Bencana Angin Makin Kencang

Intensitas Meningkat dalam Lima Tahun Terakhir

MALANG POSCO MEDIA- Makin bijaklah perlakukan lingkungan. Juga harus kian arif beradaptasi. Bencana hidrometeorologi terus mengancam. Salah satu contohnya angin kencang di wilayah Kabupaten Malang. (baca gafis di Koran Malang Posco Media)

Fenomena bencana akibat terjangan angin kencang di sejumlah wilayah Kabupaten Malang makin meningkat. Setidaknya dalam lima tahun terakhir.  

Bahkan di awal tahun ini beberapa kawasan dihantam angin kencang.

Di awal tahun 2022 ini, tercatat beberapa kejadian bencana angin kencang. Di antaranya angin kencang menghantam tiga desa di Kecamatan Singosari, Senin (17/1). Lalu Senin (31/1) di Desa Banjararum Kecamatan Singosari  Bersamaan terjadi di Desa Saptorenggo Kecamatan Pakis.  Februari, tepatnya Jumat (4/2)  angin kencang merusak rumah warga akibat pohon tumbang hingga melukai seorang bayi tiga bulan. Secara keseluruhan terdapat puluhan bangunan rusak dalam sebulan terakhir akibat angin kencang.

Selama ini terdapat enam kecamatan yang mengalami peningkatan bencana angin kencang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat sejumlah kawasan yang menjadi lokasi rawan bencana hidrometeorologi, terkhusus angin kencang.

Bencana angin kencang dipengaruhi beberapa faktor. Baik fenomena La Nina, monsoon, maupun kerusakan fungsi hutan yang menyumbang perubahan iklim.

“Sejumlah titik rawan berdasarkan perkembangan saat ini, terletak di sedikitnya enam kecamatan. Yakni Karangploso, Singosari, Pakis, Jabung, Tumpang dan Poncokusumo,” ujar Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang Yulius Dharmawan.

Ia mengatakan dari sejumlah lokasi rawan yang tersebar terdapat beberapa titik baru muncul. Padahal sebelumnya tidak tergolong daerah rawan atau tidak pernah terjadi. Kini mulai terjadi bencana angin kencang. Salah satu contohnya Kepanjen.

Baca Juga :  Lahan Tebu di Bedali Terbakar

“Dulu sempat dipetakan di titik lain seperti Langlang Singosari, ternyata tidak terjadi sekarang,” katanya. Hal ini dipengaruhi perubahan iklim. Salah satunya fenomena La Nina terjadi dua kali di awal dan akhir tahun 2021.

Pria yang akrab disapa Yudha itu membeberkan dari data sejak tahun 2017 bencana angin kencang mengalami peningkatan. Tahun 2017 mencatatkan 29 kejadian, tahun 2021 tercatat  59 kali bencana angin kencang.

Bencana angin kencang berimbas pada kerusakan pemukiman warga, fasilitasi umum dan infrastruktur. Juga berdampak pada bencana hidrometeorologi lain yakni pohon tumbang yang membahayakan. Belum lagi menimbulkan kerugian material yang tidak sepele.

“Secara umum memang ada perubahan iklim. Saat ini tidak pada periodisasi biasa namun cenderung ada perubahan cuaca terus menerus dan iklim cenderung basah,” terang Yudha.

Pihaknya meminta masyarakat agar tetap waspada. Hal itu juga diikuti dengan kondisi geografis Kabupaten Malang sebagai daerah dengan potensi bencana terlengkap di Jawa Timur.

“Masih perlu waspada, karena Februari ini bisa dibilang puncaknya musim penghujan. Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat agar lebih waspada,” tambahnya.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca ekstrem yang terjadi disebabkan badai La Nina yang akan terjadi pada tahun 2021 hingga 2022. Serta adanya monsoon atau disebut sebagai angin baratan.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Linda Fitrotul menyampaikan saat ini musim penghujan memang masih diprediksi terjadi dengan intensitas tinggi. Termasuk potensi terjadinya hujan es seperti beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Ada Kafe di Jalan Besar Ijen, Satpol Klarifikasi Pemilik

“Monsoon sebagai faktor utama yang menjadi penyebab musim penghujan sehingga perlu diwaspadai. Potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, hujan es, angin kencang, petir sangat tinggi,” jelas Linda.

