercatat sebagai kota penerima distribusi vaksin tahap pertama termin dua di Provinsi Jatim.

Ia kembali menjelaskan, di tahap awal Kota Malang mendapat jatah sejumlah 12.900 vaksin. Di tahap awal jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang divaksin sebanyak 6.450 orang. Ia mengatakan jumlah nakes Kota Malang yang datanya sudah disetor sebanyak 12.897 orang. Hingga saat ini data nakes terus di-update untuk diverifikasi pemerintah pusat.

Lebih jauh, terkait dengan tempat pelaksanaan vaksinasi Covid-19, Dinkes Kota Malang mencatat telah disiapkan di 76 Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes), termasuk vaksinator atau petugas vaksinasi.

“Yang sudah diinput itu ada 76 fasyankes. Kalau di Kota Malang di 16 puskesmas disiapkan masing-masing dua vaksinator,” terangnya.

Di Kabupaten Malang para vaksinator dijadwalkan mengikuti pelatihan pada 17-20 Januari. Pelatihan secara daring atau virtual. Kegiatan ini  bekerjasama dengan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan di Semarang.

Selain vaksinasi secara khusus, vaksinator juga akan dibekali dengan pelatihan penanggulangan efek samping dan tim observasi untuk memastikan keamanan. Vaksinator diambil dari setiap faskes. Terdapat 59 fakses yang disiapkan di wilayah Kabupaten Malang. (ica/eri/dj6/van)