BMKG berupaya merilis perkiraan tiga harian untuk dipedomani masyarakat agar waspada potensi hujan lebat, angin kencang maupun banjir. 

Ia menerangkan beberapa faktor penyebab secara umum perubahan iklim menjadi hal yang perlu diperhatikan. Termasuk menjadi penyumbang ketidakstabilan perubahan cuaca.

“Secara umum faktor penyebab perubahan iklim yaitu efek gas rumah kaca, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, kerusakan fungsi hutan, penggunaan Cloro Flour Carbon (CFC) yang tidak terkontrol, dan gas buang industri,” rincinya.

Linda membeberkan ada beberapa kemungkinan dampaknya pada lingkungan. Di antaranya yakni pergeseran musim dan intensitas curah hujan meningkat, serta bencana hidrometeorologi lain semisal kebakaran hutan akibat emisi karbon.

“Naiknya muka air laut juga bisa terjadi karena di sisi lain es pegunungan seperti Jaya Wijaya mencair. Fakta yang dirilis World Meteorological Organization (WMO), suhu tahun 2020 menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat meski terjadi La Nina,” bebernya.

Selain itu temperatur rata-rata global permukaan bumi saat ini sudah mencapai 1,2 derajat celcius. 

Pakar bencana Universitas Brawijaya (UB) Prof Sukir Maryanto, S.Si, M.Si, Ph.D mengatakan untuk mengantisipasi kebencanaan yang pertama harus dari kesadaran individual. “Harus dimulai dari peningkatan pendidikan masyarakat terkait kebencanaan. Itu yang penting,” katanya.

Baca Juga :  Komitmen Akan Konservasi Penyu, Bupati Ajak Semua Pihak Untuk Saling Suport

Peran pemerintah, lembahga swasta hingga pendidikan juga sangat penting.

Secara umum  antisipasi dirancang mulai dari pra bencana, waktu bencana, dan pascabencana. Salah satunya bisa dikemas dalam pendidikan bencana. Menurut Sukir, kesadaran masyarakat terhadap pendidikan bencana masih kurang. Ia mengingatkan  agar jangan menunggu bencana baru  melakukan inovasi.

Sejatinya karakter setiap bencana berbeda. Penanganan dan solusinya pun berbeda. Misalnya angin kencang atau  puting beliung bisa  mengakibatkan bangunan roboh. Apalagi disertai hujan. Beberapa antisipasi umum yang dapat dilakukan masyarakat  seperti masuk dalam rumah, menutupi jendela, mematikan listrik dan menjauhi dari tempat yang rentan ambruk.

Bedasarkan pengalaman Sukir selama di Jepang. Setiap tahunnya Jepang memiliki kemungkinan terjadi angin topan sebanyak 30 kali. Namun dapat di deteksi pemerintah melalui otoritas yang berwenang. Sehingga ketika ada angin topan, penduduk berkumpul di satu titik yang sudah ditentukan.

Sukir menyarankan pemerintah dan masyarakat saling bekerja sama memodifikasi suatu tempat menjadi multifungsi. Misalnya menentukan titik kumpul  pada saat angin kencang. 

Saat ini da beberapa inovas yang sedang dilakukan UB. Salah satu contohnya program MBKM Semeru yang dilaksanakan di Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang.

Program tersebut yakni town watching and school watching. Tujuannya memberikan edukasi m kepada masyarakat tentang cara mengantisipasi bencana secara umum.  

Rencananya town watching dan school watching akan dikombinasikan menjadi sebuah inovasi mendatang.  Town school merupakan metode yang melibatkan masyarakat untuk mensurvei daerahnya sendiri serta mengetahui potensi bencana yang akan terjadi. (tyo/mda/van)

artikel Pilihan